Fasilitas pengayaan atom pusat penelitian nuklir Natanz, sekitar 300 kilometer selatan Teheran. | IRNA

Iran menegaskan tidak akan memindahkan uranium yang telah diperkaya ke luar negeri di tengah komunikasi diplomatik terkait program nuklirnya, Senin (2/2). Pernyataan itu disampaikan Ali Bagheri, Deputi Urusan Kebijakan Luar Negeri Sekretariat Supreme National Security Council Iran, seperti dikutip kantor berita negara IRNA, saat Moskwa kembali menawarkan diri untuk memproses atau menyimpan material tersebut sebagai opsi meredakan situasi dengan Amerika Serikat.

Bagheri mengatakan pemerintah Iran tidak memiliki agenda transfer material nuklir yang diperkaya ke negara lain dan menyebut isu itu bukan fokus pembahasan yang sedang berjalan. 

“Pejabat Iran tidak memiliki niat untuk mentransfer material nuklir yang diperkaya ke luar negeri,” kata Bagheri. Ia menambahkan, jalur perundingan yang berlangsung saat ini pada dasarnya tidak membahas skema pemindahan stok uranium.

Di sisi lain, pada hari yang sama, pihak Kremlin menegaskan kembali tawaran lama Rusia. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut topik tersebut sudah lama masuk agenda pembicaraan berbagai pihak. 

“Topik ini sudah lama masuk dalam agenda,” kata Peskov, “Rusia telah cukup lama menawarkan jasanya sebagai salah satu opsi yang dapat menghilangkan sejumlah faktor yang menimbulkan ketegangan bagi beberapa negara.”

Tawaran Rusia pada dasarnya mencakup pemrosesan ulang atau penyimpanan uranium yang diperkaya Iran di wilayah Rusia, model yang pernah dibahas dalam pengaturan teknis kerja sama nuklir sipil sebelumnya. 

Skema semacam itu dipandang sejumlah pihak sebagai cara mengurangi kekhawatiran atas volume dan tingkat pengayaan uranium Iran, tanpa menghentikan aktivitas nuklir sipilnya sepenuhnya.

Situasi ini berlangsung saat hubungan Teheran dan AS kembali memanas sejak gelombang protes anti-pemerintah di Iran pada akhir Desember. Kondisi tersebut diperberat dengan pernyataan Presiden Donald Trump mengenai pergerakan armada militer AS ke kawasan. 

Trump menyebut sebuah armada besar tengah menuju wilayah itu dan memperingatkan Iran agar bersedia berunding soal program nuklirnya atau menghadapi kemungkinan aksi militer.

Saat ini, aktivitas diplomatik juga bergerak di kawasan. Sejumlah negara, termasuk Turkiye, terlibat komunikasi untuk mendorong dialog antara Teheran dan Washington. Di tengah upaya itu, posisi Iran yang menolak pemindahan uranium ke luar negeri menjadi salah satu poin penting dalam pembahasan teknis program nuklirnya, sebagaimana disampaikan pejabat Iran melalui IRNA dan tanggapan resmi Rusia dari Kremlin.