Ilustrasi bendera nasional China dan Taiwan ditampilkan di samping pesawat militer. | REUTERS/DADO RUVIC


China memperingatkan bahwa kekuatan yang mendukung kemerdekaan Taiwan dapat menghadapi “pemusnahan total” jika memicu permusuhan, di tengah peningkatan aktivitas militer Beijing di sekitar pulau tersebut. Peringatan itu disampaikan saat Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan melaporkan kehadiran pesawat dan kapal militer China di dekat wilayahnya pada Selasa.

Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan menyatakan mendeteksi empat pesawat militer China dan delapan kapal angkatan laut beroperasi di sekitar perairan teritorialnya. Keempat pesawat tersebut dilaporkan melintasi garis median Selat Taiwan dan memasuki zona identifikasi pertahanan udara bagian barat daya pulau itu. Otoritas Taiwan kemudian mengerahkan pesawat tempur, kapal perang, serta sistem rudal berbasis pantai untuk memantau pergerakan militer tersebut.

Aktivitas militer itu berlangsung bersamaan dengan meningkatnya pernyataan politik Beijing terkait Taiwan. Dalam Konferensi Kerja Taiwan tahunan di Beijing, pemimpin senior Partai Komunis China Wang Huning menegaskan dukungan terhadap kelompok yang disebutnya sebagai kekuatan patriotik pro-reunifikasi. Informasi itu disampaikan kantor berita pemerintah Xinhua.

Juru bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin turut menyampaikan peringatan keras menanggapi laporan rencana militer Taiwan menempatkan sistem roket HIMARS buatan AS di pulau terluar Penghu dan Dongyin. Sistem tersebut dinilai dapat menjangkau fasilitas militer di sepanjang pesisir tenggara China.

"Mengingat kekuatan aktual Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, angkatan bersenjata para pendukung gerakan yang disebut kemerdekaan Taiwan akan menghadapi pemusnahan total jika mereka berani memicu permusuhan," kata Jiang melalui akun WeChat resmi kementerian tersebut.

Di sisi lain, Dewan Urusan Daratan Taiwan menilai pernyataan Wang Huning sebagai retorika yang telah berulang. Otoritas itu menyatakan Beijing berupaya menghapuskan Republik Tiongkok dan mendorong reunifikasi. Dewan tersebut juga menegaskan bahwa masa depan pulau itu hanya dapat diputuskan oleh sekitar 23 juta warga Taiwan.

Tekanan militer dan politik China terhadap Taiwan meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pada akhir Desember 2025, Beijing menggelar latihan militer besar bertajuk "Misi Keadilan-2025" di sekitar Taiwan. Latihan selama tiga hari itu melibatkan latihan tembak langsung dan menyebabkan pembatalan sejumlah penerbangan antara Taiwan dan pulau-pulau terluarnya. Selama latihan tersebut, Taiwan melaporkan sekitar 90 pesawat militer China melintasi garis median Selat Taiwan.

Lebih jauh, Wang Huning yang juga menjabat ketua Chinese People’s Political Consultative Conference disebut memimpin arah kebijakan China terhadap Taiwan. Dalam konferensi tersebut, ia meminta pejabat pemerintah untuk memajukan perjuangan reunifikasi nasional, menandakan tekanan politik yang terus berlanjut terhadap Taipei.

Saat ini, Beijing tetap memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mencapai reunifikasi. Pemerintah Taiwan yang dipilih melalui sistem demokrasi terus menolak klaim tersebut dan mempertahankan posisinya sebagai pemerintahan yang berdiri sendiri.