![]() |
| kunjungan Kepala Staf Angkatan Laut Jepang, Admiral Saito Akira di Kantor Kemhan Jakarta pada Kamis (5/2/2026). | X/SAFRIE SJAMSOEDDIN |
Kepala Staf Angkatan Laut Jepang (Japan Maritime Self-Defense Force/JMSDF) Laksamana Saito Akira berkunjung ke Jakarta, Kamis (5/2/2026), sebagai bagian dari penguatan kerja sama pertahanan strategis Jepang–Indonesia di sektor maritim. Dalam agenda tersebut, Saito bertemu Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali untuk membahas peningkatan kolaborasi angkatan laut kedua negara.
Pertemuan dengan Menhan Sjafrie berlangsung di Kementerian Pertahanan, sementara agenda dengan Laksamana Muhammad Ali digelar di Markas Besar TNI AL, Cilangkap. Sejumlah isu dibahas, mulai dari kerja sama alutsista, pengembangan teknologi pertahanan, latihan bersama multilateral, hingga penguatan forum dialog pertahanan laut Indonesia–Jepang.
Kunjungan ini berlangsung di tengah upaya kedua negara memperdalam komunikasi militer, menyusul terselenggaranya Navy Dialogue Indonesia-Jepang pada 20 Januari 2026 di Jakarta. Forum tersebut menjadi wadah koordinasi rutin untuk menyelaraskan kepentingan dan kerja sama angkatan laut di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam pertemuan terpisah dengan Laksamana Muhammad Ali, pembahasan difokuskan pada keamanan maritim regional, stabilitas kawasan, serta peluang peningkatan kerja sama bilateral. Opsi yang dibicarakan mencakup latihan bersama, pertukaran personel, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia TNI AL dan JMSDF.
Di sela kunjungan, Laksamana Saito meninjau KRI Sultan Iskandar Muda (SIM-367) di Jakarta. Kapal tersebut baru kembali dari penugasan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menjadi salah satu unsur utama TNI AL dalam operasi luar negeri.
Kementerian Pertahanan menyebutkan, agenda ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan format 2+2 Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri Indonesia–Jepang di Tokyo pada November 2025. Dalam pertemuan itu, kedua negara sepakat memperluas kerja sama keamanan maritim, termasuk melalui skema Official Security Assistance (OSA).
Program OSA Jepang, yang diluncurkan pada 2023, memungkinkan Tokyo menyalurkan peralatan pertahanan kepada negara mitra. Untuk Indonesia, salah satu bentuk dukungan yang dibahas adalah pemberian kapal patroli berkecepatan tinggi guna memperkuat pengawasan wilayah laut.
Kerja sama tersebut juga berkembang seiring situasi keamanan kawasan. Aktivitas pembangunan Tiongkok di Laut Cina Selatan, termasuk reklamasi di Antelope Reef, mendorong negara-negara kawasan memperkuat koordinasi maritim. ASEAN saat ini menargetkan penyelesaian negosiasi Code of Conduct Laut Cina Selatan pada 2026.
Di sisi lain, Jepang dinilai sebagai mitra yang konsisten di kawasan. Survei ISEAS 2025 mencatat tingkat kepercayaan terhadap Jepang mencapai 66,8%. Menhan Sjafrie sebelumnya menyampaikan pandangan tersebut saat berkunjung ke Yokosuka Naval Base pada November 2025.
“Indonesia memandang Jepang sebagai mitra strategis dalam memperkuat keamanan maritim regional,” ujar Sjafrie dalam kunjungan tersebut. Selain OSA, kedua negara juga tengah membahas peluang pengembangan bersama fregat kelas Mogami sebagai bagian dari kerja sama industri pertahanan.

0Komentar