![]() |
| Vladimir Putin menjawab pertanyaan media. | Vladimir Smirnov/TASS |
Vladimir Putin menegaskan bahwa pengembangan kekuatan nuklir Rusia kini menjadi prioritas utama negara itu, pernyataan yang muncul kurang dari tiga minggu setelah perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskwa dan Washington resmi berakhir.
Dalam pidato video yang direkam untuk memperingati Hari Pembela Tanah Air pada 23 Februari, Putin menyebut modernisasi triad nuklir Rusia sebagai keharusan strategis.
"Pengembangan triad nuklir, yang menjamin keamanan Rusia dan memungkinkan kami untuk secara efektif memastikan pencegahan strategis dan keseimbangan kekuatan di dunia, tetap menjadi prioritas tanpa syarat kami," kata Putin.
Pernyataan itu datang tepat setelah New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) berakhir pada 5 Februari lalu yang menandai pertama kalinya sejak 1972 tidak ada satu pun perjanjian yang secara hukum mengikat dan membatasi arsenal nuklir kedua negara. Bersama-sama, Amerika Serikat dan Rusia menguasai sekitar 86% dari total persediaan senjata nuklir dunia.
New START, yang diteken pada 2010, selama ini membatasi masing-masing pihak pada 1.550 hulu ledak strategis yang dikerahkan, serta 700 rudal balistik antarbenua, rudal balistik dari kapal selam, dan pembom berat. Rusia menarik diri dari perjanjian itu pada Februari 2023, meski kedua belah pihak diklaim tetap mematuhi batas numeriknya hingga perjanjian benar-benar habis masa berlakunya.
Moskwa sebelumnya mengusulkan perpanjangan sukarela selama satu tahun untuk memberi ruang negosiasi perjanjian pengganti, namun pemerintahan Trump tidak memberikan respons resmi. Pada hari berakhirnya perjanjian, Presiden Donald Trump menyatakan AS sebaiknya mengejar "perjanjian baru yang lebih baik dan modern yang dapat bertahan lama di masa depan." Menteri Luar Negeri Marco Rubio menambahkan bahwa kesepakatan apa pun harus turut melibatkan China.
China sendiri menolak dilibatkan dalam pembicaraan trilateral, dengan alasan arsenal mereka—sekitar 600 hulu ledak—jauh lebih kecil dibanding dua negara adidaya nuklir itu.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov berupaya meredam kekhawatiran dengan menyatakan bahwa Rusia akan mempertahankan "sikap yang bertanggung jawab dan hati-hati terkait stabilitas strategis dalam persenjataan nuklir." Namun para ahli pengendalian senjata memperingatkan bahwa absennya kerangka kerja yang mengatur dua arsenal terbesar di dunia ini membuka jalan bagi perlombaan senjata baru.
Analisis yang diterbitkan Carnegie Endowment menyebut ambisi Putin melampaui sekadar modernisasi.
"Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan keunggulan atas Barat, termasuk dengan memperkuat ancaman nuklir di semua lini. Hal itu membuat pertumbuhan arsenal rudal dan perlombaan senjata baru menjadi tidak terhindarkan," tulis lembaga tersebut.
Putin juga berjanji memperkuat kekuatan militer konvensional Rusia dengan memanfaatkan pengalaman dari perang hampir empat tahun di Ukraina, termasuk meningkatkan "kesiapan tempur, mobilitas, dan kemampuan untuk beroperasi dalam segala kondisi, bahkan yang paling sulit" di seluruh cabang angkatan bersenjata.
Dengan tidak adanya negosiasi yang berjalan dan konferensi peninjauan Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons yang dijadwalkan berlangsung musim semi ini, runtuhnya New START menempatkan kerangka pengendalian senjata internasional pada titik paling rapuh dalam lebih dari setengah abad.

0Komentar