Pada Kamis, 5 Februari 2026, sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam lima dekade terakhir akan menjadi kenyataan. Untuk pertama kalinya sejak era Perang Dingin, tidak ada satu pun perjanjian yang membatasi senjata nuklir Amerika Serikat dan Rusia—dua negara yang menguasai lebih dari 90% arsenal nuklir dunia.
Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START), satu-satunya rem hukum yang tersisa dalam perlombaan senjata strategis, akan berakhir tanpa perpanjangan dan tanpa pengganti.
Sebelumnya, Bulletin of the Atomic Scientists mengumumkan keputusan yang belum pernah terjadi. Mereka memajukan Doomsday Clock menjadi 85 detik menuju tengah malam—jarak terdekat yang pernah dicapai menuju simbol kehancuran global sejak jam simbolis itu diciptakan pada 1947.
Dua peristiwa ini saling terkait. Keduanya menunjukkan kegagalan yang sama dari negara-negara adidaya untuk menempatkan kepentingan kelangsungan hidup manusia di atas ego politik dan strategi domestik.
Kegagalan yang bisa dihindari
Perpanjangan New START sebenarnya pernah ditawarkan.
Pada September 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan perpanjangan sederhana selama satu tahun—sebuah langkah pragmatis untuk membeli waktu bagi negosiasi yang lebih kompleks. Presiden AS Donald Trump merespons dengan nada optimis. "Terdengar seperti ide yang bagus bagi saya," katanya kepada wartawan.
Tapi tidak ada yang terjadi setelahnya. Tidak ada negosiasi formal, tidak ada pertemuan diplomatik, tidak ada tindakan lanjutan yang berarti.
Pada Januari 2026, Dmitry Medvedev—mantan presiden Rusia yang menandatangani New START bersama Barack Obama pada 2010 mengatakan kepada harian Rusia Kommersant bahwa Moskwa masih menunggu "reaksi substantif" dari Washington. Jawaban itu tidak pernah datang.
Seorang pejabat Gedung Putih menjelaskan bahwa Trump ingin "melibatkan Tiongkok dalam pembicaraan pengendalian senjata" dan bahwa ia "akan mengklarifikasi sesuai jadwalnya sendiri." Tidak ada kerangka waktu, tidak ada strategi yang jelas.
Jon Wolfsthal dari Federation of American Scientists menyebut ini sebagai "peluang mudah yang seharusnya sudah dimanfaatkan oleh pemerintahan Trump beberapa bulan lalu."
Daryl Kimball dari Arms Control Association mencatat bahwa Trump "sepertinya memiliki insting yang tepat dalam masalah ini tetapi sejauh ini gagal menindaklanjutinya dengan strategi yang koheren."
Kimball juga menunjuk pada satu faktor teknis. Penyingkiran diplomat karier dari Departemen Luar Negeri AS telah menghambat kemampuan Washington untuk menjalankan negosiasi rumit seperti pengendalian senjata nuklir.
Di Moskwa, analis militer Alexander Khramchikhin berkomentar datar. "Jelas bahwa perjanjian ini telah mencapai akhirnya. Ini hanya formalitas kosong yang akan menghilang."
Apa yang hilang?
New START adalah perjanjian bilateral terakhir yang tersisa antara Washington dan Moskow. Ditandatangani di Praha pada April 2010, perjanjian ini membatasi masing-masing negara untuk tidak memiliki lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan, serta maksimal 700 sistem peluncur seperti rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM), dan pesawat pembom berat.
Lebih dari sekadar angka, New START juga menyediakan mekanisme verifikasi yang mencakup inspeksi di lokasi hingga 18 kali per tahun, pertukaran data telemetri peluncuran rudal, notifikasi pergerakan senjata, dan akses satelit untuk memverifikasi kepatuhan.
Perjanjian ini sempat diperpanjang lima tahun oleh Presiden Joe Biden pada 2021, menggunakan klausul perpanjangan satu kali yang tidak bisa dipakai lagi. Sejak Februari 2023, Rusia secara sepihak menangguhkan inspeksi di lokasi dan pertukaran data sebagai protes atas keterlibatan NATO dalam perang Ukraina, meskipun Moskow masih mengklaim mematuhi batasan numerik.
Kini, bahkan kerangka minimal itu pun tidak ada lagi.
Berakhirnya New START adalah puncak dari keruntuhan bertahap arsitektur pengendalian senjata nuklir yang dibangun sejak era Perang Dingin.
