Ilustrasi: APLUSWIRE/ROBIN SANTOSO


Pada awal Februari 2026, polisi Paris menangkap empat orang, termasuk dua warga negara Tiongkok, atas tuduhan mencoba mencuri data dari satelit Starlink dan informasi dari entitas militer Prancis. Seminggu sebelumnya, di Oblast Kharkiv, Ukraina, sebuah kereta penumpang diserang drone Rusia yang dipandu menggunakan terminal internet satelit Starlink milik SpaceX. 

Hampir bersamaan, di Beijing, simulator komputer menunjukkan bagaimana 99 satelit Tiongkok dapat mendekati hampir 1.400 satelit Starlink dalam waktu 12 jam—sebuah latihan "berburu" yang dipublikasikan dalam jurnal militer bergengsi.

Tiga kejadian terpisah, dalam rentang waktu kurang dari sebulan. Ketiganya melibatkan Starlink, jaringan satelit internet komersial yang kini menjadi salah satu sistem komunikasi paling kontroversial di dunia. Yang semula dijual sebagai solusi internet untuk daerah terpencil, kini berubah menjadi aset strategis dan ancaman dalam perhitungan militer negara-negara besar.

Jadi, mengapa sebuah layanan internet satelit bisa memicu operasi spionase, simulasi perang, dan krisis diplomatik?

Dari internet desa ke medan perang

Starlink adalah konstelasi satelit internet milik SpaceX, perusahaan Elon Musk. Hingga awal 2026, lebih dari 6.700 satelit Starlink mengorbit Bumi di ketinggian rendah, sekitar 340 hingga 614 kilometer. Jumlah ini akan terus bertambah—pada 9 Januari 2026, regulator Amerika Serikat menyetujui penambahan 7.500 satelit lagi, membawa total target menjadi 15.000.


Sebuah sistem satelit internet Starlink ditempatkan di garis depan Kota Bakhmut di tengah serangan militer ke Ukraina, wilayah Donetsk, Ukraina, 8 Maret, 2023. | LISI NIESNER/REUTERS

Konsep dasarnya sebrnarnya cukup sederhana, satelit-satelit ini memancarkan sinyal internet langsung ke terminal di permukaan bumi, tanpa perlu kabel atau infrastruktur darat. Bagi wilayah terpencil, ini revolusioner. Bagi militer, ini game-changer.

Ukraina adalah bukti pertama. Ketika Rusia menginvasi pada Februari 2022, jaringan komunikasi Ukraina lumpuh. Elon Musk mengaktifkan Starlink hanya dua hari setelah invasi dimulai. Terminal-terminal Starlink kemudian digunakan tidak hanya oleh warga sipil, tetapi juga oleh tentara Ukraina untuk komunikasi medan perang, koordinasi drone, bahkan operasi serangan balik.

Pada Maret 2025, Musk sendiri mengakui: "Starlink adalah tulang punggung tentara Ukraina. Garis depan mereka akan runtuh jika saya mematikannya."

Pernyataan itu mengonfirmasi apa yang sudah lama dicurigai, yaitu Starlink bukan sekadar alat komunikasi sipil. Ia telah menjadi infrastruktur militer meski tanpa dirancang untuk itu.

Ketika musuh juga pakai teknologi yang sama

Ironi muncul pada akhir 2024. Pejabat Ukraina mulai menemukan terminal Starlink di puing-puing drone Rusia yang jatuh. Drone jenis Shahed, Molniya-2, bahkan BM-35 semuanya dilengkapi dengan perangkat Starlink.

Serhii Beskrestnov, penasihat teknologi Kementerian Pertahanan Ukraina, mengatakan ada "ratusan" serangan yang melibatkan drone Rusia berbekal Starlink. Sasaran serangannya bukan instalasi militer, melainkan kota-kota sipil di garis belakang dan depan, termasuk gedung tempat tinggal.

