Komedian Rusia Artemy Ostanin berdiri di balik dinding kaca di ruang terdakwa saat menjalani sidang pengadilan di Moskwa, Rusia, 4 Februari 2026.  | REUTERS/ANASTASIA BARASKHOVA


Pengadilan Moskwa pada Rabu menjatuhkan hukuman lima tahun sembilan bulan penjara kepada komedian stand-up Artemy Ostanin. Ia akan menjalani hukuman di koloni hukuman setelah dinyatakan bersalah atas dakwaan menghasut kebencian dan menghina perasaan umat beragama, dalam kasus yang dilaporkan Reuters sebagai bagian dari pengetatan kebebasan berekspresi di Rusia sejak invasi ke Ukraina.

Hakim Olesya Mendeleyeva dari Pengadilan Distrik Meshchansky menyatakan Ostanin, 29 tahun, bersalah atas materi komedi yang dianggap menyinggung veteran perang serta umat beragama. Selain hukuman penjara, pengadilan juga menjatuhkan denda sebesar 300.000 rubel atau sekitar US$3.900.

Saat hakim menanyakan apakah ia memahami putusan tersebut, Ostanin menanggapi dengan nada protes. “Ke neraka saja dengan praktik peradilan Anda. Tidak, saya tidak mengerti,” ujar Ostanin di ruang sidang, seperti dikutip Reuters.

Kasus ini bermula dari beredarnya rekaman video penampilan Ostanin yang memuat lelucon tentang insiden di stasiun metro Moskwa. Dalam materi tersebut, ia menggambarkan hampir tertabrak seorang tunawisma yang disebutnya sebagai “skater tanpa kaki”, disertai candaan bahwa orang itu “menginjak ranjau” dan “bermain skateboard tanpa kaki selama 20 tahun”.

Jaksa menilai lelucon tersebut sebagai penghinaan terhadap veteran perang yang terluka dalam konflik Ukraina. Namun, dalam persidangan, Ostanin menegaskan bahwa materi tersebut merujuk pada seorang pengemis, bukan veteran perang. Tim pembelanya juga menyampaikan hasil analisis linguistik yang, menurut mereka, tidak menemukan unsur hasutan kebencian.

Meski begitu, klip video tersebut kemudian disorot oleh Zov Naroda (Call of the People), sebuah gerakan ultranasionalis yang dikenal aktif melaporkan tokoh publik ke aparat Rusia. Kelompok itu mengajukan laporan kepada Kepala Komite Investigasi Alexander Bastrykin dan menuntut proses hukum. Video tersebut selanjutnya disebarkan luas oleh blogger militer pro-perang, yang menuduh Ostanin mengejek prajurit Rusia yang terluka.

Tekanan publik dan ancaman hukum mendorong Ostanin mencoba meninggalkan Rusia pada Maret 2025. Ia ditangkap di Bandara Minsk, Belarus, lalu dipulangkan ke Moskwa. Seorang anggota Dewan Kepresidenan Rusia untuk Hak Asasi Manusia menyatakan Ostanin dipukuli dengan tongkat dan disetrum oleh petugas Belarus di sebuah kawasan hutan sebelum dipindahkan, sehingga mengalami patah tulang belakang dan gangguan pernapasan.

Belarus membantah tuduhan tersebut. Laporan mengenai dugaan penyiksaan ini juga disorot oleh Reuters dalam rangkaian pemberitaan kasus Ostanin.

Pada Juni 2025, kelompok hak asasi manusia Memorial menetapkan Ostanin sebagai tahanan politik. Pengacaranya, Mikhail Meshcheryakov, menyampaikan di persidangan bahwa kliennya tidak menyebarkan sendiri video lelucon tersebut. Ia menyebut para pelapor sebagai “informan profesional” yang secara aktif mencari materi ofensif di internet untuk dilaporkan ke aparat.

Kasus Ostanin terjadi di tengah pembatasan yang semakin ketat terhadap kebebasan berekspresi di Rusia sejak Presiden Vladimir Putin melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Sejumlah komedian dan seniman menghadapi risiko penangkapan, denda, hingga pelabelan sebagai foreign agent karena materi yang dianggap mengkritik perang atau pemerintah.

Hakim Olesya Mendeleyeva sendiri dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Desember 2024. Sanksi itu dijatuhkan atas perannya dalam menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara kepada anggota dewan kota Moskwa, Alexei Gorinov, yang menyampaikan kritik terhadap perang di Ukraina.

Dalam pernyataan terakhirnya di pengadilan, Ostanin menyampaikan harapannya agar tidak ada orang lain mengalami perlakuan serupa. “Saya berharap tidak ada seorang pun yang mengalami situasi penyalahgunaan hukum yang brutal seperti yang saya alami,” katanya, sebagaimana dikutip Reuters.