Pada 2019, Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty (INF), yang ditandatangani Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev pada 1987, berakhir setelah AS secara resmi keluar dengan tuduhan bahwa Rusia telah melanggarnya dengan mengembangkan sistem rudal 9M729. Rusia menolak tuduhan itu dan balik menuduh AS melanggar perjanjian dengan sistem Aegis Ashore di Eropa Timur.
Ada faktor lain yang tidak kalah penting. Tiongkok tidak pernah menjadi penandatangan INF, sehingga bebas mengembangkan rudal jangkauan menengah. Pentagon memperkirakan bahwa 95% rudal Tiongkok saat ini akan dianggap ilegal jika Beijing terikat oleh INF. Ini membuat Washington merasa dirugikan secara strategis, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
Sebelum itu, pada 2002, AS keluar dari Anti-Ballistic Missile Treaty (ABM) yang ditandatangani pada 1972. Keputusan itu menandai awal dari skeptisisme terhadap pendekatan multilateral dalam pengendalian senjata.
Kini, dari rangkaian panjang perjanjian yang pernah ada—SALT I (1972), INF (1987), START I (1991), New START (2010)—tidak ada yang tersisa.
Tiga pemain, tidak ada aturan
Salah satu alasan Trump enggan memperpanjang New START adalah keinginannya untuk melibatkan Tiongkok dalam perjanjian pengendalian senjata baru. Beijing selama ini konsisten menolak.
Tiongkok saat ini memiliki sekitar 500 hulu ledak nuklir, jauh di bawah AS dan Rusia yang masing-masing memiliki lebih dari 5.000 hulu ledak. Tapi angka itu tumbuh dengan cepat. Pentagon memproyeksikan bahwa pada 2030, Tiongkok akan memiliki 1.000 hulu ledak, dan bisa mencapai 1.500 pada 2035.
Yang lebih mengkhawatirkan, citra satelit pada 2021 mendeteksi pembangunan lebih dari 300 silo rudal balistik antarbenua baru di gurun Tiongkok. Beijing juga sedang membangun tiga kapal selam nuklir baru kelas Jin dan mengembangkan kendaraan meluncur hipersonik seperti DF-17, yang sulit dideteksi dan dicegat oleh sistem pertahanan rudal konvensional.
Bagi Beijing, bergabung dalam perjanjian pengendalian senjata pada saat ini akan berarti mengunci diri dalam posisi inferioritas permanen terhadap AS dan Rusia. Mengapa harus menerima batasan ketika kedua negara itu telah memiliki arsenal yang jauh lebih besar?
Posisi ini menciptakan dilema strategis. AS dan Rusia tidak mau membatasi senjata mereka tanpa partisipasi Tiongkok, sementara Tiongkok tidak mau bergabung sebelum mencapai paritas. Hasilnya adalah jalan buntu dan perlombaan senjata tanpa rem.
Berakhirnya New START terjadi di tengah revolusi teknologi militer yang membuat perhitungan strategis semakin tidak pasti.
Senjata hipersonik yang terbang dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara dan dapat bermanuver di tengah penerbangan mengaburkan batas antara senjata konvensional dan nuklir. Rusia telah mengembangkan Avangard dan Kinzhal, sementara Tiongkok memiliki DF-ZF. AS juga sedang mengejar ketertinggalannya.
Masalahnya muncul ketika sebuah rudal hipersonik terdeteksi menuju target strategis. Tidak ada waktu untuk menentukan apakah hulu ledaknya konvensional atau nuklir. Keputusan harus dibuat dalam hitungan menit, bahkan detik. Ruang untuk kesalahpahaman atau miscalculation menjadi sangat sempit.
Kecerdasan buatan menambah lapisan kompleksitas lain. Sistem AI untuk deteksi dini dan respons otomatis bisa mempercepat eskalasi tanpa kontrol manusia yang memadai. Serangan siber terhadap sistem komando dan kontrol nuklir juga menjadi ancaman nyata.
Pada masa Perang Dingin, ada aturan tidak tertulis, komunikasi jelas antara Washington dan Moskwa, dan memori kolektif tentang Hiroshima dan Nagasaki yang masih segar. Kini, dunia menghadapi situasi multipolar dengan tiga adidaya nuklir dalam kompetisi strategis intens, komunikasi yang buruk, tidak ada aturan formal, dan generasi pemimpin yang tidak pernah mengalami perang nuklir.
Bahaya yang bukan dari niat jahat
Asumsi paling umum tentang risiko nuklir adalah bahwa perang nuklir hanya bisa terjadi jika ada pemimpin yang gila atau jahat yang ingin menghancurkan dunia.
