![]() |
| Pertemuan konsultasi trilateral antara perwakilan dari Iran, Tiongkok, dan Rusia mengenai isu-isu nuklir. | MEHR NEWS |
Perwakilan Rusia, China, dan Iran bertemu di Wina pada Kamis untuk menyelaraskan posisi mereka terkait program nuklir Iran, menjelang putaran kedua pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada 17 Februari.
Konsultasi trilateral ini berlangsung di tengah upaya diplomatik yang kembali bergerak setelah delapan bulan terhenti. AS dan Iran sebelumnya menggelar pertemuan tidak langsung di Muskat, Oman, pada 6 Februari. Pertemuan itu menjadi kontak pertama sejak serangan militer gabungan AS-Israel yang menargetkan fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.
Duta Besar Rusia untuk organisasi-organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, mengumumkan pertemuan tersebut melalui platform X. Ia menyatakan bahwa “Misi-misi Tetap Tiongkok, Iran, dan Rusia mengadakan putaran konsultasi trilateral lainnya mengenai isu-isu terkait program nuklir Iran.”
Pertemuan ini mengikuti pola koordinasi ketiga negara pada momen penting diplomasi nuklir. Secara terpisah, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov menyebut fokus saat ini tertuju pada dialog Iran dengan mitra-mitranya, termasuk pembicaraan tidak langsung dengan AS melalui mediator Arab.
“Fokus saat ini adalah pada pembicaraan yang sedang dilakukan Iran dengan para mitranya, pada upaya kerja sama dengan Amerika yang dilakukan Iran secara tidak langsung, terutama melalui mediator-mediator Arab,” ujarnya.
Putaran kedua di Jenewa akan melanjutkan format yang sama seperti di Muskat. Berdasarkan laporan Reuters dan sejumlah media internasional lain, Utusan Khusus Presiden AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan memimpin delegasi AS. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diperkirakan memimpin tim Teheran. Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi kembali berperan sebagai mediator.
Dalam pertemuan di Muskat, Iran menolak tuntutan utama Washington agar menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium. Meski begitu, Teheran membuka ruang untuk membahas pembatasan tingkat pengayaan. Pemerintah Iran menegaskan bahwa pembicaraan harus berfokus pada isu nuklir saja.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump menginginkan kesepakatan yang lebih luas. Selain penghentian pengayaan uranium dan pemindahan stok uranium yang diperkaya tinggi ke luar Iran, AS juga mendorong pembatasan program rudal balistik serta dukungan Teheran terhadap sekutu regionalnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa kesepakatan terkait inspeksi nuklir berpotensi dicapai dalam waktu dekat. Berbicara dalam Konferensi Keamanan Munich pada Kamis, ia mengatakan kesepakatan dapat diraih “dalam beberapa hari mendatang.”
Grossi mengakui dialog dengan Teheran masih “tidak sempurna, rumit, dan sangat sulit”. Namun, ia menambahkan, “Kami sangat paham apa yang perlu diperiksa dan bagaimana cara memeriksanya.” Ia juga menyebut para negosiator mungkin mulai melihat “cahaya di ujung terowongan.”
Di tengah proses diplomasi tersebut, Trump tetap menunjukkan tekanan politik dan militer. Ia memerintahkan pengerahan kelompok serang kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah. Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan, “Entah kita akan mencapai kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras.”

0Komentar