Drone Shahed 136, yang juga dikenal dengan sebutan Rusia Geran-2. | AP/EFREN LUKATSKY

Pada 27 Januari 2026, sebuah drone Shahed yang dilengkapi Starlink diduga menyerang kereta penumpang di wilayah Kharkiv. Drone ini mampu terbang hingga 500 kilometer—jangkauan yang cukup untuk mencapai sebagian besar Ukraina, seluruh Moldova, dan bahkan bagian Polandia, Romania, serta Lithuania.

Rusia tidak membeli Starlink secara resmi. SpaceX tidak berbisnis dengan pemerintah atau militer Rusia, dan sanksi internasional seharusnya mencegah akuisisi legal. Namun terminal-terminal itu tetap sampai ke tangan Rusia kemungkinan besar melalui negara ketiga atau pasar gelap.

Inilah dilema teknis yang sensitif—bagaimana memblokir akses Rusia tanpa mengganggu lebih dari 50.000 terminal Starlink yang digunakan Ukraina untuk komunikasi militer, pemerintah, rumah sakit, dan sekolah?

Pada 29 Januari 2026, setelah mendeteksi drone Rusia yang menggunakan Starlink terbang di atas kota-kota Ukraina, Kementerian Pertahanan Ukraina menghubungi SpaceX. Dalam hitungan hari, SpaceX menerapkan pembatasan kecepatan. terminal yang bergerak lebih cepat dari sekitar 90 kilometer per jam akan dimatikan secara otomatis.

Langkah ini efektif untuk drone bersayap tetap, tetapi masih memungkinkan quadcopter yang lebih lambat beroperasi. Beskrestnov menyebut ini solusi sementara. Pada 2 Februari, Musk menulis di platform X: "Sepertinya langkah-langkah yang kami ambil untuk menghentikan penggunaan Starlink tanpa izin oleh Rusia telah berhasil."

Namun pertanyaan lebih besar tetap menggantung. jika Rusia bisa mendapatkan akses ilegal, siapa lagi yang bisa?

Tiongkok mengamati dan bersiap

Bagi Tiongkok, pengalaman Ukraina adalah pelajaran yang mengganggu. Starlink telah membuktikan dirinya sebagai alat yang mampu mengubah dinamika perang modern. 

Dalam skenario konflik, misalnya jika terjadi krisis di Taiwan Starlink bisa memberikan keunggulan komunikasi yang signifikan kepada pihak yang didukung Amerika Serikat.

Sejak 2022, peneliti militer Tiongkok mempublikasikan sejumlah makalah tentang cara menghadapi Starlink. Salah satu yang paling diperhatikan adalah paper yang diterbitkan pada Mei 2022 oleh Ren Yuanzhen, peneliti dari Beijing Institute of Tracking and Telecommunications, yang berada di bawah Angkatan Dukungan Strategis Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.

Paper itu merekomendasikan "Kombinasi metode soft kill dan hard kill harus diadopsi untuk membuat beberapa satelit Starlink kehilangan fungsi dan menghancurkan sistem operasi konstelasi."

Soft kill merujuk pada serangan non-destruktif. Mulai dari jamming sinyal, cyberattack, hingga senjata gelombang mikro yang dapat mengganggu elektronik satelit tanpa menghancurkannya secara fisik. Hard kill, sebaliknya, berarti penghancuran langsung menggunakan rudal anti-satelit atau senjata laser.

Pada Januari 2025, simulasi terbaru dipublikasikan dalam jurnal Systems Engineering and Electronics. Peneliti dari Nanjing University of Aeronautics and Astronautics menunjukkan bagaimana 99 satelit Tiongkok dilengkapi laser, gelombang mikro, dan perangkat pengintai dapat mendekati hampir 1.400 satelit Starlink dalam waktu 12 jam menggunakan algoritma kecerdasan buatan yang meniru strategi berburu paus.

Simulasi ini bukan sekadar latihan akademis. Ia menunjukkan bahwa Tiongkok sedang memetakan kemungkinan operasi counter-space yang nyata.