Kenyataannya, risiko terbesar justru datang dari kesalahan, kesalahpahaman, dan dinamika eskalasi yang tidak terkendali.
Pada 26 September 1983, sistem peringatan dini Soviet mendeteksi lima rudal balistik AS yang diluncurkan menuju wilayah Rusia. Protokol standar mengharuskan respons balasan segera. Letnan Kolonel Stanislav Petrov, petugas jaga malam itu, memutuskan bahwa alarm tersebut adalah kesalahan teknis. Ia benar. Tidak ada rudal AS. Sistem hanya salah membaca pantulan sinar matahari dari awan.
Petrov menyelamatkan dunia dari perang nuklir bukan karena ia pahlawan, tapi karena ia kebetulan bertugas pada malam itu dan kebetulan membuat keputusan yang tepat dalam hitungan detik.
Berapa kali kita bisa mengandalkan kebetulan seperti itu?
Pada Oktober 1962, selama Krisis Rudal Kuba, kapal selam Soviet B-59 terkepung oleh kapal perang AS di perairan Karibia. Kru kapal selam itu kehilangan kontak dengan Moskwa dan percaya bahwa perang nuklir sudah dimulai. Untuk meluncurkan torpedo nuklir, diperlukan persetujuan dari tiga perwira senior di kapal. Dua orang setuju. Satu orang—Vasili Arkhipov—menolak. Keputusannya mencegah eskalasi yang bisa memicu Perang Dunia III.
Dunia diselamatkan oleh satu individu yang kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.
Hari ini, tidak ada New START yang menyediakan mekanisme komunikasi dan transparansi untuk mencegah kesalahpahaman semacam itu. Tidak ada inspeksi di lokasi, tidak ada pertukaran data, tidak ada saluran dialog yang terstruktur.
Yang ada hanyalah kepercayaan atau ketiadaannya.
Dalam kondisi tanpa mekanisme pengendalian dan komunikasi yang jelas, arah keamanan global kini ditentukan oleh keputusan-keputusan politik yang belum tentu disertai strategi jangka panjang.
Apakah Trump benar-benar akan bernegosiasi untuk perjanjian baru yang melibatkan Tiongkok, atau ini hanya retorika politik tanpa strategi konkret? Apakah Beijing akan pernah bersedia bergabung dalam perjanjian pengendalian senjata, atau justru akan terus membangun arsenal hingga mencapai paritas dengan AS dan Rusia?
Jika tidak ada batasan, seberapa cepat perlombaan senjata baru akan berlangsung? Apakah AS akan membangun lebih banyak hulu ledak untuk menjaga keunggulan strategis? Apakah Rusia akan merespons dengan modernisasi yang lebih agresif?
Dan bagaimana dengan negara-negara lain? Korea Selatan, yang berada di bawah ancaman langsung dari Korea Utara dan semakin skeptis terhadap jaminan keamanan AS, sudah mulai mempertimbangkan opsi nuklir sendiri.
Jepang, meski secara resmi menolak senjata nuklir, juga menghadapi tekanan serupa. Di Timur Tengah, Arab Saudi telah menyatakan bahwa jika Iran memperoleh senjata nuklir, mereka akan melakukan hal yang sama.
Proliferasi nuklir bukan lagi skenario teoritis. Ini adalah kemungkinan nyata.
85 Detik dan Terus Berdetak
Doomsday Clock bukan prediksi ilmiah. Ini adalah penilaian subjektif dari sekelompok ahli tentang seberapa dekat dunia berada pada bencana global. Tapi penilaian itu datang dari orang-orang yang paling memahami dinamika senjata nuklir, perubahan iklim, teknologi disruptif, dan risiko eksistensial lainnya.
85 detik adalah jarak terdekat yang pernah dicapai yang bahkan lebih dekat daripada Krisis Rudal Kuba, lebih dekat daripada puncak Perang Dingin, lebih dekat daripada momen mana pun dalam sejarah modern.
Bukan karena ada pemimpin dunia yang ingin perang nuklir. Tidak ada yang menginginkannya. Tapi transparansi, komunikasi, batasan hukum, kepercayaan minimal—semua mekanisme yang dirancang untuk mencegahnya—sedang runtuh satu per satu.
Pada Kamis, 5 Februari 2026, dunia akan memasuki era baru tanpa rem nuklir. Apa yang akan terjadi selanjutnya, tidak ada yang tahu.
Yang pasti, jam terus berdetak. Dan tidak ada tombol reset.

0Komentar