Bendera Jepang dan NATO terpasang berdampingan saat kunjungan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte ke Jepang, 9 April 2026. | MINISTRY OF FOREIGN AFFAIRS OF JAPAN

Jepang bersiap bergabung dengan program pimpinan NATO untuk mendanai pembelian peralatan militer buatan Amerika Serikat bagi Ukraina. Langkah ini akan menandai perluasan terbaru kemitraan keamanan Tokyo dengan aliansi Barat, sekaligus tetap berada dalam batasan konstitusi domestik terkait ekspor senjata.

Sejumlah pejabat NATO kepada penyiar publik Jepang NHK menyebutkan, Tokyo diperkirakan mengumumkan partisipasinya dalam inisiatif Prioritised Ukraine Requirements List (PURL) dalam beberapa pekan ke depan. Dalam skema tersebut, Jepang akan menyalurkan dana untuk pengadaan peralatan pertahanan non-letal seperti sistem radar dan rompi antipeluru, bukan persenjataan mematikan.

Konstitusi Jepang pasca-Perang Dunia II serta pedoman kontrol ekspor senjata membatasi transfer senjata mematikan ke negara lain. Karena itu, dukungan Tokyo selama ini difokuskan pada peralatan defensif dan non-tempur.

Seorang pejabat NATO mengatakan kepada NHK bahwa kontribusi tersebut tetap krusial bagi Kyiv. “Bahkan peralatan non-mematikan sangat penting bagi Ukraina,” ujarnya. Ia menambahkan, keterlibatan Jepang dalam PURL merupakan “perkembangan yang signifikan.”

Di sisi lain, Kyiv Independent melaporkan seorang perwakilan kedutaan Jepang mengonfirmasi pihaknya mengetahui pemberitaan tersebut. Namun, ia menyatakan saat ini “belum ada kebijakan bersama semacam itu dengan NATO seperti yang diberitakan media.” Meski begitu, sejumlah sumber menyebut Jepang telah memberikan penjelasan kepada beberapa negara anggota NATO dan pejabat Ukraina mengenai rencana partisipasi itu.

PURL dibentuk oleh AS dan NATO pada Juli 2025 sebagai mekanisme bagi negara mitra untuk membiayai pembelian senjata dan peralatan buatan AS sesuai daftar kebutuhan prioritas Ukraina. Program ini telah memfasilitasi pengiriman sistem pertahanan udara Patriot dan perlengkapan penting lainnya ke Kyiv. Hingga Desember 2025, lebih dari 20 negara anggota NATO dan mitra telah menjanjikan kontribusi lebih dari US$4 miliar untuk inisiatif tersebut.

Jika resmi bergabung, Jepang akan menjadi mitra Indo-Pasifik non-NATO ketiga dalam PURL setelah Australia dan Selandia Baru. Kedua negara itu pada Desember 2025 mengumumkan kontribusi gabungan lebih dari US$70 juta. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebut kontribusi tersebut sebagai “sinyal kuat dari dukungan bersama kita.”

Meski tidak mengirimkan senjata secara langsung, Jepang termasuk salah satu penyumbang bantuan terbesar bagi Ukraina. Menurut laporan OSW pada Desember 2025, total bantuan Tokyo mencapai sekitar US$15 miliar, mayoritas dalam bentuk dukungan keuangan dan kemanusiaan. Jepang juga telah mengirim kendaraan militer, helm, rompi antipeluru, serta drone pengawasan.

Para menteri pertahanan NATO dijadwalkan bertemu di Brussels pada 12 Februari. Dalam pertemuan itu, sejumlah komitmen tambahan terkait PURL diperkirakan akan diumumkan, termasuk potensi pengumuman resmi dari pihak Jepang.