Spionase di Paris: bukti lain dari kekhawatiran Beijing

Pada 4 Februari 2026, jaksa Paris mengumumkan penangkapan empat orang, termasuk dua warga Tiongkok, atas tuduhan spionase. Menurut kantor kejaksaan, kedua warga Tiongkok tersebut memasuki wilayah Prancis dengan tujuan "menangkap data satelit Starlink dan data dari entitas yang dinilai sangat penting, terutama sektor militer, untuk kemudian mengirimkannya ke Tiongkok."

Dua dari empat tersangka ditempatkan dalam tahanan. Investigasi yudisial dibuka pada hari yang sama.

Beijing membantah tuduhan tersebut. Pada Januari 2026, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menyatakan pemerintahnya "menentang pembesar-besaran klaim spionase dan pencemaran nama baik terhadap Tiongkok."

Namun kasus Paris bukan insiden tunggal. Pada Januari yang sama, seorang profesor matematika terapan Prancis di Bordeaux didakwa setelah mengizinkan delegasi Tiongkok mengunjungi lokasi sensitif yang terlarang. Ia menghadapi ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara.

Pola ini menunjukkan bahwa Starlink telah menjadi target intelijen bukan hanya dalam simulasi komputer atau makalah akademis, tetapi dalam operasi lapangan yang nyata.

Bagaimana Tiongkok bisa melawan Starlink?

Tiongkok memiliki sejarah panjang dalam pengembangan senjata anti-satelit. Pada 2007, Tiongkok menghancurkan satelitnya sendiri, Fengyun, menggunakan rudal SC-19—sebuah uji yang menciptakan ribuan serpihan debris berbahaya di orbit.

Sejak itu, Tiongkok terus mengembangkan berbagai metode untuk melawan satelit, termasuk Starlink.

Salah satu pendekatan adalah jamming—mengganggu komunikasi satelit dengan sinyal yang lebih kuat. 

Pada November 2025, simulasi yang dipublikasikan dalam jurnal Systems Engineering and Electronics menunjukkan bahwa untuk menekan Starlink sepenuhnya di atas wilayah seluas Taiwan, dibutuhkan minimal 935 platform jamming yang tersinkronisasi. Jika menggunakan perangkat udara dengan daya 23 dBW dan jarak sekitar 5 kilometer, jumlahnya bisa mencapai 2.000 unit.


Fasilitas Bohu Laser Facility, sebuah kompleks pengujian militer dan senjata anti-satelit di Gurun Taklamakan, Xinjiang, Tiongkok. Situs ini sering dijuluki sebagai "Area 51" versi Tiongkok oleh beberapa media karena sifatnya yang rahasia. | REDDIT

Pendekatan lain adalah senjata energi terarah—laser atau gelombang mikro. Tiongkok memiliki fasilitas laser berbasis darat di Xinjiang, yang dikenal sebagai Bohu Laser Facility, yang telah beroperasi sejak 2003. Menurut laporan Badan Intelijen Pertahanan AS pada 2022, fasilitas ini memiliki "kemampuan terbatas" untuk operasi anti-satelit.

Pada 2013, peneliti dari Changchun Institute for Optics, Fine Mechanics and Physics mengusulkan pemasangan laser kimia seberat 5 ton di orbit rendah Bumi. Laser satelit semacam ini bisa menghasilkan 1 megawatt cahaya laser dan mampu menembak 100 kali per detik selama 30 menit tanpa overheat di ruang angkasa.

Ada juga konsep yang lebih tidak konvensional, yaitu kapal selam yang dilengkapi laser. Kapal selam bisa menunggu terendam, muncul sebentar untuk menembak satelit, lalu menyelam kembali—menghindari jejak rudal yang mudah terdeteksi.

Namun semua metode ini memiliki tantangan teknis dan strategis. Penghancuran satelit menciptakan debris yang bisa merusak satelit Tiongkok sendiri. Jamming membutuhkan sumber daya yang sangat besar. Laser memerlukan daya yang luar biasa tinggi dan sistem pendingin yang canggih.

