![]() |
| Sejumlah pekerja mengoperasikan mesin pengolahan sampah di Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta, Selasa (25/2/2025). | ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN |
Dana kekayaan negara Indonesia, Danantara, menetapkan lima perusahaan asal Tiongkok sebagai finalis gelombang pertama proyek pembangkit listrik tenaga sampah di empat kota. Keputusan ini diumumkan pada Jumat dan menjadi tahap penting dalam rencana pemerintah mengubah sampah perkotaan menjadi sumber listrik terbarukan.
Lima perusahaan tersebut adalah Chongqing Sanfeng Environment Group, Wangneng Environment, Zhejiang Weiming Environment Protection, SUS Indonesia Holding, dan PT Jinjiang Environment Indonesia. Kelimanya akan bersaing memperebutkan proyek di Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Pemenang ditargetkan diumumkan pada akhir Februari.
Menurut keterangan Danantara, proses seleksi dimulai dengan penyaringan lebih dari 200 penyedia teknologi secara global. Pada Oktober 2025, jumlah itu dipersempit menjadi 24 perusahaan dari Tiongkok, Prancis, Jepang, Singapura, dan Hong Kong. Tahap akhir kini menyisakan lima perusahaan Tiongkok yang dinilai memenuhi kriteria teknis dan pembiayaan.
Danantara mewajibkan seluruh peserta tender membentuk konsorsium dengan mitra lokal. Ketentuan ini, menurut lembaga tersebut, bertujuan memastikan alih teknologi dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri.
Pimpinan proyek waste-to-energy Danantara, Fadli Rahman, mengatakan skema kemitraan tersebut dirancang agar perusahaan Indonesia dan pemerintah daerah dapat menguasai teknologi pengolahan limbah secara bertahap. “Kami berharap kemitraan ini akan membangun kapasitas domestik dalam teknologi pengolahan limbah,” ujarnya.
Para finalis membawa rekam jejak berbeda. Chongqing Sanfeng, yang tercatat di Bursa Efek Shanghai, memegang lisensi teknologi insinerator grate asal Jerman dan mengklaim telah menerapkannya pada lebih dari 250 proyek dengan kapasitas gabungan di atas 220.000 ton limbah per hari.
Wangneng Environment menyatakan fasilitasnya memproduksi listrik bersih hingga 3,04 miliar kilowatt-jam per tahun. Sementara itu, Zhejiang Weiming sebelumnya menawarkan investasi senilai US$225 juta kepada pemerintah Provinsi Bali untuk proyek serupa.
Di sisi lain, Danantara juga memperluas perannya di daerah. Lembaga tersebut mengambil alih kendali penuh proyek pembangkit listrik tenaga sampah di Samarinda, Kalimantan Timur. Langkah ini menyusul regulasi pemerintah pusat pada 2026 yang memusatkan investasi proyek sejenis di bawah pengelolaan dana kekayaan negara tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Samarinda, Desy Damayanti, mengonfirmasi perubahan mekanisme tersebut. Ia menjelaskan pemerintah daerah tidak lagi dapat melakukan perjanjian langsung dengan investor asing.
“Semua proyek pembangkit listrik tenaga sampah sekarang harus melalui Danantara sebagai pintu gerbang tunggal,” kata Desy.
Kebijakan itu membatalkan negosiasi yang sebelumnya dijajaki pemerintah kota dengan mitra luar negeri. Saat ini, dokumen studi kelayakan dan rencana teknis proyek Samarinda tengah dialihkan ke Danantara untuk diproses lebih lanjut.
Gelombang pertama proyek ini merupakan bagian dari rencana lebih luas membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di 33 kota. Setiap fasilitas diperkirakan menelan investasi Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun, dengan kapasitas pengolahan sekitar 1.000 ton sampah per hari dan produksi listrik 15–25 megawatt.
Listrik yang dihasilkan akan dibeli oleh PT PLN dengan tarif hingga US$0,22 per kilowatt-jam. Pembangunan proyek awal ditargetkan dimulai pada akhir Maret, setelah upacara peletakan batu pertama dilakukan.

0Komentar