![]() |
| Ilustrasi cip semikonduktor yang menjadi salah satu komponen otomotif. | PAULTAN.ORG |
Indonesia memperluas langkahnya di industri semikonduktor dan kecerdasan artifisial (AI) melalui diplomasi teknologi di India serta penguatan kemitraan investasi dengan Amerika Serikat. Pemerintah menyebut upaya ini sebagai bagian dari strategi untuk menggeser posisi Indonesia dari konsumen menjadi produsen dalam rantai pasok teknologi global.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria memanfaatkan forum AI Impact Summit 2026 di New Delhi, India, pada 18–20 Februari 2026 untuk menjajaki kerja sama dengan sejumlah pelaku industri teknologi India. Di sela-sela forum tersebut, Nezar bertemu dengan Tata Group dan Netweb Technologies.
Tata Group, melalui unit Tata Electronics, tengah membangun fasilitas perakitan dan pengujian semikonduktor pertama di India. Sementara Netweb dikenal sebagai pengembang server berbasis AI. Dalam pernyataan yang dirilis Antara, Nezar menekankan pentingnya hilirisasi sumber daya dalam negeri untuk mendukung industri tersebut.
"Indonesia memiliki komitmen untuk melakukan hilirisasi mineral kritis. Pasir silika yang tersedia melimpah di tanah air merupakan potensi besar yang harus kita transformasikan menjadi produk bernilai tambah tinggi," kata Nezar.
Ia menambahkan, kerja sama dengan perusahaan global dibutuhkan untuk membangun ekosistem semikonduktor nasional yang kompetitif. "Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa negara-negara Global South tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan inovator teknologi dasar abad ke-21," tegasnya.
Selain dengan perusahaan India, Nezar juga berdiskusi dengan sejumlah perusahaan teknologi asal AS, antara lain Qualcomm, Intel, Salesforce, dan Meta. Pembicaraan mencakup pemanfaatan AI untuk pelayanan publik serta pembangunan infrastruktur digital.
Di saat yang sama, Indonesia mempertegas kerja sama industri semikonduktor dengan AS. PT Galang Bumi Industri menandatangani kesepakatan dengan Tynergy Group of Companies untuk membangun fasilitas produksi di kawasan Proyek Strategis Nasional Wiraraja GESEIP, Pulau Galang, Batam.
Nilai investasi tahap awal mencapai US$4,9 miliar atau sekitar Rp82 triliun. Jika fase pertama berjalan sesuai rencana, tambahan investasi hingga US$26,7 miliar disiapkan untuk pengembangan produksi terintegrasi, mulai dari ingot wafer, wafer slicing, hingga fabrikasi semikonduktor. Proyek ini juga mencakup hilirisasi kuarsa silika menjadi polysilicon untuk kebutuhan semikonduktor dan solar cell.
Konsorsium proyek melibatkan PT Quantum Luminous Indonesia, PT Terra Mineral Nusantara, serta Tynergy Group yang terdiri dari PT Energy Tech Indonesia dan PT Essence Global Indonesia.
Langkah ini merupakan kelanjutan kebijakan pemerintah sejak awal 2026. Pada Januari, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah menyiapkan dana awal US$125 juta untuk bekerja sama dengan Arm Holdings asal Inggris dalam pengembangan ekosistem semikonduktor.
Pemerintah juga membentuk gugus tugas khusus semikonduktor dan AI, serta menggelar Indonesia Semiconductor Summit 2026 di Bandung yang melibatkan mitra dari Jerman, Belanda, Inggris, AS, Malaysia, Jepang, dan Asian Development Bank.

0Komentar