Sistem pertahanan rudal HQ-22A (versi ekspor dikenal sebagai FK-3000) milik Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA). Foto ini diambil saat parade militer besar-besaran di Beijing pada 3 September 2025, untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. | REUTERS


Perluasan cepat terlihat di sejumlah fasilitas senjata nuklir China di Provinsi Sichuan berdasarkan citra satelit terbaru. Aktivitas konstruksi di lokasi-lokasi sensitif itu dinilai menunjukkan percepatan modernisasi arsenal nuklir Beijing di tengah melemahnya kerangka pengendalian senjata global.

Laporan awal mengenai temuan ini dipublikasikan oleh The New York Times pada Sabtu. Media itu meninjau citra satelit yang memperlihatkan pembangunan dan renovasi di beberapa fasilitas era Perang Dingin, termasuk lokasi yang diduga terlibat dalam produksi inti plutonium untuk hulu ledak dan pengujian bahan peledak tingkat tinggi.

Citra satelit menunjukkan kawasan fasilitas Pingtong di Provinsi Sichuan dengan perluasan area berpagar dan pembangunan akses keamanan baru sejak 2023. 

Perkembangan tersebut muncul sekitar sepuluh hari setelah perjanjian pengendalian senjata strategis antara AS dan Rusia, New START, berakhir pada 5 Februari. Berakhirnya perjanjian itu membuat tidak ada lagi batasan yang mengikat terhadap jumlah senjata nuklir strategis kedua negara untuk pertama kalinya sejak awal 1970-an.

Salah satu lokasi yang dipantau adalah kompleks berkeamanan tinggi di wilayah Pingtong, Sichuan. Analis menyebut fasilitas di lembah pegunungan itu diduga digunakan untuk memproduksi pit plutonium, yakni inti logam yang menjadi komponen utama hulu ledak nuklir. 

Perbandingan citra satelit dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan perluasan perimeter pagar ganda, perbaikan bangunan lama, serta konstruksi struktur baru.

Citra satelit memperlihatkan perubahan area fasilitas nuklir di Zitong antara 2022 (kiri) dan 2026 (kanan), termasuk penambahan bangunan dan infrastruktur pendukung

Lokasi lain di dekat Zitong juga menunjukkan pembangunan bunker baru, struktur pertahanan tambahan, dan jaringan pipa yang padat. Menurut sejumlah ahli, pola tata letak ini biasanya terkait dengan fasilitas penanganan material berbahaya dan pengujian bahan peledak berkekuatan tinggi yang dipakai untuk memicu ledakan nuklir.

Renny Babiarz, analis intelijen geospasial yang meninjau citra tersebut, mengatakan peningkatan fasilitas nuklir China terlihat makin cepat sejak 2019. Ia menyebut program nuklir menjadi bagian dari target strategis jangka panjang Beijing.

“Senjata nuklir merupakan bagian integral dari tujuan China yang lebih luas untuk menjadi negara adikuasa,” ujarnya. Ia menambahkan peningkatan di berbagai lokasi “mengalami percepatan mulai tahun 2019”.

Di sisi lain, Hui Zhang, fisikawan dari Harvard University, mengingatkan bahwa perluasan fasilitas tidak otomatis menunjukkan jumlah produksi hulu ledak. Menurut dia, data visual belum cukup untuk memastikan skala output senjata nuklir.

Sementara itu, Pentagon memperkirakan China memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir hingga 2024 dan jumlahnya bisa melampaui 1.000 pada 2030. Angka itu meningkat tajam dibandingkan estimasi sekitar 200 hulu ledak pada 2020. Berbeda dengan AS dan Rusia, China saat ini tidak terikat perjanjian pembatasan senjata nuklir strategis.

Awal bulan ini, Wakil Menteri Pengendalian Senjata AS Thomas DiNanno menuduh China melakukan uji coba ledakan nuklir secara rahasia, termasuk pada 22 Juni 2020, dengan teknik yang dirancang untuk menghindari deteksi. Tuduhan itu dibantah Beijing. Kementerian Luar Negeri China menyebut klaim tersebut “sama sekali tidak berdasar”.

Perluasan fasilitas ini juga dikaitkan dengan perhitungan keamanan kawasan, termasuk skenario konflik di sekitar Taiwan. Michael S. Chase, mantan pejabat Pentagon yang kini bergabung dengan RAND Corporation, menilai Beijing kemungkinan ingin memperkuat posisi pencegahan nuklirnya.

Ia mengatakan China mungkin berupaya mencapai kondisi di mana mereka merasa “lebih tidak rentan terhadap tekanan nuklir dari AS selama konflik konvensional”.

Penilaian serupa datang dari Heather Williams, mantan direktur pengendalian senjata di NATO. Ia menyebut peningkatan kapasitas ini sebagai bagian dari reposisi peran global China dalam bidang strategis. 

“Ini adalah China yang memantapkan dirinya sebagai kekuatan super global,” katanya. “Kita sedang menyaksikan tahap awal dari perlombaan senjata baru.”