Ilustrasi silo ICBM Titan II di Titan Missile Museum Arizona, Amerika Serikat. | WIKIMEDIA COMMONS/STEVE JURVETSON


Perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia akan resmi berakhir pada Kamis, 5 Februari 2026. Berakhirnya New Strategic Arms Reduction Treaty atau New START menandai untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun tidak ada perjanjian yang membatasi jumlah senjata nuklir strategis dari dua kekuatan atom terbesar dunia.

Perjanjian itu berakhir tanpa perpanjangan setelah usulan Presiden Rusia Vladimir Putin pada September lalu untuk melanjutkan New START selama satu tahun tidak direspons secara formal oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Situasi ini terjadi di tengah memburuknya hubungan Washington dan Moskwa, serta meningkatnya kekhawatiran global terhadap risiko eskalasi nuklir.

New START mengatur batas maksimum 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan serta 700 peluncur, termasuk rudal balistik antarbenua, rudal balistik berbasis kapal selam, dan pesawat pembom berat milik masing-masing negara. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 2010 dan diperpanjang lima tahun pada 2021, menggunakan opsi perpanjangan satu kali yang kini tidak lagi tersedia.

Negosiasi tak berlanjut

New START ditandatangani oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev sebagai bagian dari upaya menahan perlombaan senjata nuklir pasca-Perang Dingin. Perpanjangan terakhir dilakukan di awal masa pemerintahan Presiden Joe Biden, beberapa pekan sebelum perjanjian itu kedaluwarsa.

Namun, ketika Putin mengajukan perpanjangan sementara pada September 2025, Gedung Putih tidak menindaklanjutinya dengan pembicaraan resmi. Trump sempat merespons singkat usulan tersebut di hadapan wartawan dengan mengatakan gagasan itu “terdengar bagus”, tetapi tidak ada langkah diplomatik lanjutan.

Medvedev mengatakan Rusia belum menerima tanggapan substantif dari Washington. Dalam wawancara dengan surat kabar Kommersant, ia menyebut Moskwa masih menunggu sikap resmi AS, meski waktu kian menipis.

Seorang pejabat Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya mengatakan Trump ingin kesepakatan pengendalian senjata yang lebih luas, termasuk melibatkan Tiongkok. Menurut pejabat itu, presiden akan menentukan arah kebijakan tersebut “sesuai jadwalnya sendiri”.

Peringatan risiko nuklir

Berakhirnya New START turut memicu peringatan dari kalangan ilmuwan dan pengamat keamanan global. Bulletin of the Atomic Scientists pada 27 Januari memajukan jarum Doomsday Clock menjadi 85 detik menuju tengah malam, posisi terdekat sejak jam simbolis itu diperkenalkan.

Lembaga tersebut menyoroti meningkatnya sikap agresif dan nasionalistik negara-negara bersenjata nuklir sebagai salah satu faktor utama. Kondisi ini dinilai mempersempit ruang kendali risiko dan transparansi militer.

Jon Wolfsthal, direktur risiko global di Federation of American Scientists, menyebut perpanjangan New START sebagai peluang yang relatif mudah. 

“Ini adalah kesempatan yang seharusnya dimanfaatkan beberapa bulan lalu,” ujarnya.

Sementara itu, Daryl Kimball, direktur eksekutif Arms Control Association, menilai Trump memiliki naluri yang tepat soal pentingnya pembatasan senjata, tetapi belum diikuti strategi yang jelas. Ia juga menyinggung berkurangnya peran diplomat karier di pemerintahan AS yang dinilai memperumit negosiasi teknis.

Pasca-berlakunya New START

Secara praktik, implementasi New START sudah melemah sejak Rusia menangguhkan sejumlah ketentuan utama, termasuk inspeksi di lokasi, pada Februari 2023. Langkah itu diambil setelah hubungan Moskwa dan Washington memburuk akibat invasi Rusia ke Ukraina. Meski begitu, kedua negara saat itu masih menyatakan mematuhi batas jumlah hulu ledak.

Beberapa analis Rusia menyebut perjanjian tersebut pada dasarnya sudah tidak berjalan. Alexander Khramchikhin, analis militer Rusia, mengatakan New START kini tinggal formalitas. 

“Jelas perjanjian ini sudah mencapai akhirnya,” katanya.

Berakhirnya kesepakatan ini juga terjadi menjelang Konferensi Peninjauan Traktat Non-Proliferasi Nuklir 2026. Dalam forum tersebut, negara-negara pemilik senjata nuklir diharapkan menunjukkan kemajuan konkret dalam upaya pelucutan senjata, di tengah absennya kerangka pembatas strategis antara AS dan Rusia.