![]() |
| Dalam gambar ini, Elon Musk mengenakan jaket katun kanvas berwarna cokelat saat menghadiri festival SXSW 2018 di Austin, Texas. | REUTERS/MIKE BLAKE |
Elon Musk memperingatkan kondisi fiskal Amerika Serikat berada di jalur berisiko seiring lonjakan utang nasional yang terus membengkak. CEO Tesla itu menilai tanpa lompatan produktivitas dari kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan robotika, ekonomi AS berpotensi menghadapi tekanan serius hingga ancaman kebangkrutan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Musk dalam wawancara di Dwarkesh Podcast pada Kamis (5/2/2026). Ia menilai struktur belanja pemerintah yang melampaui penerimaan membuat beban utang makin sulit dikendalikan.
“Kita 1.000 persen akan bangkrut sebagai negara dan gagal sebagai negara, tanpa AI dan robot. Tidak ada hal lain yang akan menyelesaikan utang nasional,” ujar Musk.
Ia menambahkan, tanpa terobosan produktivitas, situasi fiskal hanya akan memburuk. Menurut dia, AS saat ini “benar-benar kacau karena utang nasional menumpuk sangat gila.”
Data terbaru Departemen Keuangan AS yang dikutip Yahoo Finance menunjukkan total utang nasional telah mencapai US$38,56 triliun. Angka tersebut terus bertambah karena belanja pemerintah melampaui pendapatan pajak dan penerimaan lainnya. Pada tahun fiskal 2026 sejauh ini, defisit tercatat sekitar US$602 miliar, mencerminkan selisih pengeluaran yang lebih besar dibanding pemasukan.
Di sisi lain, beban bunga utang ikut meningkat tajam. Musk menyoroti besarnya pembayaran bunga tahunan yang kini melampaui anggaran militer.
“Pembayaran bunga atas utang nasional melebihi anggaran militer, yang sebesar satu triliun dollar AS. Jadi kita memiliki lebih dari satu triliun dollar AS hanya untuk pembayaran bunga,” katanya.
Lembaga riset fiskal Committee for a Responsible Federal Budget memperkirakan tekanan tersebut masih akan berlanjut. Proyeksi mereka menyebut pembayaran bunga utang berpotensi melampaui US$1,5 triliun pada 2032 dan naik menjadi sekitar US$1,8 triliun pada 2035, seiring akumulasi utang baru dan biaya pinjaman yang lebih tinggi.
Kekhawatiran serupa datang dari kalangan investor global. Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, memperingatkan risiko yang ia sebut sebagai “debt death spiral”, yakni kondisi ketika pemerintah harus terus berutang hanya untuk membayar bunga, sehingga menciptakan siklus pembiayaan berulang.
Meski begitu, Dalio tidak memperkirakan AS akan mengalami gagal bayar secara formal. Ia menilai bank sentral kemungkinan akan turun tangan melalui kebijakan moneter.
“Tidak akan ada gagal bayar, bank sentral akan turun tangan dan kita akan mencetak uang serta membelinya. Dan di situlah terjadi depresiasi nilai uang,” ujarnya.
Dengan skema tersebut, pemerintah dinilai tetap mampu memenuhi kewajiban pembayaran, namun nilai mata uang dapat tergerus akibat ekspansi likuiditas. Musk sebelumnya juga mengingatkan risiko serupa terhadap daya beli dolar AS.
Data Federal Reserve Bank of Minneapolis menunjukkan US$100 pada 2025 hanya memiliki daya beli setara US$12,06 pada 1970, menggambarkan penurunan nilai riil mata uang dalam jangka panjang.
Di tengah ketidakpastian fiskal dan moneter, sejumlah pelaku pasar mulai menyoroti aset lindung nilai. Dalio mendorong investor melakukan diversifikasi portofolio, termasuk meningkatkan porsi emas.
“Orang-orang biasanya tidak memiliki jumlah emas yang memadai dalam portofolionya. Ketika masa sulit datang, emas adalah diversifier yang sangat efektif,” kata dia.
Emas selama ini dipandang sebagai safe haven karena tidak terikat pada satu mata uang dan pasokannya terbatas. Dalam periode gejolak ekonomi maupun risiko geopolitik, permintaan logam mulia cenderung meningkat.
Dalam 12 bulan terakhir, harga emas dilaporkan naik lebih dari 70%, meski sempat mengalami koreksi jangka pendek. Pandangan serupa juga disampaikan CEO JPMorgan Jamie Dimon yang menyebut harga emas dalam kondisi saat ini dapat “dengan mudah” mencapai US$10.000 per ons, mencerminkan minat investor terhadap aset perlindungan nilai di tengah tekanan fiskal AS.

0Komentar