Meski begitu, fakta bahwa Tiongkok terus mempublikasikan penelitian tentang topik ini menunjukkan keseriusan mereka dalam mempersiapkan skenario konflik di ruang angkasa.

Great Firewall yang kini mengorbit Bumi

Bagi Tiongkok, Starlink bukan hanya ancaman militer. Ia juga ancaman terhadap kontrol informasi.

Great Firewall, sebuah sistem sensor internet Tiongkok bekerja dengan memeriksa paket data yang melewati infrastruktur internet domestik. Sistem ini memblokir akses ke Google, Facebook, Twitter, Wikipedia, dan ratusan ribu domain lainnya.

Namun Starlink berpotensi mem-bypass Great Firewall sepenuhnya. Dengan koneksi langsung ke satelit yang kemudian terhubung ke stasiun darat di luar Tiongkok, pengguna bisa mengakses konten yang tidak disensor tanpa melewati infrastruktur internet Tiongkok sama sekali.

Pada September 2025, Tiongkok meluncurkan apa yang disebut sebagai "Satellite Internet Firewall" pertama di dunia. Payload ini, yang dikembangkan oleh National Key Laboratory of Information Photonics and Optical Communications di Beijing University of Posts and Telecommunications, ditembakkan ke orbit menggunakan roket Ceres-1.

Organisasi hak asasi manusia Human Rights in China menyebut peluncuran ini sebagai "tonggak sejarah dalam visi Tiongkok untuk memperluas kedaulatan siber ke orbit." 

Mereka memperingatkan bahwa sistem ini "menanamkan logika sensor, pengawasan, dan pertahanan aktif langsung ke dalam infrastruktur ruang angkasa," yang bisa berdampak pada aliran informasi global, terutama di negara-negara mitra program Belt and Road.

Starlink sendiri tidak beroperasi di Tiongkok. SpaceX memerlukan izin dari otoritas lokal dan harus mematuhi aturan sensor untuk meluncurkan layanan resmi. Namun kekhawatiran Tiongkok juga meluas ke negara tetangga.

Ketika Mongolia mulai menggunakan Starlink untuk program digitalisasi, Tiongkok menyuarakan kekhawatiran keamanan baik terkait ancaman militer maupun potensi warganya mem-bypass sensor melalui wilayah Mongolia yang berbatasan dengan Inner Mongolia. Kekhawatiran serupa muncul terkait Pakistan, yang berbatasan dengan Xinjiang.

Perlombaan membangun konstelasi saingan

Tiongkok tidak hanya mempersiapkan cara untuk melawan Starlink. Mereka juga membangun alternatifnya sendiri.


Roket Long March 4C yang membawa satelit Ziyuan-1 02E lepas landas dari lokasi peluncuran Taiyuan di Tiongkok tengah. 

Proyek utama adalah Guowang atau "National Network" yang dioperasikan oleh China Satellite Network Group, perusahaan milik negara yang dibentuk pada April 2021. Guowang menargetkan peluncuran sekitar 13.000 satelit, dengan sekitar 6.000 satelit di orbit 500-600 kilometer dan 7.000 lainnya di orbit sekitar 1.145 kilometer.

Hingga November 2025, lebih dari 100 satelit Guowang telah diluncurkan. Konstelasi ini dirancang tidak hanya untuk konektivitas komersial, tetapi juga untuk aplikasi strategis: positioning, navigasi, pencitraan, dan intelijen sinyal.

Proyek lain adalah Qianfan juga dikenal sebagai G60 Spacesail yang dioperasikan oleh Shanghai SpaceCom Satellite Technology dengan dukungan pemerintah kota Shanghai dan Akademi Sains Tiongkok. Qianfan menargetkan 15.000 satelit pada 2030, dengan fase pertama sebanyak 648 satelit untuk layanan regional pada akhir 2025.

