Presiden China Xi Jinping memeriksa pasukan di Garnisun Tentara Pembebasan Rakyat Hong Kong pada 2017 sebagai bagian dari acara yang menandai peringatan 20 tahun penyerahan kota itu dari Inggris ke pemerintahan China. | REUTERS


Separuh dari jajaran perwira senior Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China telah tersapu dalam gelombang pembersihan militer yang ternyata jauh lebih dalam dari perkiraan sebelumnya, temuan yang dipublikasikan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 24 Februari menggambarkan skala yang belum pernah terjadi dalam sejarah militer modern Tiongkok.

Database China Power Project milik CSIS mengidentifikasi lebih dari 100 jenderal dan letnan jenderal yang dicopot atau menghilang dari panggung publik sejak 2022. Dari jumlah itu, 36 dikonfirmasi secara resmi, sementara 65 lainnya tiba-tiba absen dari acara-acara kenegaraan. 

M. Taylor Fravel, profesor ilmu politik di MIT yang menganalisis data tersebut, mencatat bahwa total individu yang terdampak mewakili "sekitar 52 persen posisi dalam kepemimpinan PLA."

Angka itu mencuat sebulan setelah Beijing mengumumkan penyelidikan terhadap dua jenderal paling berkuasa di luar Xi Jinping sendiri.

Pada 24 Januari, Kementerian Pertahanan Nasional China mengumumkan bahwa Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan Kepala Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli sedang diselidiki atas "dugaan pelanggaran serius terhadap disiplin dan hukum." Zhang, 75 tahun, dikenal luas sebagai sekutu militer paling dipercaya Xi—sesama princeling yang ikatan keluarganya dengan Xi berakar dari masa Perang Saudara China. Liu, 61 tahun, mengawasi operasi gabungan, pelatihan, dan kesiapan tempur PLA.

Jatuhnya keduanya menyisakan komposisi CMC yang nyaris kosong. Dari tujuh anggota awal yang dilantik pada 2022, lima selain Xi kini sudah masuk penyelidikan. Yang tersisa hanya Zhang Shengmin yang merupakan pejabat yang justru menjalankan pembersihan itu sendiri mendampingi Xi di puncak hierarki militer.

Semua lini terdampak

Pembersihan ini tidak pilih-pilih cabang. Rocket Force, satuan yang mengendalikan arsenal nuklir dan rudal balistik China, menjadi yang paling parah. keempat komandan terdahulunya semuanya resmi dicopot. Southern Theater Command atau komando yang bertanggung jawab atas operasi di Laut China Selatan kepemimpinannya dihabisi seluruhnya.

PLA Daily menerbitkan editorial yang menuduh Zhang dan Liu telah "secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab utama yang berada pada ketua CMC." Para analis menilai bahasa itu jauh lebih keras dibanding retorika yang dipakai dalam pembersihan-pembersihan sebelumnya. Tuduhan yang dialamatkan bukan sekadar soal korupsi, melainkan dibingkai sebagai ancaman fundamental terhadap kendali Partai Komunis atas angkatan bersenjata.

Jonathan Czin, fellow di Brookings Institution, mengatakan kepada CNN bahwa pembersihan ini telah "mencapai puncaknya, memengaruhi eselon tertinggi partai," dan bahwa Xi telah memutuskan "korupsi telah mengakar sangat dalam di PLA dan mismanajemen di tingkat atas begitu parah sehingga dia perlu merombak seluruh generasi pemimpin."

Celah yang mulai terlihat

Di luar soal personel, CSIS menemukan bahwa kekosongan kepemimpinan mulai memantik dampak operasional yang terukur. Pada 2024, PLA mampu merespons dalam tiga hingga empat hari setelah provokasi dari Taiwan untuk menggelar latihan Joint Sword. Namun pada April 2025, dibutuhkan 19 hari untuk mengorganisir latihan berskala besar dan 12 hari pada Desember 2025.

Latihan bersama dengan Rusia pun anjlok drastis: dari 14 kali pada 2024 menjadi hanya 6 kali sepanjang 2025.

Bonny Lin, direktur China Power di CSIS, menyebut bahwa dalam jangka pendek, mengingat banyaknya kekosongan jabatan, akan sulit bagi Tiongkok untuk melancarkan kampanye militer terhadap Taiwan. Australian Strategic Policy Institute menarik kesimpulan serupa — pembersihan ini kemungkinan mengurangi peluang Tiongkok melakukan tindakan militer segera dan terencana untuk merebut Taiwan, dengan alasan bahwa seorang pemimpin yang meragukan integritas militernya sendiri kecil kemungkinan mengambil risiko kampanye yang kegagalannya bisa menjadi bencana.

Beijing sendiri menolak tafsiran itu. Juru bicara Kementerian Pertahanan, Jiang Bin, menegaskan pada akhir Januari bahwa pembersihan tidak akan menghambat rencana Tiongkok terkait Taiwan. "Kami tidak pernah menolak penggunaan kekuatan dalam menyelesaikan masalah Taiwan," kata Jiang.

Para analis juga mengingatkan bahwa gambaran keseluruhan tidak sesederhana yang terlihat. Perwira-perwira baru yang ingin membuktikan loyalitas kepada Xi bisa saja justru mengadopsi sikap lebih agresif. PLA pun terus menjalankan patroli di sekitar Selat Taiwan bahkan di tengah bergulirnya pembersihan.

Membangun ulang dari nol

Xi kini menghadapi tugas membangun ulang struktur komando dari titik yang sangat rapuh. Dengan hanya tiga jenderal bintang tiga aktif yang tersisa sebagai pijakan awal, proses rekonstruksi itu diperkirakan tidak akan selesai dalam waktu singkat.

Laporan CSIS mencatat bahwa Xi bahkan terbuka untuk menempuh jalur yang sama sekali berbeda termasuk kemungkinan menghapus struktur CMC tradisional sepenuhnya dan menggantinya dengan format baru. Apakah dia akan memilih untuk mengisi kembali posisi-posisi yang kosong atau merancang ulang arsitektur komando militernya dari nol, tetap menjadi salah satu pertanyaan paling terbuka dalam politik Tiongkok saat ini.