![]() |
| Momen pengerahan kapal perusak Iran IRIS Alborz (72) ke Laut Merah pada awal Januari 2024. | The Times of Israel |
Iran mengumumkan akan menggelar latihan militer angkatan laut bersama China dan Rusia pada pertengahan Februari 2026. Latihan bertajuk Maritime Security Belt itu akan berlangsung di Samudra Hindia utara dan melibatkan angkatan laut reguler Iran, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), serta kekuatan angkatan laut China dan Rusia.
Pengumuman ini disampaikan pada Sabtu melalui Kantor Berita Tasnim, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat seiring pengerahan armada angkatan laut AS ke kawasan.
Latihan edisi kedelapan ini merupakan kelanjutan kerja sama militer yang diprakarsai angkatan laut Iran sejak 2019. Sejak pertama digelar, Maritime Security Belt rutin melibatkan Teheran, Beijing, dan Moskwa sebagai bagian dari penguatan koordinasi maritim ketiga negara.
Tujuh edisi sebelumnya telah dilaksanakan, dengan latihan terakhir digelar pada Maret 2025 di perairan dekat pelabuhan Chabahar, Iran. Saat itu, sekitar 15 kapal perang, kapal pendukung, perahu tempur, serta helikopter penerbangan angkatan laut ikut ambil bagian, menurut laporan Tasnim.
Dalam setiap penyelenggaraan, latihan ini umumnya berfokus pada operasi keamanan maritim, langkah anti-pembajakan, misi pencarian dan penyelamatan, serta manuver angkatan laut terkoordinasi. Sejumlah analis menilai latihan tersebut juga dimaksudkan untuk menjaga jalur pelayaran strategis di Teluk Oman dan Samudra Hindia.
Pengumuman latihan ini muncul beberapa pekan setelah China, Rusia, dan Iran terlibat dalam latihan angkatan laut Exercise of Peace Will 2026 yang digelar Afrika Selatan pada 9–16 Januari. Latihan itu digambarkan sebagai operasi BRICS Plus yang bertujuan “memastikan keamanan perdagangan maritim dan kegiatan ekonomi”.
Di sisi lain, situasi kawasan sedang bergejolak. Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dikerahkan ke Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa sebuah “armada besar-besaran” sedang menuju Iran, sembari menyerukan Teheran untuk “datang ke meja perundingan”.
Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) juga mengumumkan bahwa Angkatan Laut IRGC menggelar latihan tembak langsung terpisah selama dua hari di Selat Hormuz yang dimulai pada 1 Februari. Menyikapi hal itu, pejabat militer AS mendesak Iran agar melakukan operasi secara “aman dan profesional”.
Pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan direspons secara “cepat dan menyeluruh”, meski tetap menegaskan keterbukaan untuk dialog dengan syarat “adil, seimbang, dan tanpa paksaan”. Pada Minggu (1/1), Pemimpin Tertinggi Iran menyampaikan peringatan bahwa serangan Amerika dapat memicu “perang regional”.
Sejumlah analis menilai waktu pelaksanaan latihan Maritime Security Belt mengirimkan sinyal politik terkait kemampuan Iran, China, dan Rusia untuk berkoordinasi di bawah tekanan Barat, khususnya di jalur maritim menuju Selat Hormuz.
“Mengadakan latihan gabungan di lingkungan maritim yang sensitif menyampaikan sinyal politik yang jelas mengenai kemampuan ketiga negara untuk bersinergi dalam menghadapi tekanan dan kehadiran militer Barat,” demikian analisis yang dimuat West Asia Network.

0Komentar