kapal tanker Liquefied Natural Gas (LNG) yang sedang bersandar di dermaga. | KEN HODGE, CC BY-SA 2.0/WIKIMEDIA COMMONS


Setahun setelah Beijing mengenakan tarif 15% terhadap gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Amerika Serikat, tidak ada satu pun kargo LNG AS yang tiba di pelabuhan China sejak Februari 2025. Namun, perusahaan energi China tetap terikat kontrak jangka panjang bernilai miliaran dolar dengan produsen AS dan kargo itu kini banyak berakhir di Eropa.

Data Reuters menunjukkan China terakhir mengimpor LNG dari AS pada Februari 2025. Tak lama sebelumnya, Presiden Donald Trump memberlakukan tarif 10% terhadap barang impor dari China pada 10 Februari 2025. Beijing membalas dengan tarif 15% untuk LNG AS.

Ketegangan dagang kedua negara kemudian meningkat sebelum akhirnya mencapai jeda dalam pertemuan puncak Trump–Xi di Busan, Korea Selatan, pada Oktober 2025. Dalam pertemuan itu, tarif timbal balik yang lebih tinggi disepakati untuk ditangguhkan hingga November 2026.

Meski impor fisik terhenti, perusahaan-perusahaan China tetap membeli LNG AS berdasarkan kontrak jangka panjang. Menurut Columbia University Center on Global Energy Policy, sejumlah perusahaan China termasuk PetroChina, CNOOC, dan Unipec telah menandatangani hampir 20 perjanjian pasokan dengan produsen AS seperti Cheniere Energy, Venture Global, dan NextDecade.

Total volume kontrak tersebut mencapai sekitar 25 juta metrik ton per tahun.

Data perusahaan analitik Kpler mencatat lima pembeli terbesar LNG AS dari China mulai dari PetroChina, ENN Natural Gas, CNOOC, Sinochem, dan Sinopec menyewa 3,3 juta metrik ton dari terminal AS antara Februari 2025 hingga Januari 2026. Namun sebagian besar kargo itu tidak dikirim ke China.

Kontrak LNG AS umumnya menggunakan skema free-on-board, yang memberi pembeli fleksibilitas tujuan pengiriman. Artinya, LNG dapat dijual kembali ke pasar lain tanpa pembatasan destinasi.

Eropa jadi tujuan utama

Eropa muncul sebagai penerima utama aliran ulang LNG tersebut. Impor LNG kawasan itu mencapai tingkat musiman tertinggi.

Menurut data Kpler yang dikutip Reuters, AS memasok 60% kebutuhan LNG Uni Eropa pada Januari 2026, naik dari 53% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Volume impor bulan itu mencapai 5,36 juta metrik ton—terbesar kedua yang pernah tercatat.

Alex Siow, analis di ICIS, mengatakan para importir China kini cenderung sepenuhnya memanfaatkan opsi penjualan ulang. 

"Para importir akan berhenti bereksperimen dan sepenuhnya berkomitmen untuk menjual kembali LNG AS," ujarnya. "Kesenjangan tarif tidak memberi mereka pilihan lain."

Permintaan domestik melemah

Secara keseluruhan, impor LNG China turun 14% pada 2025 menjadi 67 juta metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi perlambatan aktivitas industri, pertumbuhan energi terbarukan, peningkatan produksi gas domestik, serta kenaikan impor gas pipa dari Rusia.

Institute for Energy Economics and Financial Analysis menilai pergeseran ini membawa implikasi baru bagi Eropa. Lembaga itu memperingatkan kawasan tersebut berisiko mengganti satu ketergantungan dengan ketergantungan lainnya saat berupaya mengurangi ketergantungan energi dari Rusia.

Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, menyebut situasi tersebut sebagai "peringatan keras" terkait keamanan energi.