Kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78), yang merupakan kapal induk terbesar di dunia, dilaporkan telah melintasi Selat Gibraltar pada pertengahan Februari 2026 dalam perjalanannya menuju Timur Tengah. | PAIGE BROWN/U.S. NAVY


Amerika Serikat mengirim kapal induk terbesar di dunia ke Timur Tengah di tengah kemajuan tentatif perundingan nuklir tidak langsung dengan Iran di Jenewa. Pengerahan ini menciptakan kehadiran dua kapal induk AS secara bersamaan di kawasan tersebut untuk pertama kalinya dalam hampir setahun.

Kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald R. Ford meninggalkan Karibia dan melintasi Atlantik sebelum melewati Selat Gibraltar pada Senin. Kapal itu kini dikawal tiga kapal perusak rudal kendali USS Mahan, USS Bainbridge, dan USS Winston Churchill.menuju Teluk Persia.

Para analis memperkirakan gugus tugas tersebut akan mencapai perairan dekat Iran sekitar 20 Februari. Kehadirannya akan bergabung dengan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah beroperasi di Laut Arab sejak akhir Januari, di wilayah tanggung jawab Komando Sentral AS.

The New York Times pertama kali melaporkan perintah pengerahan ulang pada 12 Februari.

Selain dua kelompok kapal induk, AS juga mengerahkan lebih dari 50 jet tempur termasuk F-22, F-35, dan F-16 ke kawasan tersebut dalam 24 jam terakhir, menurut seorang pejabat AS kepada Axios. Penguatan itu mencakup pesawat pengisian bahan bakar udara dan pesawat pengintai. Presiden Donald Trump menyebut pengerahan itu sebagai “armada”.

Awak USS Gerald R. Ford diberi tahu tentang misi baru pada 12 Februari. Kapal tersebut awalnya dijadwalkan kembali ke pangkalan di Norfolk, Virginia, pada awal Maret setelah berlayar sejak Juni 2025. Dengan perpanjangan ini, masa tugasnya berpotensi mencapai hampir 10 bulan dan baru kembali pada akhir April atau awal Mei.

Diplomasi di Jenewa

Pengerahan militer berlangsung bersamaan dengan putaran kedua pembicaraan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran yang digelar Selasa di Jenewa, di Kedutaan Besar Oman.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kedua pihak mencapai “kesepakatan umum mengenai sejumlah prinsip-prinsip panduan” untuk perundingan selanjutnya.

“Ini bukan berarti bahwa kesepakatan final akan tercapai dengan cepat, tetapi setidaknya perjalanannya telah dimulai,” ujarnya kepada televisi pemerintah Iran.

Di Washington, Wakil Presiden JD Vance menyampaikan nada lebih berhati-hati. Ia mengatakan kepada Fox News bahwa masih ada hambatan signifikan. 

“Presiden telah menetapkan beberapa garis merah yang belum bersedia diakui dan diselesaikan oleh pihak Iran,” katanya, seraya menambahkan Teheran akan kembali dalam dua minggu dengan proposal terperinci.

Peringatan dari Teheran

Di Teheran, pengerahan tambahan pasukan AS memicu respons keras. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, mengisyaratkan bahwa rudal Iran mampu mengirim kapal perang AS “ke dasar laut”. Media pemerintah Iran juga merilis gambar yang dihasilkan AI yang menggambarkan tenggelamnya USS Gerald R. Ford.

Iran sebelumnya menggelar latihan angkatan laut di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global. Teheran berulang kali menyatakan dapat mengganggu lalu lintas energi internasional jika terdesak.

Perundingan kali ini berlangsung beberapa bulan setelah Operasi Midnight Hammer pada Juni lalu, ketika pasukan AS menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Presiden Trump sebelumnya memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan baru dapat berujung pada serangan “jauh lebih buruk” dibanding operasi tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, mengatakan kepada BBC akhir pekan lalu, “Bola ada di tangan Amerika.” Ia menambahkan, “Jika kami melihat kesungguhan dari pihak mereka, saya yakin bahwa kita akan berada di jalan menuju tercapainya kesepakatan”.