Sejumlah pemerintah memperkuat imbauan agar warganya meninggalkan Iran di tengah lonjakan ketegangan regional dan kekhawatiran bahwa kebuntuan program nuklir Teheran dapat berujung pada aksi militer Amerika Serikat. India, Korea Selatan, Swedia, Serbia, Polandia, dan Australia termasuk di antara negara yang dalam beberapa hari terakhir mengeluarkan peringatan baru atau memperkeras nada evakuasi, dengan pesan serupa: kesempatan untuk keluar dengan aman bisa menyempit cepat.
Langkah ini datang ketika opsi penerbangan komersial ke dan dari Iran kian terbatas. Lufthansa Group membatalkan seluruh layanan ke Teheran setidaknya hingga 28 Maret dan terus menghindari wilayah udara Iran serta Irak.
European Union Aviation Safety Agency (EASA) memperpanjang buletin yang menyarankan maskapai Uni Eropa menjauhi wilayah udara Iran hingga 31 Maret, mengacu pada “risiko tinggi terhadap penerbangan sipil yang beroperasi di semua ketinggian”.
Maskapai India, IndiGo, menangguhkan rute yang melintasi wilayah udara Iran hingga akhir Februari. Data Flightradar24 menunjukkan lalu lintas di Bandara Internasional Imam Khomeini Teheran kini didominasi maskapai regional dari Uni Emirat Arab, Turki, Qatar, dan Oman.
Kedutaan Besar India di Teheran pada Senin (23/2) mengeluarkan imbauan terbaru yang ditujukan kepada seluruh warga negaranya — mahasiswa, peziarah, pelaku bisnis, dan turis — untuk segera meninggalkan Iran.
“...untuk meninggalkan Iran melalui sarana transportasi yang tersedia, termasuk penerbangan komersial,” demikian bunyi pemberitahuan tersebut.
Kedutaan juga membagikan empat hotline darurat bagi warga yang membutuhkan bantuan. Sekitar 10.000 warga India diperkirakan tinggal di Iran, banyak di antaranya mahasiswa kedokteran dan pekerja sektor energi.
Peringatan bernada mendesak juga disampaikan Kedutaan Besar Korea Selatan. Perwakilan diplomatik Seoul memperingatkan bahwa “perjalanan udara sipil dapat ditangguhkan jika situasi lokal memburuk dengan cepat” dan meminta warga negaranya berangkat selagi penerbangan komersial masih beroperasi.
Pemerintah Korea Selatan menetapkan peringatan perjalanan Level 3 untuk seluruh Iran, tingkat kedua tertinggi yang merekomendasikan keberangkatan.
Dari Eropa, Menteri Luar Negeri Swedia Maria Malmer Stenergard menyampaikan pesan langsung melalui X pada 21 Februari. Ia menyebut situasi sebagai “imbauan mendesak” dan meminta warga Swedia meninggalkan Iran selagi masih ada kesempatan.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk pada 19 Februari memperkeras nada peringatan. Ia meminta warga Polandia untuk segera meninggalkan Iran, seraya mengingatkan bahwa “dalam beberapa jam, belasan jam, atau beberapa puluh jam ke depan, evakuasi mungkin tidak lagi dapat dilakukan.”
Australia lebih dulu mengeluarkan imbauan agar warganya pergi “sesegera mungkin,” disertai peringatan bahwa penutupan ruang udara dan pembatalan penerbangan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Gelombang peringatan ini mengikuti ultimatum Presiden AS Donald Trump pada 20 Februari yang memberi Iran waktu 10 hingga 15 hari untuk menyetujui kesepakatan nuklir atau menghadapi “hal-hal yang sangat buruk.” Pada periode yang sama, AS meningkatkan pengerahan militernya di kawasan.
Kelompok tempur kapal induk USS Gerald R. Ford memasuki Laut Mediterania melalui Selat Gibraltar dan bergerak ke Timur Tengah untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang telah berada di Laut Arab.
Putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung antara Washington dan Teheran yang dimediasi Oman dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu menyatakan ia meyakini “solusi diplomatik ada dalam jangkauan kita”, namun menegaskan Iran tidak akan tunduk pada tekanan. Teheran berulang kali memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas.

0Komentar