![]() |
| Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. |
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi meminta pemerintah Indonesia tidak khawatir terhadap ancaman tarif dari Amerika Serikat bagi negara-negara yang masih berdagang dengan Teheran. Ia menilai hubungan ekonomi dengan Iran tetap memberikan keuntungan dan tidak seharusnya terhambat tekanan dari Washington.
Dalam wawancara khusus dengan kantor berita ANTARA pada Jumat (13/2), Boroujerdi menyatakan negara-negara yang menjalin kerja sama reguler dengan Iran tidak perlu takut pada kebijakan tersebut.
"Kami sampaikan kepada Indonesia untuk tidak takut. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Perusahaan mana pun dan negara mana pun yang memiliki hubungan reguler dengan Iran, mereka akan mendapatkan banyak keuntungan," kata Boroujerdi.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS pada 6 Februari 2026 menandatangani perintah eksekutif yang membuka jalan pengenaan tarif hingga 25% terhadap negara-negara yang tetap berdagang dengan Iran. Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari strategi tekanan ekonomi terhadap Teheran terkait program nuklir dan isu keamanan kawasan.
Sebelumnya, pada 12 Januari, Trump mengumumkan ancaman tarif itu melalui platform Truth Social dan menyebut kebijakan tersebut bersifat final dan mengikat. Langkah itu memperluas tekanan ekonomi yang selama ini diterapkan AS terhadap Iran.
Boroujerdi mengatakan saat ini terdapat lebih dari 100 negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Iran tanpa mengalami dampak berarti akibat tekanan AS. Ia menegaskan negara-negara berdaulat tidak harus mengikuti arahan Washington.
"Semua negara merdeka percaya bahwa Amerika Serikat bukanlah raja dunia. Mereka tidak dapat mendikte aturan mereka kepada negara-negara merdeka seperti Indonesia," ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia merespons ancaman tarif tersebut dengan sikap tenang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada Januari menyatakan Indonesia tidak khawatir karena nilai perdagangan dengan Iran relatif kecil dibandingkan total perdagangan Indonesia secara global.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai perdagangan bilateral Indonesia–Iran pada 2023 mencapai US$206,9 juta. Dari jumlah itu, Indonesia mencatat surplus sebesar US$183,4 juta. Sementara itu, berdasarkan data UN COMTRADE, ekspor Indonesia ke Iran pada tahun yang sama tercatat US$194,46 juta.
Nilai tersebut menunjukkan hubungan dagang kedua negara masih terbatas dalam skala total perdagangan Indonesia. Meski begitu, Iran melihat ruang pengembangan kerja sama masih terbuka.
Lebih jauh, Boroujerdi mendorong Indonesia dan negara lain memperluas kerja sama, baik melalui jalur bilateral maupun multilateral. Menurutnya, penguatan kemitraan ekonomi dapat menjadi cara untuk menghadapi tekanan eksternal.
"Jika mereka ingin melewati era sulit ini, mereka harus memperluas kerja sama antara kedua negara dan menunjukkan kepada AS bahwa mereka tidak dapat mendikte aturan mereka kepada seluruh dunia," ujarnya.
Kebijakan tarif yang diumumkan awal tahun ini menambah daftar langkah ekonomi AS terhadap Iran. Saat ini, perhatian pelaku usaha dan pemerintah di sejumlah negara tertuju pada implementasi aturan tersebut serta potensi dampaknya terhadap arus perdagangan lintas negara.

0Komentar