![]() |
| Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di Kremlin, Moskow, Rusia, Senin (23/6/2025). | SPUTNIK/ALEXANDER KAZAKOV |
Iran menyetujui kesepakatan senjata rahasia senilai €500 juta dengan Rusia untuk memperoleh ribuan rudal shoulder-fired canggih, menurut dokumen yang bocor dan dilaporkan Financial Times pada Ahad (22/1).
Kesepakatan yang ditandatangani di Moskwa pada Desember 2025 itu mengkomitmenkan Rusia mengirimkan 500 unit peluncur Verba portabel beserta 2.500 rudal permukaan-ke-udara 9M336 dalam tiga tahap pengiriman antara 2027 hingga 2029.
Pembelian ini menjadi langkah paling konkret Iran dalam membangun kembali kemampuan militernya pascakonflik dengan Israel dan Amerika Serikat pada Juni 2025.
Segalanya bermula dari konflik yang berlangsung singkat namun meninggalkan kerusakan besar. Israel melancarkan serangan mendadak terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran pada 13 Juni 2025, memicu pertukaran serangan selama hampir dua minggu yang melibatkan rudal balistik, drone, dan rudal jelajah. Pada 22 Juni, pasukan AS turut menyerang tiga lokasi nuklir Iran dalam Operasi Midnight Hammer. Gencatan senjata mulai berlaku dua hari kemudian.
Selama konflik, angkatan udara Israel menguasai wilayah udara Iran dan memberikan seperti digambarkan Reuters "pukulan berat" terhadap sistem pertahanan udara negara tersebut.
Iran tidak menyangkal kerusakan yang dialaminya. Mayjen Mahmoud Mousavi menyatakan, "sebagian sistem pertahanan udara kami rusak — ini bukan sesuatu yang bisa kami sembunyikan."
Beberapa minggu setelah perang berakhir, tepatnya pada Juli 2025, Tehran secara resmi mengajukan permintaan sistem Verba kepada Moskwa. Kesepakatan akhirnya ditandatangani pada Desember 2025 melalui negosiasi antara Rosoboronexport yang merupakan eksportir senjata negara Rusia dan perwakilan Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran di Moskwa.
Sistem yang dirancang untuk bertahan
9K333 Verba merupakan sistem pertahanan udara portabel paling canggih yang dimiliki Rusia saat ini. Sistem ini dilengkapi pencari optik multispektral dengan tiga saluran sensor untuk melacak target, menjadikannya sangat tahan terhadap flare dan berbagai tindakan penanggulangan. Verba dirancang untuk mendeteksi dan menghancurkan drone, rudal jelajah, serta pesawat terbang rendah pada jarak hingga 6 kilometer. Kesepakatan tersebut juga dilaporkan mencakup 500 unit bidik malam Mowgli-2.
Para analis mengatakan kepada Financial Times bahwa sistem Verba tidak akan secara fundamental mengubah keseimbangan militer regional, tetapi dapat mempersulit operasi ketinggian rendah oleh pasukan Israel atau AS terhadap target-target Iran.
Hubungan Moskwa-Tehran yang retak
Kesepakatan senjata ini juga mencerminkan upaya Rusia memperbaiki hubungan dengan Iran yang sempat memburuk setelah Juni 2025. Moskwa dikecam keras karena tidak memberikan dukungan nyata kepada Tehran saat konflik berlangsung. Presiden Vladimir Putin memang mengecam serangan Israel sebagai "tindakan tanpa provokasi", namun tidak menawarkan bantuan konkret.
Kemarahan di Iran pun meluas ke ruang publik. Surat kabar reformis Shargh berargumen bahwa kemitraan dengan Rusia "tidak menghasilkan manfaat nyata bagi Tehran." Seorang penasihat politik Iran bahkan menyebut aliansi itu "tidak ada nilainya," dengan tuduhan bahwa Rusia telah membagikan informasi lokasi pertahanan udara Iran kepada Israel.
Beberapa hari sebelum kesepakatan senjata ini terungkap, Rusia dan Iran menggelar latihan angkatan laut bersama di Teluk Oman pada 19 Februari.
Pengungkapan kesepakatan ini terjadi di tengah situasi diplomatik yang tegang. Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan melanjutkan negosiasi nuklir di Jenewa pada 26 Februari. Presiden Trump sebelumnya telah mengancam tindakan militer dalam 10 hingga 15 hari apabila perundingan gagal, sementara Washington telah mengerahkan dua kapal induk ke kawasan tersebut.

0Komentar