Latihan militer gabungan Filipina, Amerika Serikat, dan Jepang untuk pertama kalinya digelar hingga ke Selat Bashi—jalur strategis yang memisahkan Filipina dan Taiwan. Manuver ini memicu reaksi keras dari Tiongkok, yang mengerahkan kapal perang untuk membayangi operasi sekutu selama empat hari di laut.
Kegiatan tersebut merupakan iterasi ke-15 dari Multilateral Maritime Cooperative Activity (MMCA) yang berlangsung pada 20–26 Februari. Operasi laut digelar pada 23–26 Februari di perairan utara Luzon hingga mendekati Kepulauan Batanes, wilayah paling utara Filipina yang berjarak kurang dari 100 kilometer dari Taiwan.
Militer Filipina menyatakan patroli udara dilakukan di atas wilayahnya sendiri. "Operasi udara dilakukan di dalam ruang udara di atas wilayah Filipina dan laut teritorialnya, di sebelah utara Luzon," demikian pernyataan resmi mereka.
Kolonel Xerxes Trinidad, kepala urusan publik angkatan bersenjata Filipina, mengatakan kepada AFP bahwa ini adalah "pertama kalinya" MMCA menjangkau area operasional tersebut. Wilayah latihan, katanya, membentang "hingga ujung utara Luzon, khususnya Pulau Mavulis".
Filipina mengerahkan fregat berpeluru kendali BRP Antonio Luna, jet tempur FA-50, pesawat A-29 Super Tucano, serta kapal penjaga pantai BRP Gabriela Silang. AS menurunkan kapal perusak USS Dewey dan pesawat patroli maritim P-8A Poseidon, sedangkan Jepang mengirim pesawat patroli P-3 Orion.
Latihan mencakup perang anti-kapal selam, pengisian bahan bakar di laut, patroli udara bersama, hingga latihan tembakan langsung oleh BRP Antonio Luna.
Militer Tiongkok merespons pada Jumat. Zhai Shichen, juru bicara Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat, menuding Filipina melibatkan kekuatan di luar kawasan.
"Filipina menggandeng negara-negara dari luar kawasan untuk mengorganisir apa yang disebut patroli bersama, mengganggu perdamaian dan stabilitas di kawasan," ujarnya. Ia menambahkan Tiongkok juga melakukan "patroli rutin" sendiri di Laut Tiongkok Selatan pada 23–26 Februari.
GMA Integrated News, yang berada di atas BRP Antonio Luna selama latihan, melaporkan kapal perang Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat terlihat mengikuti kapal-kapal sekutu. Sebuah fregat rudal kelas Jiangkai II dan kapal perusak berpeluru kendali Hefei membayangi manuver hingga mendekati Batanes.
Komandan BRP Antonio Luna, Kapten Jennifer Monforte, mengatakan kehadiran kapal Tiongkok tersebut "tidak normal". Ia mencatat kapal-kapal itu terus mengikuti formasi sekutu bahkan saat memasuki perairan Filipina.
Latihan ini berlangsung ketika rivalitas strategis di kawasan kian tajam, terutama terkait Taiwan. Pada November lalu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memicu ketegangan diplomatik setelah menyatakan Tokyo dapat melakukan intervensi militer bila serangan terhadap Taiwan mengancam kelangsungan hidup Jepang.
Beijing merespons dengan pembatasan ekspor dan peringatan perjalanan ke Jepang. Pekan ini, menteri pertahanan Jepang mengumumkan rencana penempatan rudal permukaan-ke-udara di pulau terpencil di barat Jepang dekat Taiwan pada awal 2031.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos sebelumnya mengingatkan negaranya berpotensi terseret dalam konflik terkait Taiwan. Pada Agustus lalu ia mengatakan Filipina bisa terlibat "dengan terpaksa" dalam konflik apa pun yang melibatkan Taiwan, seraya menambahkan, "Saya harap itu tidak terjadi. Tapi jika memang terjadi, kita harus sudah merencanakan antisipasi," merujuk pada banyaknya warga Filipina yang bekerja di Taiwan.

0Komentar