![]() |
| Sistem Peluncuran Luar Angkasa (Space Launch System/SLS) NASA dengan wahana antariksa Orion di puncaknya, yang merupakan bagian dari program Artemis. | NASA |
Peluncuran misi Artemis II milik NASA yang akan membawa astronaut mengitari Bulan ditunda hingga paling cepat Maret 2026 setelah tim teknis menemukan kebocoran bahan bakar saat gladi resik pra-peluncuran. Badan antariksa Amerika Serikat itu sebelumnya menargetkan peluncuran pada 8 Februari, namun jadwal digeser guna memberi waktu peninjauan data dan uji ulang sistem roket di Kennedy Space Center, Florida.
Penundaan diputuskan setelah uji coba dua hari yang berlangsung akhir Januari hingga awal Februari menunjukkan kendala pada sistem pengisian hidrogen cair roket Space Launch System (SLS). Masalah muncul ketika laju kebocoran meningkat menjelang akhir simulasi hitung mundur, sehingga tim menghentikan latihan sekitar lima menit sebelum jadwal selesai.
Pejabat NASA menjelaskan hasil uji coba tersebut dalam pernyataan resmi yang dikutip Space.com.
“Para engineer menghadapi sejumlah tantangan selama uji coba dua hari dan memenuhi banyak target yang direncanakan,” kata pejabat NASA tersebut. Ia menambahkan, “Untuk memungkinkan tim meninjau data dan melakukan gladi bersih kedua, NASA kini akan menargetkan Maret sebagai kesempatan peluncuran paling awal untuk penerbangan uji coba.”
NASA mencatat terdapat lima peluang peluncuran pada Maret, yakni 6–9 Maret dan 11 Maret. Jadwal itu mengikuti perhitungan mekanika orbital agar kapsul Orion dapat kembali ke Bumi dengan jalur aman. Posisi Bulan, Bumi, serta sudut peluncuran harus selaras untuk mendukung fase masuk kembali ke atmosfer.
Meski begitu, bila kendala teknis belum sepenuhnya teratasi, peluang peluncuran berikutnya tersedia pada April, yaitu 1 April, 3–6 April, dan 30 April. Penyesuaian jadwal ini merupakan bagian dari prosedur standar keselamatan misi berawak.
Gladi resik dimulai 31 Januari dan berlangsung sekitar 2,5 hari. Tim mengaktifkan dua tahap utama roket SLS dan menyiapkan kapsul Orion, termasuk pengisian sekitar 2,65 juta liter hidrogen cair dan oksigen cair. Pada tahap ini, sejumlah kebocoran terdeteksi di sistem bahan bakar kriogenik.
Hidrogen cair disimpan pada suhu sekitar minus 253 derajat Celsius. Suhu ekstrem tersebut dapat menyebabkan penyusutan material pada sambungan pipa dan katup, sehingga berisiko menimbulkan celah mikroskopis. Selain itu, hidrogen sangat mudah terbakar sehingga kebocoran kecil pun dikategorikan berisiko tinggi.
Tim peluncuran sempat menstabilkan kondisi dan menjaga tangki tetap terisi. Namun, karena laju kebocoran kembali meningkat menjelang akhir simulasi, latihan dihentikan lebih awal untuk evaluasi menyeluruh.
Penundaan ini sejalan dengan pendekatan keselamatan NASA dalam misi berawak, terutama setelah pengalaman tragedi Challenger pada 1986 dan Columbia pada 2003. Administrator NASA Bill Nelson dalam berbagai kesempatan menegaskan prinsip kehati-hatian tersebut.
“Kami tidak akan meluncurkan sampai yakin semuanya aman,” tegas Nelson.
Pendekatan ini membuat jadwal misi lebih fleksibel, namun dipandang perlu untuk meminimalkan risiko terhadap awak dan perangkat keras bernilai tinggi.
Misi Artemis II dijadwalkan membawa empat astronaut, yakni Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, untuk penerbangan pulang-pergi sekitar 10 hari mengitari Bulan. Keempatnya sebelumnya menjalani karantina di Houston sejak 21 Januari, namun dapat keluar sementara setelah peluncuran ditunda.
Christina Koch tercatat akan menjadi perempuan pertama yang terbang ke orbit Bulan, sementara Victor Glover akan menjadi astronaut Afrika-Amerika pertama dalam misi Bulan. Jeremy Hansen dari Kanada juga menjadi astronaut non-AS pertama yang mengikuti misi Bulan sejak era Apollo berakhir pada 1972.
Penyesuaian jadwal Artemis II berpotensi memengaruhi tahapan program Artemis berikutnya. Misi Artemis III, yang dirancang membawa manusia mendarat di permukaan Bulan, sebelumnya ditargetkan pada 2027. Perubahan jadwal dapat menggeser rencana tersebut, tergantung hasil evaluasi teknis lanjutan.
Program Artemis sendiri merupakan proyek jangka panjang dengan pendanaan puluhan miliar US$. Setiap peluncuran roket SLS diperkirakan menelan biaya sekitar US$4,1 miliar, belum termasuk pengembangan sistem pendukung lain.
Penundaan misi luar angkasa bukan hal baru bagi NASA. Misi tanpa awak Artemis I pada 2022 juga sempat tertunda karena persoalan kebocoran hidrogen serupa. Pada era Apollo, beberapa peluncuran juga dijadwal ulang akibat kendala teknis.
Saat ini, NASA mengandalkan sistem pemantauan dan analisis data yang lebih canggih dibanding dekade sebelumnya. Karena itu, setiap anomali kecil selama uji coba akan ditelusuri sebelum jadwal peluncuran ditetapkan kembali.
Di sisi lain, eksplorasi Bulan juga menjadi fokus sejumlah negara dan perusahaan antariksa swasta. China menyampaikan rencana pengiriman astronaut ke Bulan pada akhir dekade ini. Perusahaan seperti SpaceX juga mengembangkan sistem transportasi antariksa untuk misi Bulan dan Mars.
Meski begitu, Artemis II tetap diposisikan sebagai langkah penting karena menjadi misi berawak pertama yang kembali ke orbit Bulan setelah lebih dari 50 tahun, sekaligus bagian dari persiapan pembangunan Lunar Gateway dan infrastruktur jangka panjang di sekitar Bulan.

0Komentar