Perdana Menteri Israel Netanyahu menyampaikan pidato di Yerusalem, Israel, pada 18 November 2020. | State Department Photo by Ron Przysucha/ Public Domain


 Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan lembaga darurat dan militer perlindungan sipil bersiap menghadapi kemungkinan perang, di tengah asumsi pejabat Israel bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran bisa terjadi dalam waktu dekat.

Arahan tersebut, menurut laporan harian Israel Yedioth Ahronoth, ditujukan kepada layanan penyelamatan dan Komando Front Dalam Negeri agar mempersiapkan skenario konflik. Surat kabar itu menyebut status siaga maksimum telah diberlakukan di seluruh badan keamanan Israel, sementara Washington disebut tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Teheran.

Penyiar publik Israel, Kan, melaporkan bahwa pemerintah memperkirakan jika serangan AS diluncurkan, operasi tersebut dapat berkembang menjadi kampanye berminggu-minggu. Pejabat Israel juga menilai konfrontasi berskala besar di Timur Tengah bisa meletus “kemungkinan dalam hitungan hari”.

“Kita menghadapi hari-hari yang menantang terkait Iran,” kata Boaz Bismuth, ketua Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset, di parlemen.

Kepala Komando Front Dalam Negeri, Mayjen Shay Klapper, mengatakan kepada komite Knesset bahwa pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan sejak Operasi Rising Lion, perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu. 

“Komando Front Dalam Negeri akan menjadi arena utama dalam skenario operasional yang relevan dan merupakan komponen penting dari ketahanan masyarakat Israel serta kemampuan untuk menyelamatkan nyawa,” ujarnya.

Pertemuan kabinet keamanan Israel yang semula dijadwalkan Kamis ditunda menjadi Minggu. Pejabat menyebut penundaan dilakukan untuk menghindari potensi kesalahan perhitungan dari Iran. Dalam konsultasi terbatas yang dipimpin Netanyahu, asumsi kerja yang berkembang adalah Iran tetap akan menembakkan rudal ke Israel, bahkan jika militer Israel tidak terlibat langsung dalam kemungkinan serangan AS.

Di saat bersamaan, AS memperkuat kehadiran militernya di kawasan. Lebih dari 50 pesawat tempur, termasuk F-35, F-22, dan F-16, dipindahkan ke Timur Tengah dalam 24 jam terakhir, menurut laporan Axios yang mengutip seorang pejabat AS. Kapal induk USS Gerald R. Ford disebut sedang menuju Laut Arab untuk bergabung dengan gugus serang kapal induk USS Abraham Lincoln.

Perkembangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan di Jenewa menghasilkan sejumlah kemajuan, meski belum menyentuh garis merah utama Washington. 

“Dalam beberapa hal berjalan baik; mereka setuju untuk bertemu lagi setelahnya,” kata Vance kepada Fox News. “Tetapi di sisi lain sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan beberapa garis merah yang belum bersedia diakui dan dijalankan oleh Iran.”

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut perundingan itu berlangsung “serius, konstruktif, dan positif”. Ia mengatakan kepada televisi negara Iran bahwa “kemajuan baik telah dibuat dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya”. Mediator dari Oman menyatakan para pihak telah menyepakati “prinsip-prinsip panduan” dan akan kembali bertemu dalam dua pekan.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa kegagalan diplomasi akan membawa konsekuensi berat. 

“Entah kita akan membuat kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras,” kata Trump kepada Axios pekan lalu. Ia juga menyebut hasilnya akan “sangat traumatis bagi Iran” jika negosiasi tidak berhasil.