Pelabuhan Berbera di Teluk Aden, yang dioperasikan DP World, menjadi salah satu fasilitas strategis yang ditawarkan Somaliland kepada Amerika Serikat. | MAMADOUDIALLO26/WIKIMEDIA COMMONS

Somaliland menyatakan siap memberikan akses eksklusif kepada Amerika Serikat atas cadangan mineralnya serta membuka kemungkinan pendirian pangkalan militer di wilayahnya. Pernyataan itu disampaikan pejabat senior wilayah yang memisahkan diri dari Somalia tersebut di tengah meningkatnya persaingan geopolitik di Tanduk Afrika.

Menteri Kepresidenan Somaliland, Khadar Hussein Abdi, mengatakan kepada AFP dari Hargeisa bahwa pemerintahnya tengah menjajaki kesepakatan dengan Washington.

"Kami bersedia memberikan akses eksklusif terhadap mineral kami kepada Amerika Serikat. Selain itu, kami terbuka untuk menawarkan pangkalan militer kepada Amerika Serikat," katanya. "Kami yakin bahwa kami akan menyepakati sesuatu dengan Amerika Serikat."

Langkah itu muncul dua bulan setelah Israel menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Somaliland pada 26 Desember 2025. Pengakuan tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan memicu kecaman dari Uni Afrika, Uni Eropa, serta sejumlah negara Arab.

Pejabat Somaliland menyebut wilayahnya memiliki cadangan lithium, coltan, dan mineral lain yang digunakan dalam produksi baterai serta kendaraan listrik. Namun, penilaian independen yang komprehensif mengenai besaran cadangan tersebut belum rampung.

Somaliland memproklamasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991, tetapi hingga kini belum diakui secara luas oleh komunitas internasional.

Persaingan memperebutkan Berbera

Upaya meraih dukungan Washington juga dilakukan pemerintah federal Somalia. Pada Maret 2025, draf surat Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud kepada Presiden AS Donald Trump menawarkan "kontrol operasional eksklusif" atas pangkalan udara di Baledogle dan Berbera, serta pelabuhan Berbera dan Bosaso, menurut Reuters

Surat bertanggal 16 Maret 2025 itu menyebut fasilitas tersebut dapat "memperkuat keterlibatan Amerika di kawasan" dan mencegah "kompetitor eksternal mendirikan kehadiran di koridor kritis ini."

Somaliland menolak usulan tersebut. Menteri Luar Negeri Somaliland Abdirahman Dahir Aden menyebut langkah Mogadishu sebagai "putus asa". Ia mengatakan kepada Reuters, "Amerika tidak naif. Mereka memahami dengan siapa mereka harus berhubungan terkait pelabuhan Berbera."

Pelabuhan Berbera di Teluk Aden dikelola oleh otoritas Somaliland dan dioperasikan oleh DP World, perusahaan logistik asal Uni Emirat Arab.

Somalia juga berupaya menghidupkan kembali perjanjian kerja sama militer era Perang Dingin tahun 1980 yang ditandatangani di bawah Presiden AS saat itu, Jimmy Carter. Menteri Negara Urusan Luar Negeri Somalia, Ali Mohamed Omar, mengatakan kepada TRT World tahun lalu bahwa pembaruan tersebut merupakan "langkah strategis untuk mendekatkan diri ke AS."

Tanduk Afrika kian memanas

Tanduk Afrika semakin menjadi arena persaingan kekuatan global. Amerika Serikat mempertahankan satu-satunya pangkalan militer permanennya di Afrika di Djibouti. Di negara yang sama, China juga mengoperasikan fasilitas militer.

Letak Somaliland yang berhadapan langsung dengan Yaman, di mulut Laut Merah, dinilai strategis, terutama sejak kelompok Houthi meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal di jalur pelayaran tersebut.

Sementara itu, Turki memperluas keterlibatan militernya di Somalia. Ankara mengerahkan jet tempur F-16 ke Mogadishu pada akhir Januari dan menyepakati rencana pembangunan pangkalan militer Turki di Laas Qoray, wilayah Sanaag yang dipersengketakan di Teluk Aden. Sejumlah analis menilai langkah ini sebagian merupakan respons atas pengakuan Israel terhadap Somaliland.

Dalam wawancara yang sama, Hussein Abdi juga menyatakan Israel dapat mendirikan kehadiran militer di Somaliland. Ia menyerukan agar Turki berinteraksi langsung dengan Hargeisa.

"Faksi-faksi di Mogadishu terpecah-pecah dan tidak mampu mencapai konsensus," katanya kepada AFP. "Oleh karena itu, fokus pada mereka tidak berkontribusi pada keamanan regional."