Pemandangan Bandara Internasional Beijing Daxing. | BEIJING DAXING INTERNATIONAL AIRPORT


Wisatawan China mulai mengalihkan tujuan perjalanan luar negeri mereka menjelang libur Tahun Baru Imlek 2026. Jepang yang tahun lalu menjadi destinasi favorit kini ditinggalkan, sementara negara seperti Thailand, Rusia, dan Korea Selatan mencatat lonjakan minat kunjungan di tengah perubahan situasi hubungan bilateral.

Libur nasional selama sembilan hari yang berlangsung pada 15–23 Februari 2026 diperkirakan memicu lonjakan mobilitas domestik dan internasional. Otoritas China memperkirakan total perjalanan penumpang selama periode mudik Festival Musim Semi selama 40 hari mencapai 9,5 miliar perjalanan, seperti dilaporkan Reuters. Perayaan tahun ini menandai Tahun Kuda dalam kalender lunar.

Perubahan arah perjalanan itu terjadi setelah Jepang keluar dari daftar sepuluh besar tujuan wisata luar negeri wisatawan China. Laporan NHK menyebut Thailand kini kembali menjadi destinasi utama, menggantikan posisi Jepang yang sempat mendominasi kunjungan wisatawan China pada 2025.

Penurunan rute penerbangan

Data penerbangan menunjukkan penurunan signifikan pada rute China–Jepang. Selama pekan pertama periode mudik Festival Musim Semi, 2–8 Februari 2026, jumlah penerbangan antara kedua negara turun 1.292 penerbangan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan itu setara 49,2%, menurut data Flight Master yang dikutip Global Times.

Selain itu, seluruh penerbangan di 58 rute China–Jepang sempat dibatalkan dalam periode tersebut. Rute menuju Osaka menjadi jalur dengan pembatalan terbanyak.

Kondisi tersebut tidak lepas dari imbauan pemerintah China yang meminta warga menunda perjalanan ke Jepang. Pada 26 Januari, Kementerian Luar Negeri China mengingatkan pelancong untuk mempertimbangkan ulang perjalanan selama liburan dengan alasan memburuknya keamanan publik dan potensi ancaman terhadap warga negara China.

Imbauan itu muncul setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025 yang mengindikasikan kemungkinan respons militer Tokyo jika terjadi serangan terhadap Taiwan.

Dampaknya mulai terlihat sejak akhir tahun lalu. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mencatat jumlah wisatawan China ke Jepang turun sekitar 45% secara tahunan pada Desember 2025 menjadi sekitar 330.000 kunjungan.

Rusia jadi alternatif baru

Di sisi lain, Rusia justru mengalami lonjakan permintaan perjalanan dari wisatawan China. Pemesanan perjalanan ke negara tersebut tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan itu dipicu kebijakan pemerintah Rusia yang mulai Desember 2025 memberikan fasilitas bebas visa bagi warga negara China dengan masa tinggal hingga 30 hari. Kebijakan tersebut berlaku hingga September 2026 dan langsung meningkatkan minat wisata di sejumlah platform perjalanan China.

Direktur pemasaran dan komunikasi Dragon Trail Research, Sienna Parulis-Cook, menilai tren perjalanan tersebut berpotensi berlanjut sepanjang tahun.

"Sepanjang sisa tahun ini, kemungkinan besar kita akan menyaksikan peningkatan perjalanan warga Tiongkok ke Rusia," katanya kepada Reuters.

Selain Rusia, Thailand juga memperoleh dampak positif dari pergeseran preferensi wisata. Faktor iklim menjadi salah satu alasan meningkatnya minat kunjungan.

"Thailand telah merebut kembali statusnya sebagai destinasi outbound terkemuka karena iklimnya yang menguntungkan sementara sebagian besar China masih dingin," ujar Zhou Weihong dari Spring Tour.

Dampak terhadap industri pariwisata jepang

Perubahan pola perjalanan ini turut memengaruhi sektor pariwisata Jepang. Agen perjalanan terbesar Jepang, JTB, memperkirakan jumlah wisatawan asing ke negara tersebut berpotensi turun sekitar 3% tahun ini akibat ketidakpastian jumlah kunjungan dari China.

Di sisi lain, sejumlah department store Jepang mulai menargetkan wisatawan dari Taiwan dan Korea Selatan untuk menutup potensi penurunan pendapatan dari wisatawan China.

Situasi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya mobilitas perjalanan internasional warga China selama periode libur panjang Imlek tahun ini, yang menjadi salah satu musim perjalanan tersibuk setiap tahunnya.