![]() |
| Elon Musk. |TED CONVERWNCE, CC BY-NC 2.0/FLICKR |
Pemilik dan , Elon Musk, memaparkan rencana ekspansi aktivitas manusia ke luar Bumi, mulai dari pembangunan pusat data di orbit hingga fasilitas industri di Bulan. Dalam pertemuan internal berdurasi sekitar 45 menit yang kemudian dipublikasikan perusahaan, Musk menyebut eksplorasi antariksa sebagai langkah penting untuk memperluas kapasitas energi dan komputasi, sekaligus membuka peluang penemuan baru, termasuk kemungkinan jejak peradaban asing.
Paparan itu muncul di tengah rencana korporasi untuk memperkuat pendanaan. Musk dilaporkan menargetkan penghimpunan dana sekitar US$50 miliar dari investor, seiring skenario membawa SpaceX bersama xAI melantai ke pasar publik. Menurutnya, integrasi dua entitas tersebut ditujukan mempercepat riset kecerdasan buatan dan infrastruktur luar angkasa dalam satu ekosistem.
Dalam pernyataan pembuka, Musk menekankan keterbatasan riset jika hanya mengandalkan fasilitas di Bumi. Ia menyebut teleskop dan pemercepat partikel memiliki batas jangkauan, sehingga eksplorasi langsung menjadi langkah berikutnya.
"Untuk memperluas alam semesta, Anda harus menjelajahi alam semesta," ujar Musk dalam rekaman yang dirangkum media teknologi .
Ia menambahkan, pemahaman kosmos tidak cukup dilakukan dari darat. “Hanya ada begitu banyak yang dapat Anda pelajari hanya dengan berada di Bumi, dengan teleskop dan pemercepat partikel di Bumi. Pada akhirnya, Anda harus pergi ke sana dan menjelajahi alam semesta. Untuk memahaminya. Dan itulah motivasi di balik penggabungan SpaceX dan xAI. Tujuannya adalah untuk mempercepat masa depan umat manusia dalam memahami alam semesta, dan memperluas cahaya kesadaran ke bintang-bintang,” kata dia.
Lebih jauh, Musk memaparkan perhitungan energi sebagai dasar argumennya. Ia menyebut peradaban saat ini baru memanfaatkan sekitar 1% potensi energi Bumi. Sementara itu, jika manusia ingin memanfaatkan sepersejuta energi Matahari, kapasitas energi yang dibutuhkan disebutnya bisa satu juta kali lipat dari konsumsi sekarang.
Menurut Musk, satu-satunya cara mengakses energi tersebut adalah dengan melampaui Bumi. Ia menilai posisi Bumi relatif kecil dibanding Matahari, yang menyumbang sekitar 99,8% massa tata surya, sehingga ekspansi ke orbit dan luar angkasa menjadi kebutuhan teknis, bukan sekadar ambisi.
Dalam tahap awal, xAI dan SpaceX berencana membangun pusat data di orbit rendah Bumi. Musk mengatakan fasilitas itu akan diluncurkan dengan kapasitas 100 hingga 200 gigawatt per tahun.
“Langkah selanjutnya di luar pusat data Bumi adalah pusat data orbit Bumi, dan kami akan meluncurkan, dengan SpaceX, pusat data orbit pada tingkat 100 hingga 200 gigawatt per tahun. Bukan kumulatif. Maksud saya per tahun. Dan pada akhirnya, kami melihat jalan untuk mungkin meluncurkan sebanyak satu terawatt per tahun daya komputasi dari Bumi,” ujarnya.
Ia kemudian memaparkan skenario lanjutan jika kebutuhan komputasi meningkat melampaui level terawatt. Dalam rencana tersebut, Bulan diproyeksikan menjadi lokasi industri berikutnya. Musk menyebut pembangunan pabrik, satelit AI, serta mass driver atau penggerak massa untuk meluncurkan muatan ke luar angkasa.
“Untuk melakukan itu, Anda harus pergi ke bulan,” kata dia, sebelum menjelaskan konsep fasilitas produksi dan peluncuran otomatis dari permukaan Bulan.
“Dengan memiliki pabrik di bulan, membangun satelit AI, dan memiliki penggerak massa—yang merupakan hal yang hanya Anda pelajari, baca, dalam fiksi ilmiah, tetapi kami akan mewujudkannya—kami benar-benar akan memiliki penggerak massa. Di Bulan.”
Teknologi tersebut, lanjutnya, memungkinkan peningkatan kapasitas hingga 1.000 gigawatt atau lebih per tahun. Dalam jangka panjang, ia menyebut potensi pemanfaatan energi Matahari bisa naik hingga sepersejuta, bahkan beberapa %.
Selain aspek teknis, Musk juga menyinggung dimensi ilmiah eksplorasi antarbintang. Ia menyebut kemungkinan menemukan tanda kehidupan atau sisa peradaban lain sebagai bagian dari motivasi jangka panjang.
“Mungkin kita akan bertemu alien. Mungkin kita akan melihat beberapa peradaban yang bertahan selama jutaan tahun. Dan kita akan menemukan sisa-sisa peradaban alien kuno. Tetapi satu-satunya cara kita akan melakukan itu adalah jika kita pergi ke sana dan kita menjelajah,” ujarnya.
Paparan tersebut memperlihatkan arah strategi gabungan xAI dan SpaceX, yakni mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan infrastruktur peluncuran dan manufaktur luar angkasa. Saat ini, kedua perusahaan masih berfokus pada pengembangan roket generasi baru dan model AI berskala besar, sembari membuka peluang pendanaan eksternal untuk mempercepat realisasi proyek.

0Komentar