![]() |
| Antena Starlink. | DATA LAKE INDONESIA |
Elon Musk menyatakan langkah-langkah yang diterapkan SpaceX untuk mencegah penggunaan internet satelit Starlink tanpa izin oleh Rusia mulai menunjukkan hasil. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu (2/2/2026) melalui platform X, menyusul kekhawatiran Ukraina bahwa teknologi tersebut digunakan Rusia untuk memandu drone serang jauh ke dalam wilayah negara itu.
Musk menyebut pembatasan dilakukan setelah adanya komunikasi langsung dengan otoritas pertahanan Ukraina, yang sebelumnya melaporkan temuan penggunaan Starlink pada drone Rusia dalam operasi militer.
“Sepertinya langkah-langkah yang kami ambil untuk menghentikan penggunaan Starlink tanpa izin oleh Rusia telah berhasil. Beri tahu kami jika ada yang perlu dilakukan lagi,” tulis Musk di X, menanggapi laporan dari pihak Ukraina.
Pernyataan Musk muncul setelah Kementerian Pertahanan Ukraina memperingatkan bahwa terminal Starlink dipasang pada drone Rusia untuk menghindari gangguan perang elektronik dan meningkatkan akurasi serangan terhadap target di wilayah Ukraina.
Ukraina laporkan 'hasil nyata'
Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov pada 1 Februari mengonfirmasi bahwa langkah penanggulangan awal yang diterapkan SpaceX telah memberikan “hasil nyata”. Ia menyampaikan apresiasi kepada Musk atas respons cepat tersebut.
Fedorov menjelaskan bahwa kolaborasi dengan SpaceX dimulai pada 29 Januari, ketika kementeriannya menghubungi perusahaan tersebut hanya beberapa jam setelah mendeteksi drone Rusia yang menggunakan konektivitas Starlink terbang di atas kota-kota Ukraina. Menurutnya, Ukraina mengajukan sejumlah solusi teknis, yang kemudian ditindaklanjuti secara cepat oleh SpaceX.
Drone Rusia terungkap pakai Starlink
Isu ini mencuat pada akhir Januari setelah pejabat Ukraina menemukan terminal Starlink di puing-puing drone Rusia yang jatuh, termasuk varian Shahed, Molniya-2, dan BM-35. Penasihat teknologi Kementerian Pertahanan Ukraina, Serhii Beskrestnov, menyebut terdapat bukti “ratusan” serangan yang melibatkan drone Rusia berbekal Starlink, dengan sasaran yang kerap mengarah ke area sipil.
Beskrestnov menjelaskan bahwa integrasi Starlink memungkinkan operator Rusia melewati sistem penanggulangan elektronik Ukraina yang dirancang untuk mengganggu navigasi drone melalui GPS dan jamming sinyal radio. Drone tipe BM-35 dilaporkan mampu terbang hingga 500 kilometer, sementara Shahed yang dilengkapi Starlink disebut digunakan dalam serangan terhadap kereta penumpang di Oblast Kharkiv pada 27 Januari.
Ia menambahkan, SpaceX menerapkan pembatasan kecepatan yang secara otomatis menonaktifkan terminal Starlink ketika bergerak lebih cepat dari sekitar 90 km/jam. Kebijakan ini berdampak pada drone bersayap tetap, meski masih memungkinkan drone tipe quadcopter yang lebih lambat untuk beroperasi. Beskrestnov menyebut langkah tersebut bersifat sementara dan akan digantikan oleh solusi yang lebih menyeluruh.
“Saya mohon maaf kepada pihak-pihak yang terdampak sementara oleh langkah-langkah ini, tetapi ini adalah tindakan yang sangat penting dan diperlukan untuk keamanan negara,” ujar Beskrestnov.
Di sisi lain, militer Ukraina saat ini mengoperasikan lebih dari 50.000 terminal Starlink untuk komunikasi medan perang dan operasi drone. Kondisi tersebut membuat upaya memblokir penggunaan oleh Rusia, sambil tetap menjaga akses bagi Ukraina, menjadi tantangan teknis yang sensitif bagi SpaceX dan otoritas pertahanan Ukraina.

0Komentar