Fasilitas pengayaan atom pusat penelitian nuklir Natanz, sekitar 300 kilometer selatan Teheran. | IRNA


Teheran menyatakan kesiapan mengurangi kapasitas program nuklirnya, khususnya pada aspek pengayaan uranium hingga level 60 %, dengan syarat seluruh sanksi internasional terhadap Iran dicabut sepenuhnya. Sikap ini disampaikan Kepala Organisasi Energi Atom Iran Mohammad Eslami di tengah upaya menghidupkan kembali diplomasi nuklir yang sempat terhenti setelah konflik militer pada Juni 2025.

Pernyataan tersebut muncul menyusul negosiasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Oman pekan lalu. Pembicaraan itu menandai keterlibatan diplomatik pertama kedua negara sejak serangan militer AS dan Israel menghantam sejumlah fasilitas nuklir Iran pada pertengahan tahun lalu.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Eslami menjelaskan bahwa pengurangan kapasitas nuklir yang dimaksud berkaitan dengan tingkat dan pengelolaan pengayaan uranium. 

“Kemungkinan pengenceran uranium yang diperkaya 60 % bergantung pada apakah, sebagai imbalannya, semua sanksi dicabut atau tidak,” kata Eslami, seperti dikutip kantor berita IRNA.

Meski begitu, Eslami tidak merinci apakah pencabutan sanksi yang dimaksud mencakup seluruh sanksi global atau terbatas pada sanksi yang diberlakukan AS. Ia juga menepis usulan pemindahan uranium yang diperkaya ke negara lain. Menurutnya, opsi tersebut “pada dasarnya tidak pernah ada dalam agenda”.

Di sisi lain, Eslami meminta International Atomic Energy Agency (IAEA) secara terbuka mengecam serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Ia menilai serangan tersebut melanggar prinsip perlindungan fasilitas nuklir sipil yang berada di bawah pengawasan internasional.

Konteks diplomatik ini berakar dari pertemuan tidak langsung di Muscat, Oman, pada Jumat, 6 Februari, yang mempertemukan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff, dengan kehadiran Jared Kushner. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggambarkan diskusi tersebut sebagai “satu langkah maju” dan menyebut putaran lanjutan sebagai peluang menuju “penyelesaian yang adil dan seimbang”.

Dari Washington, Presiden Donald Trump menyebut pembicaraan tersebut berjalan “sangat baik” dan mengatakan Iran “tampak bersemangat untuk mencapai kesepakatan”. Kedua pihak sepakat melanjutkan negosiasi, meskipun tanggal dan lokasi pertemuan berikutnya belum diumumkan.

Negosiasi ini berlangsung setelah konflik bersenjata pada Juni 2025. Israel memulai serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada 13 Juni, disusul Operasi Midnight Hammer AS pada 22 Juni yang menargetkan fasilitas pengayaan Fordow, Natanz, dan Isfahan dengan bom penghancur bunker. Iran menyatakan aktivitas pengayaan uranium dihentikan setelah serangan tersebut.

Saat ini, intensitas diplomasi diperkirakan meningkat. Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sekaligus penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dijadwalkan melakukan kunjungan ke Oman pada Selasa untuk bertemu para pejabat senior.

Perselisihan utama tetap berpusat pada sikap Iran yang ingin mempertahankan hak pengayaan uranium dan tuntutan AS agar Teheran meninggalkan kemampuan yang berpotensi mengarah ke senjata nuklir. 

Badan pengawas nuklir PBB sebelumnya memperkirakan persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran melebihi 440 kilogram sebelum serangan Juni 2025, jumlah yang secara teoritis dapat menghasilkan beberapa senjata nuklir jika diperkaya lebih lanjut. Hingga kini, nasib persediaan tersebut masih belum jelas, dengan verifikasi terakhir oleh inspektur PBB dilakukan pada 10 Juni 2025.

Iran kembali menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai. Sementara itu, Washington mendorong pembahasan yang lebih luas, termasuk isu rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata regional, yang sejauh ini ditolak Teheran untuk dimasukkan dalam agenda perundingan.