Presiden Donald Trump menyampaikan pidato selama Acara Transformasi Kesehatan Pedesaan di Ruang Timur Gedung Putih, Jumat, 16 Januari 2026. | WHITE HOUSE/JOYCE N. BOGHOSIAN

Amerika Serikat menyatakan siap melakukan uji coba senjata nuklir bertenaga rendah untuk pertama kalinya sejak 1992. Pernyataan itu disampaikan pejabat senior Departemen Luar Negeri pada Selasa waktu setempat, di tengah tudingan Washington bahwa China melakukan uji coba ledakan nuklir berdaya rendah.

Christopher Yeaw, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Pengendalian Senjata dan Nonproliferasi, mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump ingin menyamai apa yang diklaim sebagai uji coba rahasia oleh Beijing dan Moskwa. 

Berbicara di Hudson Institute di Washington, Yeaw menyebut AS akan kembali melakukan pengujian “dengan basis yang setara” dengan negara-negara nuklir lain.

Menurut Yeaw, keputusan akhir berada di tangan Presiden Trump. Namun ia menegaskan AS tidak akan “tetap berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan”.

Trump pada Oktober 2025 telah memerintahkan Pentagon untuk memulai persiapan jika pengujian perlu dilakukan. Langkah itu, kata Yeaw, diambil dengan mempertimbangkan perkembangan program nuklir negara lain.

Pejabat tersebut juga mencoba meredakan kekhawatiran soal kemungkinan kembalinya uji coba besar seperti era Perang Dingin.

“Dasar yang setara bukan berarti kita akan kembali ke pengujian atmosfer gaya Ivy Mike dalam rentang multi-megaton, seperti yang diklaim beberapa pegiat pengendalian senjata yang berlebihan soal isu ini,” kata Yeaw, merujuk pada uji coba bom hidrogen tahun 1952 di Pasifik Selatan.

Dugaan uji coba nuklir China

Dalam paparannya, Yeaw menyampaikan informasi intelijen yang menurutnya menunjukkan adanya uji coba “penghasil-ledakan” di fasilitas Lop Nur, China, pada Juni 2020. Ia mengutip data seismik dari stasiun pemantauan di Kazakhstan yang mencatat kejadian berkekuatan 2,75 magnitudo di sekitar lokasi tersebut.

“Kemungkinannya sangat kecil bahwa ini adalah hal lain selain ledakan,” ujar Yeaw. Ia menambahkan bahwa temuan itu “cukup konsisten dengan apa yang Anda harapkan dari uji coba ledakan nuklir.”

Pemerintah China membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai “kebohongan belaka”, serta menilai tudingan itu sebagai dalih bagi AS untuk kembali melakukan pengujian.

Sementara itu, Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization (CTBTO) menyatakan sistem pemantauan internasionalnya umumnya hanya dapat mendeteksi ledakan dengan kekuatan minimal setara 500 ton TNT. Ambang batas ini lebih besar dibanding dugaan uji coba berdaya rendah yang disampaikan pihak AS.

Menanggapi hal itu, Yeaw menyarankan agar sekretaris eksekutif organisasi tersebut “menilai kembali prioritas”.

Tidak Ada Pengganti New START

Pernyataan ini muncul hampir dua pekan setelah berakhirnya perjanjian New START pada 5 Februari. Perjanjian tersebut merupakan kesepakatan terakhir antara Washington dan Moskwa yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis kedua negara.

Saat ditanya apakah ada kesepahaman informal untuk tetap mematuhi batasan perjanjian itu setelah masa berlakunya habis, Yeaw menjawab, “Saya tidak tahu ada kesepakatan semacam itu.”

Ia menilai salah satu kelemahan utama New START adalah tidak mencakup persenjataan nuklir China. Menurutnya, hanya dua dari enam blok kekuatan nuklir strategis dan teater, yakni AS dan Rusia yang diatur dalam perjanjian tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada November 2025 sempat menawarkan perpanjangan batasan secara informal selama satu tahun. Namun pernyataan Yeaw menunjukkan pemerintahan Trump tidak melihat manfaat mempertahankan kerangka tersebut.

Putin juga memperingatkan bahwa Rusia akan mengambil “tindakan timbal balik” apabila AS melanjutkan uji coba nuklir.