Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyambut kepulangan para prajurit yang telah bertugas di Rusia, Jumat, 12 Desember 2025. | KCNA / KNS


Tentara Korea Utara yang beroperasi di bawah komando Rusia dilaporkan terlibat langsung dalam serangan lintas perbatasan terhadap Ukraina. Intelijen Pertahanan Ukraina (HUR) menyebut pasukan tersebut menembakkan artileri, peluncur roket ganda, dan mengoperasikan drone dari wilayah Oblast Kursk, Rusia, ke arah komunitas perbatasan di Oblast Sumy. Informasi itu disampaikan HUR dalam laporan yang dirilis pada 4 Februari 2026.

Menurut HUR, sejak Januari 2026 satu kontingen tentara Korea Utara ditempatkan di Oblast Kursk dan secara rutin menjalankan serangan terhadap posisi Ukraina di wilayah perbatasan. Operasi tersebut dilakukan dalam struktur komando Rusia dan mencakup tembakan artileri tabung, roket, serta aktivitas pengintaian udara. Pernyataan HUR dipublikasikan melalui kanal resmi mereka di Telegram.

Mengutip Korean Central News Agency (KCNA) Badan intelijen Ukraina menjelaskan bahwa keterlibatan militer Pyongyang tidak hanya bersifat operasional, tetapi juga berorientasi pada peningkatan kapasitas tempur. HUR menilai penguasaan teknologi tanpa awak dan pengalaman perang modern menjadi salah satu tujuan utama pengiriman pasukan Korea Utara ke medan konflik Rusia–Ukraina.

“Di bawah komando Rusia, tentara Korea Utara menembakkan artileri tabung dan roket, melakukan tugas pengintaian udara dan pengintaian artileri, serta mengarahkan serangan peluncur roket ganda,” kata HUR dalam pernyataannya.

Disisi lain, HUR mengungkapkan bahwa Moskwa dan Pyongyang telah menyepakati rotasi pasukan secara berkala di Oblast Kursk. Sejak penempatan awal, sekitar 3.000 tentara Korea Utara disebut telah kembali ke negara asal mereka. Sebagian besar dari personel tersebut, menurut HUR, kini berperan sebagai instruktur militer untuk menyebarkan keterampilan perang modern yang mereka peroleh selama bertugas di Ukraina.

Pola ini sebelumnya juga disoroti oleh Andrii Cherniak, juru bicara intelijen militer Ukraina. Pada Januari lalu, ia memperingatkan bahwa pasukan yang kembali dari Rusia berpotensi memperkuat kapasitas tempur angkatan bersenjata Korea Utara secara lebih luas. 

“Kita tidak bisa memandang hanya 10.000 atau 20.000 personel saja yang telah diterjunkan dalam perang di Ukraina. Mereka harus dipandang sebagai ‘sumber daya instruktur’,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Korea Utara pertama kali mengirimkan sekitar 11.000 hingga 12.000 personel ke Rusia pada akhir 2024, menyusul serangan lintas perbatasan Ukraina ke wilayah Kursk. Penempatan tersebut dimaksudkan untuk membantu Rusia mempertahankan kawasan perbatasan. Hingga akhir 2025, badan intelijen Korea Selatan memperkirakan sekitar 2.000 tentara Korea Utara tewas selama operasi tersebut.

Lebih jauh, sumber-sumber Ukraina melaporkan adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan tempur pasukan Korea Utara. Prajurit yang pada awalnya minim pengalaman dalam penggunaan peralatan komunikasi, perang elektronik, dan operasi drone, disebut telah sepenuhnya beradaptasi setelah diintegrasikan dengan unit-unit Rusia.

Sementara itu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un secara terbuka menyambut kemitraan militer dengan Rusia. Dalam pesan Tahun Barunya, Kim memuji hubungan kedua negara sebagai “aliansi yang tak terkalahkan”. 

Pada Desember 2025, Pyongyang juga mengakui kepulangan sejumlah insinyur tempur dari Kursk, dengan Kim memberikan penghormatan kepada sembilan prajurit Korea Utara yang gugur dalam pertempuran.