![]() |
| Dassault Rafale C milik Angkatan Udara Prancis di Paris Airshow tahun 2015. | USAFE AFAFRICA from Ramstein Air Base, Germany/CC BY 2.0 |
Langkah korporasi di industri pertahanan memicu perhatian negara pengguna jet tempur Rafale, termasuk Indonesia, setelah perusahaan AS, Loar Group, mengakuisisi LMB Aerospace, pemasok komponen penting untuk pesawat tempur buatan Prancis tersebut.
Akuisisi senilai sekitar €367 juta atau setara US$433 juta di luar utang itu terjadi pada Desember 2025 dan mendapat persetujuan pemerintah Prancis pada awal Februari 2026 dengan sejumlah syarat pengamanan industri.
LMB Aerospace selama ini memproduksi motor dan kipas pendingin khusus yang digunakan pada Rafale. Selain itu, perusahaan berbasis Prancis itu juga memasok komponen untuk kapal selam nuklir Prancis, helikopter Tiger, tank Leclerc, serta sejumlah jet tempur AS seperti F-15, F-16, dan F-18. Karena itu, perubahan kepemilikan memunculkan sorotan terkait potensi masuknya regulasi ekspor International Traffic in Arms Regulations (ITAR) ke dalam rantai pasok Rafale.
Sebelum akuisisi ini, Rafale dikenal sebagai platform yang relatif bebas dari ketergantungan teknologi AS atau berstatus “ITAR-free”, yang selama ini menjadi nilai jual utama dalam ekspor.
Meski begitu, kekhawatiran muncul jika di kemudian hari Loar mengintegrasikan teknologi atau komponen asal AS ke produk LMB. Dalam skenario itu, ekspor suku cadang tertentu berpotensi memerlukan persetujuan otoritas AS dan dapat dibatasi sesuai kebijakan Washington.
Bagi Indonesia, isu ini berkaitan langsung dengan kontrak pengadaan 42 unit Rafale yang diaktifkan bertahap sejak 2022 hingga 2024. Skema tersebut mencakup pengiriman unit flyaway dan program offset melalui PT Dirgantara Indonesia untuk produksi komponen lokal serta transfer of technology. Hingga Februari 2026, belum ada laporan gangguan pada pelaksanaan kontrak maupun jadwal pengiriman awal.
Namun di sisi lain, perhatian mengarah pada ketersediaan suku cadang jangka panjang. Jika sebagian komponen penting masuk rezim ITAR, distribusinya dapat terpengaruh kebijakan ekspor AS. Situasi serupa pernah menjadi perhatian dalam pengoperasian alutsista yang bergantung pada rantai pasok AS di sejumlah negara.
Pemerintah Prancis, dalam proses persetujuan akuisisi, disebut menetapkan pembatasan atas akses terhadap aset dan teknologi sensitif. LMB tetap beroperasi di Prancis, sementara otoritas setempat memantau kepatuhan terhadap ketentuan kedaulatan industri pertahanan nasional. Isu ini juga memicu perdebatan di parlemen Prancis mengenai perlindungan sektor strategis.
Sampai saat ini, Kementerian Pertahanan RI belum menyampaikan pernyataan resmi terkait dampak akuisisi tersebut terhadap program Rafale Indonesia. Di tingkat internasional, perhatian juga datang dari negara pengguna lain seperti India yang memiliki rencana penambahan armada Rafale dalam jumlah besar.

0Komentar