Presiden Donald J. Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi berjabat tangan secara resmi di Hyderabad House, Selasa, 25 Februari 2020, di New Delhi, India. | White House/Andrea Hanks


Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa AS dan India mencapai kesepakatan perdagangan baru menyusul percakapan telepon dengan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Senin (2/2/2026). Dalam kesepakatan itu, tarif resiprokal atas produk India diturunkan dari 25% menjadi 18%, disertai komitmen New Delhi untuk menghentikan pembelian minyak Rusia dan meningkatkan pembelian produk AS senilai lebih dari US$500 miliar.

Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui akun Truth Social seusai berbicara langsung dengan Modi dari Washington. Kesepakatan ini muncul setelah hubungan dagang kedua negara mengalami tekanan selama setahun terakhir akibat kebijakan tarif tinggi yang diterapkan AS terhadap ekspor India.

Trump menyebut Modi sebagai “salah satu sahabat terbaikku” dan “pemimpin yang kuat dan dihormati di negaranya.” 

Dalam unggahannya, Trump menulis, “Kami membicarakan banyak hal, termasuk perdagangan, dan mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina. Dia setuju untuk berhenti membeli minyak Rusia, dan membeli lebih banyak dari Amerika Serikat dan, kemungkinan juga, Venezuela.”

Dalam kesepakatan tersebut, India juga disebut berkomitmen meningkatkan pembelian produk energi, teknologi, pertanian, dan berbagai barang lain dari AS. Trump menyatakan Modi berjanji untuk “BELI PRODUK AMERIKA” pada tingkat yang lebih tinggi serta mendorong pengurangan tarif dan hambatan non-tarif India terhadap AS hingga “menjadi NOL.”

Trump membingkai perubahan kebijakan energi India sebagai bagian dari agenda geopolitik yang lebih luas. Ia menilai langkah menghentikan impor minyak mentah Rusia akan membantu upaya internasional mengakhiri perang di Ukraina. 

“Keputusan ini akan membantu MENGAKHIRI PERANG di Ukraina,” tulis Trump.

Pengumuman itu muncul tak lama setelah Duta Besar AS untuk India, Sergio Gor, mengunggah foto Trump dan Modi di media sosial. 

“Presiden Trump baru saja berbicara dengan Perdana Menteri Modi. NANTIKAN KABAR SELANJUTNYA,” tulis Gor, memberi sinyal adanya perkembangan besar dalam hubungan bilateral.

Percakapan telepon Trump–Modi berlangsung bersamaan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar ke Washington untuk agenda tiga hari. Kunjungan tersebut berfokus pada pertemuan Critical Minerals Ministerial yang digelar oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Kehadiran Jaishankar dipantau secara ketat karena dinilai menjadi indikator pencairan hubungan setelah berbulan-bulan mengalami friksi tajam terkait perdagangan.

Sebelumnya, pada Agustus 2025, Trump memberlakukan tarif hingga 50% terhadap barang-barang India, termasuk tarif hukuman tambahan 25% yang secara khusus menargetkan pembelian minyak mentah Rusia oleh New Delhi. Tarif tersebut menjadi salah satu yang tertinggi yang diterapkan AS terhadap mitra dagangnya.

India, yang menjadi salah satu pembeli utama minyak Rusia dengan harga diskon setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, sempat menolak tekanan Washington untuk mengurangi impor tersebut. Pemerintah India kala itu menyebut kebijakan tarif AS tidak adil dan menegaskan prioritasnya adalah mengamankan kepentingan 1,4 miliar penduduknya.

Meski begitu, dalam beberapa bulan terakhir, kilang minyak India mulai menurunkan pembelian minyak Rusia seiring meningkatnya sanksi Barat. Reliance Industries, importir minyak Rusia terbesar di India, menghentikan impor pada November 2025 untuk mematuhi pembatasan Uni Eropa. Data perdagangan menunjukkan impor minyak Rusia ke India turun ke level terendah dalam dua tahun pada Desember 2025.

Kesepakatan dengan AS ini juga datang hanya beberapa hari setelah India merampungkan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Pakta tersebut disebut Modi dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen sebagai “induk dari semua kesepakatan” dan merupakan hasil negosiasi hampir dua dekade. Perjanjian itu dinilai memperkuat posisi India di tengah tekanan tarif dari AS.