peluncuran satelit komunikasi geostasioner pertama milik Republik Islam Iran, yang diberi nama “Jam-e Jam 1” (Iran DBS), pada pertengahan Februari 2026. | RUSSIAN SPACE WEB


Peluncuran satelit komunikasi terbaru Iran memicu perhatian internasional. Satelit bernama Jam-e Jam 1 resmi diluncurkan pada 12 Februari 2026 dan menjadi satelit geostasioner pertama milik negara itu yang difokuskan untuk layanan penyiaran.

Satelit tersebut diluncurkan oleh Iran dari Kosmodrom Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, menggunakan roket Proton-M buatan Rusia. Jam-e Jam 1 ditempatkan ke orbit transfer geostasioner di ketinggian sekitar 36.000 kilometer dan dijadwalkan menempati slot 34° bujur timur setelah manuver lanjutan selama kurang lebih tiga minggu.

Satelit ini dimiliki dan dioperasikan oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB). Fungsinya difokuskan untuk memperkuat jaringan distribusi siaran nasional berbasis antariksa, terutama untuk transmisi audio dan video interaktif ke stasiun bumi profesional. Sistem ini tidak ditujukan untuk penerimaan langsung rumah tangga, melainkan untuk infrastruktur penyiaran dan backhaul konten berkapasitas tinggi.

Media pemerintah Iran menyebut proyek ini sebagai fondasi layanan penyiaran massal interaktif dan bagian dari upaya kemandirian teknis sektor antariksa. Hingga kini, rincian teknis seperti massa satelit, jumlah transponder, dan usia operasional belum dipublikasikan secara terbuka oleh otoritas terkait.

Peluncuran dilakukan sebagai misi berbagi muatan dengan satelit meteorologi Rusia, untuk menekan biaya dan memanfaatkan kapasitas angkut roket yang lebih besar dibanding peluncur domestik Iran. Proton-M dipilih karena mampu membawa muatan berat ke orbit geostasioner, sesuatu yang belum sepenuhnya dapat dicapai roket buatan dalam negeri Iran.

Di sisi lain, peluncuran ini kembali memicu sorotan dari negara-negara Barat terkait potensi penggunaan ganda atau dual-use dari teknologi peluncuran satelit. Mereka menilai sistem peluncur berbasis roket dapat memiliki kesamaan teknologi dengan rudal balistik jarak jauh.

Pemerintah Amerika Serikat, bersama Prancis, Jerman, dan Inggris, dalam beberapa peluncuran sebelumnya kerap menyuarakan kekhawatiran bahwa uji peluncuran satelit dapat sekaligus menjadi ajang pengujian komponen rudal. 

Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi baru yang secara khusus menanggapi misi Jam-e Jam 1, namun pola kekhawatiran itu kembali muncul dalam laporan sejumlah media Barat.

Teheran menolak anggapan tersebut dan menegaskan program luar angkasanya bersifat sipil serta sah menurut hukum internasional. Otoritas Iran juga menyatakan pengembangan satelit penyiaran sudah direncanakan sejak lama untuk memperkuat jaringan media nasional berbasis ruang angkasa.

Program antariksa Iran sendiri berjalan bertahap sejak peluncuran satelit Omid pada 2009. Sejak itu, beberapa satelit riset dan observasi telah dikirim ke orbit rendah. Jam-e Jam 1 menjadi tonggak baru karena berada di orbit geostasioner, yang memungkinkan cakupan tetap di wilayah layanan yang sama sepanjang waktu.

Peluncuran terbaru ini berlangsung di tengah peningkatan perhatian global terhadap aktivitas militer dan teknologi strategis di Timur Tengah, termasuk penambahan kehadiran militer AS di kawasan, menurut laporan sejumlah media internasional. Situasi tersebut membuat setiap kemajuan teknologi peluncuran roket dan satelit Iran mendapat pengawasan lebih ketat dari berbagai pihak.