Ilustrasi silo ICBM Titan II di Titan Missile Museum Arizona, Amerika Serikat. | WIKIMEDIA COMMONS/STEVE JURVETSON


Tiongkok menolak ajakan bergabung dalam negosiasi pengendalian senjata nuklir trilateral bersama Amerika Serikat dan Rusia, hanya beberapa hari sebelum perjanjian nuklir terakhir kedua negara itu berakhir pada 5 Februari.

Penolakan disampaikan Selasa di Beijing oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian sebagai respons atas rencana Presiden Donald Trump memasukkan Tiongkok dalam kesepakatan pengganti New Strategic Arms Reduction Treaty (New START).

Lin menyatakan kemampuan nuklir negaranya tidak sebanding dengan Washington maupun Moskwa sehingga tidak relevan untuk dilibatkan pada tahap ini.

“Kekuatan nuklir Tiongkok sama sekali tidak berada di tingkat yang sama dengan AS,” katanya. Ia menambahkan, “tidak adil dan tidak masuk akal untuk meminta Tiongkok bergabung dalam negosiasi pelucutan senjata nuklir pada tahap ini.”

New START akan berakhir pada 5 Februari, mengakhiri lebih dari lima dekade pembatasan hukum atas persenjataan nuklir AS dan Rusia. Perjanjian yang ditandatangani Barack Obama dan Dmitry Medvedev pada 2010 itu membatasi masing-masing pihak pada 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan serta 700 peluncur, termasuk rudal balistik antarbenua, rudal kapal selam, dan pembom berat.

Menjelang tenggat waktu, Kremlin mengingatkan meningkatnya risiko keamanan global tanpa mekanisme pengawasan. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan dunia akan menghadapi situasi lebih berbahaya karena tidak ada lagi dokumen dasar yang membatasi senjata nuklir kedua negara.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada September 2025 mengusulkan kedua negara tetap mematuhi batasan perjanjian secara sukarela selama satu tahun. Hingga kini pemerintahan Trump belum memberikan tanggapan resmi. Wakil Menteri Luar Negeri Sergey Ryabkov menyebut Moskwa tidak akan kembali mengajukan permintaan tambahan.

Meski menolak negosiasi trilateral, Beijing mendorong Washington membuka dialog dengan Moskwa. Lin mengatakan pemerintahnya mencatat usulan Rusia dan berharap AS merespons secara aktif untuk menjaga stabilitas strategis global.

Data Stockholm International Peace Research Institute menunjukkan Rusia memiliki sekitar 5.459 hulu ledak nuklir dan AS 5.177 — sekitar 90 persen dari total dunia. Arsenal Tiongkok jauh lebih kecil meski terus bertambah.

Trump pada Januari memberi sinyal siap membiarkan perjanjian berakhir bila tidak melibatkan Tiongkok. Kepada The New York Times ia mengatakan bahwa jika perjanjian berakhir maka akan berakhir begitu saja.

Perjanjian tersebut tidak dapat diperpanjang lagi karena opsi perpanjangan lima tahun telah digunakan pada 2021. Hingga kini belum ada negosiasi pengganti yang berjalan, sementara isu pengendalian senjata akan kembali dibahas dalam Konferensi Peninjauan Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons di New York pada April.