Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf saat Soft Launching Nahdlatul Ulama-Harvest Maslaha (NHM) di Jakarta, Jumat (30/1/2026). | PBNU


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi meluncurkan Nahdlatul Ulama Harvest Maslaha (NHM), sebuah platform investasi syariah global, dalam acara yang digelar di JW Marriott Hotel Jakarta, Jumat (30/1/2026). 

Peluncuran ini melibatkan PBNU dan Harvest Advisors sebagai mitra strategis, berlangsung menjelang puncak peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1). Melalui NHM, PBNU menargetkan penguatan peran Indonesia dalam ekosistem investasi syariah global dengan mengintegrasikan tata kelola internasional dan prinsip syariah.

Peluncuran NHM merupakan bagian dari agenda besar PBNU dalam merespons kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional dan peluang ekonomi syariah lintas negara. 

PBNU menggandeng Harvest Advisors, institusi manajemen investasi global berbasis di Singapura, yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan dana berbasis syariah. Kerja sama ini dirancang untuk menjembatani modal global dengan sektor riil di Indonesia, seiring meningkatnya minat terhadap instrumen investasi yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan kepatuhan syariah.

Dalam operasionalnya, NHM menerapkan dual governance system yang memadukan praktik terbaik manajemen investasi internasional dengan kerangka syariah PBNU. Sistem ini mencakup pengawasan bersama antara manajemen profesional dan Dewan Pengawas Syariah guna memastikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah sekaligus standar tata kelola global.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menjelaskan bahwa pembentukan NHM merupakan bagian dari ikhtiar organisasi dalam menghadapi perubahan lanskap ekonomi global tanpa meninggalkan nilai dasar NU.

“Investasi syariah bukan semata soal keuntungan finansial, tetapi tentang menjaga amanah, keberkahan, dan keberlanjutan,” ujar Yahya Cholil Staquf dalam sambutannya.

Dari pihak mitra, Managing Director Harvest Advisors sekaligus CEO NHM Andrew Tan menyampaikan bahwa kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas akses Indonesia terhadap arus modal syariah internasional. Menurut dia, NHM dirancang sebagai penghubung antara investor global, sektor riil, dan prinsip syariah yang berorientasi pada dampak sosial.

“NHM hadir sebagai jembatan antara modal global, sektor riil, dan nilai-nilai syariah yang berorientasi pada dampak sosial,” kata Andrew Tan.

Pada kesempatan yang sama, PBNU juga memperkenalkan Sharia Global Services (SGS) sebagai pilar pendukung ekosistem NHM. SGS difokuskan pada layanan kepatuhan syariah internasional, mulai dari tata kelola, sertifikasi halal, hingga pengawasan integritas industri syariah lintas sektor dan negara.

Sekretaris Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiah menyebutkan bahwa SGS telah mulai menerima permintaan kerja sama dari sejumlah negara di Asia. Menurut dia, permintaan tersebut datang dari berbagai pusat ekonomi regional.

“Yang sudah order ke kita itu ada China, Hongkong, Beijing, ada Taiwan, dan ada Singapura,” ungkap Ufi.

Melalui penguatan NHM dan dukungan SGS, PBNU mengarahkan arus investasi syariah ke sektor-sektor prioritas, antara lain industri halal, pertanian berkelanjutan, energi terbarukan, dan infrastruktur publik. Langkah ini diposisikan sebagai bagian dari upaya mendorong pembiayaan berbasis syariah yang terhubung dengan kebutuhan pembangunan dan penguatan posisi Indonesia dalam jaringan ekonomi syariah global.