Pejabat Emirati, AS, Ukraina, dan Rusia duduk di Istana Al Shati di Abu Dhabi selama pembicaraan trilateral yang diselenggarakan UEA antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina pada 23 Januari 2026. | UEA PRESIDENTIAL COURT/EPA


Delegasi Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat menggelar putaran kedua perundingan damai trilateral di Abu Dhabi, Rabu (4/2), di tengah dampak serangan udara besar Rusia ke Ukraina yang terjadi sehari sebelumnya. Pertemuan ini melibatkan pejabat tinggi dari ketiga negara dan dimulai dalam format trilateral sebelum dibagi ke kelompok kerja terpisah untuk menyelaraskan posisi masing-masing pihak.

Kepala delegasi Ukraina Rustem Umerov, yang juga menjabat sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, mengumumkan dimulainya perundingan melalui Telegram. Ia menyebut tahap lanjutan negosiasi telah berjalan dan akan dilanjutkan dengan sinkronisasi posisi bersama setelah pembahasan teknis dipecah ke sejumlah tim kerja.

Perundingan berlangsung saat Ukraina baru saja menghadapi gelombang serangan udara Rusia pada Senin malam. Otoritas Ukraina melaporkan 71 rudal dan 450 drone diluncurkan, termasuk hampir 300 pesawat nirawak tipe Shahed, yang menargetkan infrastruktur energi ketika suhu musim dingin turun hingga –24°C di beberapa wilayah. Serangan itu berdampak pada sistem pemanas di kota seperti Kyiv, Kharkiv, dan Dnipro, membuat ratusan ribu warga terdampak pemadaman pemanas. Sedikitnya 10 orang dilaporkan terluka.

Presiden Volodymyr Zelenskyy menilai serangan tersebut menunjukkan sikap Rusia tidak berubah. Dalam pernyataan di media sosial, ia menyebut Moskwa memanfaatkan gencatan senjata terbatas pada infrastruktur energi yang dimediasi Presiden Donald Trump dan berakhir 1 Februari untuk memperkuat persenjataan, bukan mendorong diplomasi. 

“Setiap serangan Rusia seperti ini mengonfirmasi bahwa sikap di Moskow tidak berubah: mereka terus bertaruh pada perang dan kehancuran Ukraina,” tulis Zelenskyy, seraya menambahkan kerja tim perunding akan disesuaikan.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha juga menyinggung serangan tersebut di tengah proses diplomatik. Ia mengatakan, “baik upaya diplomatik yang diantisipasi di Abu Dhabi minggu ini maupun janjinya kepada Amerika Serikat tidak menghentikannya untuk melanjutkan teror terhadap rakyat biasa di musim dingin yang paling keras”.

Putaran ini menyusul pertemuan awal pada 23–24 Januari di Abu Dhabi. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov sebelumnya menggambarkan pembicaraan awal itu sebagai konstruktif, meski ia menegaskan masih ada pekerjaan serius yang harus diselesaikan.

Isu wilayah tetap menjadi hambatan utama. Rusia menuntut Ukraina mundur dari sekitar 20% wilayah Donetsk yang masih berada di bawah kendali Kyiv. Di sisi lain, Ukraina menolak menyerahkan wilayah yang tidak berhasil direbut Rusia secara militer dan mendorong pembekuan konflik di sepanjang garis depan saat ini, disertai jaminan keamanan kuat dari mitra Barat.

Delegasi Rusia kembali dipimpin Laksamana Igor Kostyukov, direktur badan intelijen militer GRU, yang telah dikenai sanksi Barat terkait invasi ke Ukraina. Sementara itu, tim AS mencakup utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Trump.