jet tempur CAC/PAC JF-17 Thunder yang dikembangkan bersama oleh China dan Pakistan. | EURASIAN TIMES


Amerika Serikat dilaporkan menekan Arab Saudi agar menghentikan rencana pembelian jet tempur dari Pakistan dan Turki, di tengah kekhawatiran Washington terhadap dampaknya pada ekspor pesawat tempur generasi kelima F-35 Lightning II. Tekanan ini muncul saat Riyadh menjajaki akuisisi jet JF-17C Block III Thunder dari Pakistan dalam kesepakatan bernilai hingga US$4 miliar.

Laporan sejumlah media pertahanan menyebut negosiasi awal antara Arab Saudi dan Pakistan mencakup konversi pinjaman Saudi sebesar US$2 miliar menjadi pembelian jet tempur ringan tersebut. Namun pembicaraan itu kini dilaporkan terhambat setelah intervensi diplomatik dari Washington.

Rencana pembelian JF-17 merupakan bagian dari pembicaraan pertahanan bilateral yang lebih luas antara Arab Saudi dan Pakistan sejak September 2025. Dalam kerangka tersebut, Turki juga disebut berada pada tahap lanjut untuk bergabung dalam pakta pertahanan trilateral.

JF-17C Block III adalah varian terbaru dari jet tempur ringan hasil kerja sama Pakistan dan China. Pesawat ini dilengkapi radar active electronically scanned array (AESA), kemampuan beyond visual range (BVR), serta integrasi rudal jarak jauh PL-15 buatan China.

Secara teknis, pesawat ini memiliki panjang 14,93 meter dan rentang sayap 9,48 meter. Berat lepas landas maksimumnya mencapai 13.494 kg dengan tujuh titik gantung senjata dan kapasitas muatan hingga 3,7 ton. Mesin turbofan Klimov RD-93 buatan Rusia menghasilkan dorong maksimum 85,3 kN dengan afterburner, memungkinkan kecepatan hingga Mach 1,6.

Bagi Riyadh, opsi ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperluas sumber alutsista. Arab Saudi saat ini mengoperasikan armada F-15 buatan AS dan Eurofighter Typhoon dari konsorsium Eropa.

Kekhawatiran Washington

Diplomat AS disebut meminta kejelasan atas kontak militer Arab Saudi dengan negara lain, termasuk Turki dan Pakistan. Washington mendorong agar anggaran pertahanan Riyadh difokuskan pada pembelian F-35, bukan pada jet JF-17 atau proyek jet tempur Turki, KAAN.

Presiden Donald Trump sebelumnya mengonfirmasi rencana penjualan hingga 48 unit F-35 kepada Arab Saudi. Namun pejabat AS khawatir kerja sama Riyadh dengan mitra non-Barat dapat memicu risiko interoperabilitas serta potensi kebocoran teknologi sensitif.

“Dana sebaiknya dialokasikan untuk F-35,” kata seorang diplomat AS kepada Associated Press, merujuk pada pentingnya menjaga dominasi ekspor senjata AS di Timur Tengah.

Washington dilaporkan telah memperoleh jaminan dari Riyadh untuk meninjau ulang rencana pembelian JF-17. Hingga Februari 2026, negosiasi dengan Pakistan disebut terhenti.

Persaingan industri alutsista

Perkembangan ini menyoroti persaingan yang semakin ketat di industri pertahanan global. Pakistan dan Turki dalam beberapa tahun terakhir berupaya memperluas pasar ekspor alutsista mereka, termasuk ke Timur Tengah dan Afrika.

Potensi pakta pertahanan antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki dipandang sejumlah analis sebagai langkah yang dapat membentuk konfigurasi keamanan baru di kawasan. Di sisi lain, AS tetap menjadi pemasok senjata utama bagi Riyadh selama beberapa dekade terakhir.

Kontak militer Arab Saudi dengan berbagai mitra mencerminkan upaya kerajaan itu untuk memiliki opsi pertahanan yang lebih fleksibel, di tengah dinamika hubungan dengan AS dan perubahan lanskap keamanan regional.