Peluncuran perdana Qianfan terjadi pada 6 Agustus 2024, dengan 18 satelit masuk ke orbit rendah Bumi. Hingga awal 2026, sekitar 90 satelit Qianfan telah berada di orbit. Berbeda dengan Guowang yang lebih berorientasi negara, Qianfan memasarkan dirinya sebagai layanan grosir melalui perusahaan telekomunikasi asing dengan merek Sailspace.

Ada juga Honghu-3, yang menargetkan 10.000 satelit di orbit 340-550 kilometer, dan konstelasi Geely yang dioperasikan oleh perusahaan otomotif Geely Holding.

Secara total, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah mengajukan filing ke International Telecommunications Union untuk lebih dari 200.000 satelit, sebuah angka yang dimaksudkan untuk mengamankan opsi jangka panjang atas sumber daya orbital dan spektrum frekuensi.

Pada 2025, Tiongkok melakukan 73 peluncuran roket, naik dari 51 pada 2024. Hingga awal Desember 2025, lebih dari 1.300 satelit Tiongkok berada di orbit.

Christophe Grudler, anggota Parlemen Eropa dari Prancis yang memimpin kerja legislatif proyek satelit Uni Eropa IRIS2, mengatakan kepada media bahwa Eropa perlu memiliki otonomi strategis sendiri meski tetap menjadi sekutu Amerika Serikat.

"Risikonya adalah tidak memiliki nasib kita di tangan kita sendiri," ujarnya.

Paradoks Starlink: digunakan dan dilawan sekaligus

Ada ironi dalam cara Tiongkok melihat Starlink. Di satu sisi, mereka mengembangkan cara untuk menghancurkannya. Di sisi lain, mereka menggunakan radiasi elektromagnetik Starlink untuk kepentingan mereka sendiri.

Pada September 2024, peneliti Tiongkok melakukan eksperimen di Laut Tiongkok Selatan. Mereka menggunakan radar pasif berbasis darat untuk mendeteksi drone DJI Phantom 4 Pro—sebuah objek kecil seukuran burung dengan radar cross-section setara pesawat tempur siluman.

Yang unik, radar ini tidak mengirim gelombang radio sendiri. Alih-alih, ia mendeteksi target yang "diterangi" oleh radiasi elektromagnetik dari satelit Starlink yang terbang di atas Filipina.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa Starlink secara tidak sengaja bisa digunakan untuk mendeteksi pesawat siluman seperti F-22 Amerika Serikat. Tidak ada negara lain yang pernah mendemonstrasikan kemampuan semacam ini.

Dengan kata lain, Tiongkok sedang memanfaatkan infrastruktur yang mereka anggap sebagai ancaman untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mereka sendiri.

Apakah ini awal perang satelit?

Hingga kini, tidak ada satelit Starlink yang benar-benar diserang atau dihancurkan. Simulasi, makalah, dan operasi spionase adalah tanda persiapan bukan tindakan langsung.

Namun preseden sudah ada. Pada 2021, Tiongkok mengajukan keluhan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, menuduh bahwa satelit Starlink hampir bertabrakan dengan stasiun luar angkasa Tiongkok, Tiangong, sebanyak dua kali. SpaceX membantah bahwa ini adalah insiden berbahaya, tetapi keluhan itu menunjukkan betapa sensitifnya isu ini.

Hukum internasional tentang ruang angkasa masih ambigu. Outer Space Treaty tahun 1967 melarang penempatan senjata nuklir di orbit, tetapi tidak secara eksplisit melarang senjata konvensional atau senjata energi terarah. Tidak ada mekanisme penegakan yang kuat.

Sementara itu, jumlah satelit terus bertambah. Starlink menargetkan 42.000 satelit. Tiongkok menargetkan puluhan ribu lagi. Orbit Bumi yang rendah atau ruang yang sama di mana semua konstelasi ini beroperasi semakin ramai.

Lantas, siapa yang mengendalikan langit? Dan apa yang terjadi jika kontrol itu diperebutkan? (Xinhua/SCMP/Reuters)

(Hdh)