Roket Soyuz Rusia mengalami anomali sesaat setelah diluncurkan menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 11 Oktober 2018, memaksa dua awak untuk melakukan pendaratan darurat. | BILL INGALLS/NASA


Rusia menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam pembangunan infrastruktur antariksa di Indonesia, termasuk rencana pengembangan bandar antariksa di Pulau Biak, Papua. Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov dalam wawancara dengan kantor berita RIA Novosti pada Jumat (13/2/2026), sebagaimana dikutip kantor berita ANTARA.

“Jika mitra tertarik untuk memanfaatkan pengalaman dan teknologi Rusia dalam pelaksanaan proyek semacam itu, kami bersedia berpartisipasi dalam implementasinya atas dasar saling menguntungkan,” kata Tolchenov.

Pernyataan tersebut muncul ketika Indonesia tengah mematangkan rencana pembangunan infrastruktur darat untuk peluncuran roket di Biak. Meski begitu, proyek ini belum difinalisasi dalam bentuk keputusan resmi pemerintah. Sejumlah regulasi turunan juga masih dalam tahap perumusan.

Tolchenov menambahkan bahwa Indonesia dan Rusia telah lama menjalin kemitraan di bidang eksplorasi antariksa untuk tujuan damai. Kerja sama itu, menurut dia, sudah dijajaki dalam berbagai skema selama beberapa dekade terakhir.

Di sisi Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan tengah memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mempercepat pembangunan Bandar Antariksa Nasional di Biak. Kepala BRIN Arif Satria menyebut proyek tersebut sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian akses Indonesia ke antariksa.

Menurut Arif, saat ini BRIN tengah memformulasikan regulasi turunan sebagai tindak lanjut dari Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang sedang diproses. Ia menjelaskan bahwa setelah regulasi itu disahkan, penetapan lokasi dan implementasi pembangunan dapat segera dilakukan.

“BRIN sedang memformulasikan regulasi turunan agar setelah pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP), penetapan lokasi dan implementasi pembangunan dapat segera dilakukan, termasuk pembukaan lahan BRIN di Biak yang direncanakan mulai tahun 2026,” ujar Arif.

Pulau Biak dipilih karena letaknya yang dekat dengan garis khatulistiwa. Secara teknis, lokasi tersebut dinilai memberikan efisiensi energi saat peluncuran roket ke orbit rendah Bumi karena rotasi bumi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kecepatan awal roket. Keunggulan geografis ini juga disebut dapat menekan biaya peluncuran.

Rencana pembangunan bandar antariksa di Biak bukan hal baru. Kajian awal telah dilakukan sejak 1990, menurut Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Anugerah Widiyanto. Ia menyebut proyek ini diharapkan membawa dampak ekonomi, termasuk pembukaan lapangan kerja dan penguatan ekosistem industri antariksa nasional.

Selain itu, proyek tersebut juga diproyeksikan memperluas diplomasi antariksa Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama internasional di bidang ruang angkasa semakin menjadi bagian dari strategi hubungan luar negeri berbagai negara, baik untuk kepentingan teknologi, ekonomi, maupun keamanan.

Kerja sama bilateral Indonesia dan Rusia di sektor ini telah diformalkan melalui kemitraan antara BRIN dan Roscosmos State Space Corporation. Selain itu, proyek tersebut melibatkan Glavkosmos dari Rusia serta PT Uniresources Petroleum Indonesia. Pada 2023, para pihak telah menandatangani nota kesepahaman sebagai dasar penjajakan lebih lanjut.

Di tingkat global, Rusia merupakan salah satu negara dengan pengalaman panjang dalam pengembangan roket peluncur dan stasiun luar angkasa. Sementara itu, Indonesia selama ini lebih berfokus pada pengembangan satelit dan teknologi roket skala terbatas melalui lembaga riset nasional.

Saat ini, pemerintah Indonesia masih menyusun kerangka regulasi dan kesiapan infrastruktur pendukung sebelum memutuskan tahapan pembangunan berikutnya. Di tengah proses tersebut, tawaran partisipasi dari Rusia menambah opsi kerja sama internasional dalam pengembangan akses antariksa nasional.