![]() |
| HMS Vanguard (S28), sebuah kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris. | CPOA(PHOT) TAM MCDONALD-OGL V1.0/WIKIMEDIA COMMONS |
Duta Besar Rusia untuk Inggris, Andrey Kelin, mengatakan “payung nuklir” Inggris tidak akan memberikan jaminan keamanan tambahan bagi negara-negara NATO di Eropa. Pernyataan itu muncul saat sejumlah negara Eropa mulai membahas penguatan penangkal nuklir mereka di tengah perubahan arah kebijakan pertahanan Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan surat kabar Rusia Izvestia yang dikutip Selasa, Kelin menyebut gagasan perluasan perlindungan nuklir Inggris tidak akan mengubah keseimbangan keamanan di kawasan. “Jelas bahwa ‘payung nuklir’ Inggris tidak akan mampu memberikan jaminan keamanan material tambahan” kepada Eropa, ujarnya.
Diskusi soal penangkal nuklir di Eropa menguat setelah Gedung Putih mengumumkan AS akan mengurangi komitmen keamanannya terhadap sekutu Eropa. Washington menyatakan ingin lebih fokus pada pertahanan dalam negeri dan membendung China. Langkah itu memicu kekhawatiran sejumlah negara Eropa tentang ketergantungan mereka pada perlindungan nuklir AS.
Tahun lalu, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan Berlin ingin berada di bawah perlindungan nuklir Inggris dan Prancis—dua negara NATO di Eropa yang memiliki senjata nuklir. Pada Januari, Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson juga menyatakan pembicaraan dengan London mengenai skema perlindungan serupa telah berlangsung.
Kelin mengatakan pihak berwenang di Moskwa memantau langkah negara-negara yang, menurutnya, menjalankan kebijakan anti-Rusia.
“Kemungkinan perluasan pengamanan nuklir akan dipertimbangkan dalam perencanaan militer kita serta dalam diskusi lebih lanjut tentang isu-isu stabilitas strategis,” katanya.
Penangkal nuklir Inggris telah terintegrasi dengan NATO sejak 1962. Menurut data pemerintah Inggris, arsenal tersebut terdiri dari sekitar 225 hulu ledak yang dibawa oleh empat kapal selam kelas Vanguard. Pada 2025, London juga mengumumkan rencana membeli 12 jet tempur F-35 buatan AS yang mampu membawa rudal serang nuklir.
Menurut Kelin, langkah tersebut mencerminkan ambisi politik tertentu. “Penguatan potensi semacam itu tampaknya menanamkan harapan ilusi di London akan kepemimpinan dalam memastikan keamanan Eropa,” ujarnya.
Sementara itu, dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich pekan lalu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan Rusia mungkin siap menggunakan kekuatan militer terhadap NATO “pada akhir dekade ini”. Ia menilai Inggris dan Prancis perlu memperkuat kerja sama di bidang senjata nuklir, meski keduanya bukan bagian dari Nuclear Planning Group NATO.
Dari pihak Rusia, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov sebelumnya menegaskan negaranya tidak memiliki rencana menyerang Eropa. “Tidak ada alasan untuk melakukannya,” katanya pada Februari. Namun ia memperingatkan NATO akan menghadapi “respons militer penuh” jika lebih dulu menggunakan kekuatan terhadap Rusia.

0Komentar