![]() |
| F-35B lepas landas pendek dan pendaratan vertikal serta F-35C untuk kapal induk terbang bersama di Fort Worth, Texas, dalam uji terbang fungsional (14/3/2013). | LOCKHEED MARTIN/FLICKR |
Amerika Serikat mengirim tambahan 48 jet tempur ke Timur Tengah ketika perundingan dengan Iran belum menunjukkan kejelasan hasil. Pengerahan ini dilaporkan berlangsung bersamaan dengan mobilisasi pesawat intai, tanker, hingga dua kapal induk ke kawasan sekitar Teluk.
Media Israel, The Jerusalem Post, pada Rabu (18/2/2026) melaporkan 12 jet siluman F-22 dan 36 F-16 telah digerakkan ke Timur Tengah. Seluruh F-22 disebut menuju Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, sementara tujuan F-16 belum diungkap. AS juga dilaporkan mengirim tambahan F-35, meski jumlah dan lokasinya tidak dirinci.
Langkah ini terjadi sehari setelah perundingan AS-Iran di Jenewa berakhir pada Selasa (17/2/2026). Seorang pejabat AS mengatakan kepada The Jerusalem Post bahwa telah ada kemajuan dalam pembicaraan tersebut. Proposal dari Iran disebut akan diajukan dalam dua pekan ke depan dan diklaim menjembatani perbedaan pandangan terkait program nuklir Teheran.
Di saat yang sama, pengerahan militer terus berlangsung.
![]() |
| Pesawat E-3 Sentry Airborne Warning and Control System (AWACS) bersiap untuk misi mendukung RED FLAG pada 3 Februari 2020 di Pangkalan Angkatan Udara Nellis, Nevada. | USAF |
Selain jet tempur, AS mengirim tiga pesawat kendali dan peringatan dini E-3 Sentry dari Eropa ke Timur Tengah. Sebelumnya, dua unit serupa sudah lebih dulu ditempatkan di kawasan tersebut. Pesawat ini berfungsi memantau ancaman rudal dan pesawat nirawak melalui radar udara-daratnya.
Pesawat komunikasi dan penghubung seperti E-11A BACN serta pesawat intai ketinggian tinggi U-2 Dragon Lady juga digerakkan. U-2 antara lain berperan menghubungkan F-22 dan F-16 dalam operasi udara terpadu.
Pada Juni 2025, dalam Operasi Godam Tengah Malam, AS menggunakan kombinasi pesawat tempur, intai, dan perang elektronik untuk menyerang Iran. Saat itu, dua kapal induk ditempatkan di Laut Arab.
Kali ini, dugaan sementara menyebut pesawat intai tambahan bisa ditempatkan di pangkalan udara di Siprus atau di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi. Di Yordania, Pangkalan Muwaffiq Salti sebelumnya menjadi basis operasi F-35 Lightning II, F-15E Eagle, dan pesawat perang elektronik E/A-18G Growler dalam serangan tahun lalu.
Pergerakan logistik juga meningkat. Sepanjang Selasa saja, tercatat 16 penerbangan pesawat angkut dan tanker yang bergerak menuju kawasan. Sebagian melintasi Atlantik menuju Eropa sebelum diteruskan ke Timur Tengah, sementara lainnya berangkat dari pangkalan AS di Eropa dan Mediterania.
Di Timur Tengah saat ini terdapat lima tanker KC-46 Pegasus dan pesawat E-11. Di Pulau Kreta, Yunani, ditempatkan lima tanker KC-135. Bulgaria juga dilaporkan menjadi lokasi penempatan tambahan pesawat tanker dan intai.
Di laut, sejak akhir Januari 2026, gugus tempur yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di kawasan. Akhir pekan lalu, kapal induk USS Gerald Ford yang disebut sebagai kapal induk terbesar AS bergerak dari Karibia menuju Laut Arab.
![]() |
| USS Eisenhower (CVN-69), sebuah kapal induk bertenaga nuklir dari Angkatan Laut Amerika Serikat. | U.S. NAVY |
Di geladak kedua kapal induk itu dapat ditempatkan sedikitnya 150 pesawat tempur dan helikopter. Gugus tempur ini didampingi sedikitnya tujuh kapal perusak yang dilengkapi sekitar 600 tabung peluncur rudal laut ke darat.
Terakhir kali dua kapal induk AS ditempatkan bersamaan di Laut Arab tercatat pada Juni 2025, bertepatan dengan serangan udara terhadap Iran.
Pihak Iran merespons pengerahan tersebut dengan latihan militer. Teheran menggelar latihan menggunakan munisi hidup dan penembakan roket di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi migas global.
Iran juga menutup sebagian perairan Selat Hormuz selama latihan berlangsung.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa negaranya siap menghadapi ancaman. Ia mengatakan kapal induk AS memang berbahaya. "Akan tetapi, lebih berbahaya adalah senjata yang bisa menenggelamkan sumber bahaya tersebut," ujarnya.
Iran sebelumnya mengancam akan menghancurkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk jika kembali diserang.
Mobilisasi militer yang berlangsung bersamaan dengan jalur diplomasi ini menempatkan kawasan Teluk dalam situasi siaga, sembari menunggu proposal resmi Iran yang dijanjikan dalam dua pekan mendatang.



0Komentar