Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, menyampaikan pidato pada sesi pleno 'Prospek Ekonomi dan Politik Israel' di Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia 2014 di Pusat Kongres di Davos, 23 Januari 2014. | WEF, CC BY-NC-SA 2.0/FLICKR


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kesepakatan nuklir apa pun antara Amerika Serikat dan Iran harus mencakup pembongkaran total infrastruktur nuklir Iran, bukan sekadar penghentian pengayaan uranium. Pernyataan itu ia sampaikan pada Minggu (15/2) di Yerusalem, menjelang putaran kedua pembicaraan AS–Iran yang dijadwalkan berlangsung Selasa di Jenewa.

Berbicara dalam Conference of Presidents of Major American Jewish Organizations' 51st Annual National Leadership Mission, Netanyahu menguraikan syarat yang ia klaim telah ia sampaikan kepada Presiden AS Donald Trump saat pertemuan di Gedung Putih pekan lalu.

Ia menegaskan, “Tidak boleh ada kemampuan pengayaan — bukan menghentikan proses pengayaan, tetapi membongkar peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan Anda melakukan pengayaan sejak awal,” seperti dikutip Reuters.

Menurut Netanyahu, ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi Teheran dalam kesepakatan mendatang. Pertama, seluruh uranium yang telah diperkaya harus dikeluarkan dari wilayah Iran. Kedua, semua peralatan dan fasilitas pengayaan dibongkar. Ketiga, program rudal balistik Iran dibatasi hingga jarak 300 kilometer, merujuk pada standar Missile Technology Control Regime. Keempat, Iran diminta membubarkan apa yang ia sebut sebagai “poros teror”, termasuk kelompok proksi seperti Hizbullah dan Hamas.

Selain itu, Netanyahu meminta adanya inspeksi ketat tanpa pemberitahuan sebelumnya terhadap fasilitas nuklir Iran. Ia merujuk pada rekam jejak Teheran yang menurutnya tidak transparan. “Iran bisa diandalkan dalam satu hal — mereka berbohong dan menipu,” ujarnya di hadapan peserta forum tersebut.

Ia juga menyatakan keraguannya bahwa kesepakatan baru dapat tercapai. “Saya sangat skeptis tentang kesepakatan masa depan dengan Iran,” kata Netanyahu, seraya menambahkan bahwa Trump menilai Iran melewatkan kesempatan untuk mencapai kesepakatan waktu lalu dan ingin mencapainya kali ini.

Pernyataan itu muncul di tengah persiapan putaran kedua dialog tidak langsung antara Teheran dan Washington. Kementerian Luar Negeri Swiss pada Sabtu (14/2) mengonfirmasi bahwa kedua negara akan kembali bertemu di Jenewa pekan ini, dengan Oman berperan sebagai tuan rumah perundingan. Sebelumnya, pada 6 Februari, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan Timur Tengah AS Steve Witkoff menggelar diskusi awal secara tidak langsung.

Pemerintahan Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium sama sekali dalam kesepakatan baru. Di sisi lain, Teheran menolak syarat tersebut. 

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi mengatakan kepada BBC pada Minggu (15/2) bahwa Iran bersedia membahas pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi, namun kebijakan “nol pengayaan” tidak dapat dinegosiasikan. Ia juga menolak memasukkan program rudal balistik Iran dalam pembicaraan.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump juga mengumumkan pengerahan kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah. Ia memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan sangat traumatis bagi Iran, dan menyebut pergantian rezim mungkin menjadi “hal terbaik yang bisa terjadi”.

Ketegangan diplomatik ini berlangsung di tengah kebuntuan panjang atas program nuklir Iran, yang sejak lama menjadi sorotan negara-negara Barat dan sekutu regional AS, termasuk Israel.