Aktivitas di Makassar New Port (MNP). | PTP


Amerika Serikat menjadi negara penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia sepanjang 2025, menggeser India yang sebelumnya kerap berada di posisi teratas. Capaian ini disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (6/2/2026), berdasarkan kinerja ekspor nasional selama Januari–Desember 2025.

Nilai ekspor Indonesia ke AS tercatat mencapai US$30,96 miliar pada 2025, tumbuh 16,66% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$26,54 miliar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS mencapai US$18,11 miliar sepanjang 2025, tertinggi dibandingkan negara mitra dagang lainnya.

Sementara itu, India menempati posisi kedua dengan surplus US$13,49 miliar, disusul Filipina sebesar US$8,42 miliar. Untuk perdagangan nonmigas, surplus Indonesia dengan AS tercatat lebih tinggi, mencapai US$21,12 miliar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pergeseran posisi ini mencerminkan perubahan pola ekspor Indonesia dalam setahun terakhir. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya India kerap menjadi penyumbang surplus terbesar, namun kini posisi tersebut ditempati AS. 

“Kalau kita lihat surplus terbesar kita justru ke Amerika, India, Filipina, Belanda, dan Vietnam. Surplus kita kalau dulu biasanya yang pertama India, tapi sekarang justru nomor dua India dan nomor satu Amerika,” ujar Budi Santoso, yang akrab disapa Busan.

BPS mencatat komoditas utama penyumbang surplus perdagangan Indonesia ke AS berasal dari kelompok mesin dan perlengkapan elektronik (HS85), pakaian dan aksesoris rajutan (HS61), serta alas kaki. Kinerja komoditas tersebut menopang surplus perdagangan nasional yang secara kumulatif mencapai US$41,05 miliar sepanjang 2025, naik 31% dibandingkan US$31,33 miliar pada 2024.

Capaian tersebut juga memperpanjang tren surplus perdagangan Indonesia menjadi 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, sebagaimana dicatat BPS dalam laporan resmi perdagangan luar negeri.

Menurut Busan, peningkatan ekspor ke AS tidak terlepas dari upaya diplomasi ekonomi yang dilakukan pemerintah. Ia menilai hubungan bilateral yang terjaga turut memperkuat kepercayaan mitra dagang terhadap Indonesia. 

“Sangat dipengaruhi tentunya oleh diplomasi yang selama ini dilakukan Bapak Presiden. Itu salah satu modal kita sebenarnya, kepercayaan dunia terhadap Indonesia,” kata Busan.

Di sisi lain, kinerja perdagangan ini berlangsung di tengah proses negosiasi tarif resiprokal antara Indonesia dan AS. Pemerintah menyebut kedua negara telah menyepakati penurunan tarif resiprokal dari 32% menjadi 19%. Sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti kelapa sawit, kakao, kopi, dan teh, disebut memperoleh pembebasan tarif.

Pembahasan kesepakatan tersebut saat ini telah memasuki tahap finalisasi teknis dan dijadwalkan akan ditandatangani oleh kedua kepala negara. Busan menyatakan, meski proses negosiasi masih berjalan, ekspor Indonesia ke AS tetap menunjukkan pertumbuhan. 

“Meskipun dengan Amerika ini sedang menghadapi mengenai resiprokal, tapi kita memang tetap tumbuh. Mudah-mudahan nanti kalau sudah disepakati, ekspor kita terus tetap meningkat,” tuturnya.