Kemacetan lalu lintas akibat banjir parah di ruas Jalan Tol Tangerang-Merak, tepatnya di Kilometer 50 wilayah Cikande, Kabupaten Serang, Banten pada Jumat, 23 Januari 2026. | ANTARA FOTO


Jakarta kembali dihadapkan pada persoalan banjir tahunan yang belum tertangani secara menyeluruh. Dalam diskusi bertajuk Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset pada Rabu (4/2), peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Budi Heru Santosa memaparkan tiga faktor utama pemicu banjir ibu kota, yakni penurunan permukaan tanah, curah hujan ekstrem, serta sistem drainase dan sungai yang belum berfungsi optimal. Diskusi tersebut digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, dan menyoroti kompleksitas masalah banjir dari sisi ilmiah dan kebijakan.

Kondisi banjir di Jakarta, menurut BRIN, tidak berdiri sendiri. Tekanan lingkungan terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan air, pesatnya alih fungsi lahan, serta keterbatasan infrastruktur dasar. Faktor-faktor ini saling terkait dan memperbesar risiko genangan, terutama di wilayah dataran rendah dan pesisir.

"Jakarta saat ini menghadapi tekanan yang sangat berat akibat persoalan multidimensi yang saling berkelindan," kata Budi saat berbicara di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat.

Tanah Jakarta terus "tenggelam"

BRIN mencatat penurunan muka tanah di sejumlah wilayah Jakarta telah mencapai lebih dari 10 sentimeter per tahun. Temuan ini diperoleh dari pengolahan citra satelit yang memantau perubahan permukaan tanah secara berkala. 

Penurunan tersebut dipicu oleh kondisi alami tanah aluvial yang mudah terkompaksi serta pengambilan air tanah secara masif oleh rumah tangga dan pelaku usaha.

Menurut Budi, keterbatasan layanan air perpipaan membuat masyarakat masih bergantung pada air tanah. Penyedotan berlebihan menyebabkan rongga dalam lapisan tanah kehilangan kandungan air, sehingga memicu pemampatan tanah secara bertahap. Fenomena ini paling banyak ditemukan di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan sebagian Jakarta Pusat.

Dalam risetnya, BRIN menggambarkan Jakarta mengalami bowl effect, yakni kondisi daratan yang lebih rendah dari permukaan laut dan dikelilingi tanggul. Situasi ini membuat air hujan sulit mengalir keluar secara alami dan sangat bergantung pada sistem pompa. 

"Air hujan yang masuk sulit mengalir keluar tanpa bantuan pompa," jelas Budi.

Infrastruktur drainase dan alih fungsi lahan

Di sisi lain, kapasitas drainase dan sungai yang terbatas turut memperburuk banjir. Pendangkalan sungai serta penumpukan sampah mengurangi daya tampung air saat hujan lebat. 

Selain itu, perubahan tata guna lahan akibat pembangunan perumahan dan gedung membuat daya resap tanah menurun. Permukaan yang tertutup beton dan aspal membuat air hujan langsung mengalir ke saluran, bukan meresap ke dalam tanah.

Merespons kondisi tersebut, Gubernur Jakarta Pramono Anung menginstruksikan normalisasi tiga sungai utama, yakni Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama. Normalisasi Sungai Ciliwung yang sempat terhenti sejak 2017 kini kembali dilanjutkan dan ditargetkan rampung pada 2026 sebagai bagian dari solusi jangka menengah hingga panjang.

BRIN menilai penanganan banjir Jakarta membutuhkan pendekatan terpadu. Langkah yang disarankan mencakup penerapan sistem polder di kawasan rawan, optimalisasi early warning system terintegrasi, serta pengendalian pengambilan air tanah. Penyediaan layanan air perpipaan secara merata juga dipandang krusial untuk menekan laju penurunan muka tanah. 

"Pengendalian pengambilan air tanah serta penyediaan air perpipaan menjadi langkah penting untuk menekan laju penurunan muka tanah di Jakarta," tegas Budi.