![]() |
| Presiden Donald Trump mengumumkan sistem pertahanan rudal Golden Dome, Selasa, 20 Mei 2025, di Kantor Oval. | WHITE HOUSE/JOYCE N. BOGHOSIAN |
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan kembali rencana Washington menempatkan senjata di luar angkasa sebagai bagian dari sistem pertahanan rudal Golden Dome. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungannya ke perusahaan antariksa Sierra Space di Louisville, Colorado, pada 23 Februari 2026 dalam tur nasional bertajuk “Arsenal of Freedom”.
Golden Dome digambarkan sebagai sistem pertahanan berbasis antariksa yang menggabungkan konstelasi satelit generasi baru dengan jaringan interseptor di orbit. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi dan menghancurkan rudal balistik, senjata hipersonik, hingga drone sebelum mencapai wilayah AS.
Di hadapan pekerja dan kontraktor pertahanan, Hegseth menyebut proyek itu sebagai lompatan strategis. “Begitulah cara kita membangun supremasi orbital yang total dan menyeluruh,” katanya.
Program Golden Dome pertama kali diumumkan Presiden Donald Trump pada Mei 2025. Gedung Putih kala itu memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai US$175 miliar. Kongres kemudian menyetujui alokasi awal US$25 miliar melalui paket rekonsiliasi anggaran.
Dokumen anggaran Pentagon yang dirilis 23 Februari menunjukkan US$24,4 miliar dialokasikan untuk pengembangan sistem pertahanan rudal baru dalam kerangka Golden Dome. Dari jumlah tersebut, US$5,6 miliar ditujukan bagi pengembangan senjata antariksa untuk menghancurkan rudal hipersonik pada fase peluncuran.
Namun, laporan Foreign Policy pada hari yang sama mengungkapkan sekitar US$14 miliar dana untuk kapabilitas antariksa Golden Dome masih “menunggu persetujuan” dari Office of Management and Budget Gedung Putih.
Pentagon menargetkan uji coba besar pertama pada kuartal keempat 2028 dengan kode FTI-X. Uji tersebut akan mengintegrasikan berbagai sensor dan sistem senjata untuk menghadapi beberapa target secara simultan. Perusahaan pertahanan Lockheed Martin menyasar demonstrasi interseptor antariksa pada 2028, sedangkan Northrop Grumman telah menjalankan pengujian darat.
Rencana ini memicu kritik dari Moskwa dan Beijing. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyebut Golden Dome sebagai “pendekatan sembrono” yang “secara langsung merusak fondasi stabilitas strategis.”
Pemerintah China menilai proyek tersebut memiliki “implikasi ofensif yang kuat” dan berpotensi meningkatkan risiko perlombaan senjata di luar angkasa.
Di dalam negeri, sejumlah pakar pertahanan mempertanyakan kelayakan teknisnya. Interseptor antariksa dituntut mampu menghantam target yang melaju hingga Mach 20 dengan presisi milidetik—kemampuan yang hingga kini belum pernah dibuktikan dalam skala produksi massal.
Anggota Kongres dari Partai Republik maupun Demokrat juga meminta Pentagon memaparkan rincian lebih lengkap mengenai arsitektur akhir sistem, proyeksi biaya jangka panjang, serta jadwal pengembangan sebelum dana tambahan dicairkan.

0Komentar