gulungan baja canai dingin (CRC) yang diproduksi oleh PT Krakatau Baja Industri (KBI), anak perusahaan PT Krakatau Steel. | KRAKATAU STEEL


Indonesia menempati posisi kelima eksportir besi dan baja terbesar dunia pada 2025, naik dari peringkat ke-17 pada 2019. Di saat bersamaan, produk impor murah masih diproyeksikan menguasai sekitar 55% pasar domestik pada 2026. Data tersebut disampaikan pemerintah dalam rapat kerja Kementerian Perdagangan bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta pekan ini.

Kementerian Perdagangan mencatat neraca perdagangan besi dan baja 2025 surplus US$18,44 miliar, ditopang ekspor US$27,97 miliar dan impor US$9,53 miliar. Empat negara di atas Indonesia dalam ekspor baja global adalah China, Jerman, Jepang, dan Korea Selatan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan surplus perdagangan menunjukkan penguatan posisi Indonesia dalam perdagangan global.

“Pencapaian neraca perdagangan yang surplus konsisten ini selaras dengan peningkatan posisi Indonesia di kancah perdagangan global,” ujarnya.

Dari sisi produksi, Kementerian Perindustrian melaporkan output baja nasional meningkat hampir 98,5% dalam lima tahun terakhir dibandingkan 2019 yang sebesar 8,5 juta ton. Kebijakan diarahkan pada peningkatan kapasitas dan utilisasi industri guna memperbesar pasokan domestik.

Namun permintaan dalam negeri belum pulih sepenuhnya. Asosiasi industri memperkirakan utilisasi pabrik hanya sekitar 50% karena pasar domestik masih didominasi baja impor, terutama dari Tiongkok, yang lebih murah akibat kebijakan subsidi di negara asal.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan tekanan terhadap industri berlanjut memasuki 2026.

“Memasuki 2026, industri baja nasional masih berada dalam kondisi yang menantang. Konsumsi domestik belum pulih sepenuhnya, sektor konstruksi masih lemah,” kata Harry.

Tekanan impor juga berdampak pada operasional pabrik. Osaka Steel menutup operasional PT Krakatau Steel Osaka Steel setelah mengalami kerugian sejak 2022, diperparah penurunan permintaan akibat pemangkasan anggaran infrastruktur.

Di sisi lain, investasi baru tetap berjalan. PT Tata Metal Lestari menanamkan Rp1,5 triliun membangun fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 di Purwakarta berkapasitas 250.000 ton per tahun sehingga total kapasitas mencapai 500.000 ton.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyiapkan proyek industri besi baja dari pasir besi di Kabupaten Sarmi, Papua senilai Rp19 triliun dengan potensi 18.000 lapangan kerja. Proyek ini menjadi bagian dari 18 proyek hilirisasi Danantara dengan total investasi lebih dari Rp618 triliun.

IISIA mendorong pemerintah memperkuat instrumen pengamanan perdagangan agar arus impor selaras dengan produksi dalam negeri.