![]() |
| Suasana Konferensi Keamanan Munich (Munich Security Conference/MSC) tahun 2024. | MSC |
Amerika Serikat menyoroti peran Tiongkok dalam perang Ukraina saat Konferensi Keamanan Munich ke-62 berlangsung pada Jumat (14/2). Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker, menyebut Tiongkok dan Rusia sebagai tantangan keamanan global paling mendesak, sekaligus menegaskan bahwa Beijing memiliki pengaruh besar terhadap Moskwa.
Berbicara di forum tahunan yang mempertemukan para pemimpin dunia, menteri pertahanan, dan pejabat kebijakan luar negeri itu, Whitaker mengatakan Tiongkok dapat memainkan peran penting dalam mendorong Presiden Rusia, Vladimir Putin, menuju penyelesaian damai.
Konferensi yang digelar di Munich, Jerman, tersebut berlangsung selama tiga hari. Agenda utamanya membahas keamanan Eropa, perang di Ukraina, serta hubungan transatlantik di tengah perubahan kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Donald Trump.
Menurut Whitaker, dukungan ekonomi dan teknologi dari Beijing membuat Rusia mampu mempertahankan operasinya di Ukraina. Ia sebelumnya juga menyebut Tiongkok bisa menjadi game changer jika memilih menggunakan pengaruhnya untuk menekan Moskwa.
Dukungan Tiongkok untuk Rusia
Dalam pernyataannya yang dilaporkan Interfax-Ukraine, Whitaker menilai Tiongkok secara efektif membantu menopang perang Rusia melalui pembelian energi dan pengiriman teknologi yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.
"Tiongkok membeli terlalu banyak minyak dan gas Rusia saat ini. Mereka memberikan terlalu banyak teknologi dual-use kepada Rusia untuk melanjutkan perang ini," kata Whitaker.
Ia menambahkan, "Tiongkok perlu bergabung dengan Amerika Serikat dan sekutu kami lainnya untuk menekan Rusia mengakhiri konflik."
Teknologi yang dimaksud mencakup microchip, semikonduktor, serta komponen untuk drone dan sistem peperangan elektronik. Negara-negara Barat sebelumnya juga menyampaikan kekhawatiran bahwa komponen tersebut memperkuat kapasitas industri pertahanan Rusia.
Pandangan serupa pernah disampaikan Presiden Finlandia, Alexander Stubb. Pada 2024 lalu, ia menyebut satu panggilan telepon dari Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dapat memengaruhi arah perang, mengingat ketergantungan ekonomi Rusia terhadap Beijing.
Di sisi lain, pemerintah Tiongkok berulang kali menyatakan posisinya netral dan menyerukan dialog sebagai jalan penyelesaian konflik.
Pembicaraan damai menemui jalan buntu
Pernyataan Whitaker muncul ketika pembicaraan tidak langsung antara Rusia, Ukraina, dan AS belum menunjukkan kemajuan berarti. Sejumlah pejabat Eropa menyebut masih ada perbedaan mendasar terkait wilayah dan jaminan keamanan.
Isu yang belum terselesaikan antara lain tuntutan Rusia atas seluruh wilayah Donbas serta kemungkinan kehadiran pasukan Barat sebagai bagian dari jaminan keamanan bagi Ukraina.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, hadir di Munich untuk mencari tambahan dukungan pertahanan udara dan komitmen persenjataan dari negara-negara Eropa. Ia dijadwalkan bertemu sejumlah pemimpin Uni Eropa dan NATO di sela konferensi.
Menteri Luar Negeri Latvia, Baiba Braže, mengatakan kepada Politico bahwa "kami masih belum melihat satu pun indikasi bahwa Rusia serius, baik mengenai pembicaraan damai maupun hasilnya".
Meski sejumlah proposal gencatan senjata disebut telah dibahas, hingga kini belum ada kesepakatan resmi yang diumumkan.
Seruan tingkatkan anggaran militer
Selain isu Ukraina, forum di Munich juga menyoroti hubungan AS dan sekutu Eropa. Pemerintahan Trump mendorong negara-negara anggota NATO meningkatkan belanja pertahanan mereka.
Whitaker membela tuntutan tersebut dan membandingkan ketergantungan keamanan Eropa terhadap AS seperti anak-anak yang pada akhirnya perlu "mencari pekerjaan".
Pernyataan itu mendapat respons dari Kanselir Jerman, Friedrich Merz. Dalam pidatonya, Merz mengatakan "kepemimpinan Amerika Serikat telah tertantang, dan mungkin telah hilang," seraya mendorong perbaikan hubungan transatlantik untuk menghadapi ancaman dari China dan Rusia.
Perang di Ukraina kini memasuki tahun ketiga. Di tengah situasi tersebut, dukungan militer dan tekanan diplomatik dari berbagai pihak masih menjadi fokus utama pembahasan dalam forum keamanan global tahun ini.

0Komentar