Tiongkok dan Rusia menyatakan dukungan terbuka kepada Kuba di tengah tekanan Amerika Serikat yang memperketat pembatasan pasokan minyak dan memperluas isolasi ekonomi terhadap negara Karibia itu. Pernyataan dukungan disampaikan pada 5 Februari melalui pertemuan diplomatik di Beijing dan pernyataan resmi dari Moskwa, menyusul perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump yang membuka jalan bagi pengenaan tarif terhadap pihak mana pun yang memasok minyak ke Kuba.
Di Beijing, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla pada Kamis. Pada hari yang sama, Duta Besar Rusia untuk Kuba Viktor Coronelli menegaskan komitmen Moskwa untuk melanjutkan pengiriman minyak ke Havana meski menghadapi ancaman tarif dari AS.
Mengutip Xinhua, Dalam pertemuan tersebut, Wang Yi menyampaikan penolakan Tiongkok terhadap apa yang ia sebut sebagai campur tangan eksternal yang tidak beralasan. Ia menegaskan kesiapan Beijing membantu Kuba di tengah situasi regional yang dinilai semakin kompleks. Wang mengatakan Tiongkok “siap memberikan dukungan dan bantuan semampu kami” kepada Kuba, seraya menyinggung perubahan geopolitik di Amerika Latin.
Rodríguez, dalam kesempatan yang sama, menyebut hubungan Kuba dan Tiongkok sebagai kemitraan erat yang telah terjalin lama. Ia menyampaikan apresiasi atas “dukungan teguh” Beijing di tengah sanksi dan pembatasan yang diberlakukan AS, serta menyebut kedua negara sebagai “saudara dan kawan seperjuangan.”
Secara terpisah, Viktor Coronelli menegaskan bahwa Rusia akan tetap memasok minyak ke Kuba. Dalam wawancara dengan kantor berita negara RIA, Coronelli mengatakan, “Kami berasumsi bahwa praktik ini akan berlanjut,” merujuk pada pengiriman energi Rusia ke negara tersebut.
Dukungan terkoordinasi dari Beijing dan Moskwa muncul setelah Trump menandatangani perintah eksekutif pada 29 Januari yang menetapkan Kuba sebagai ancaman yang tidak biasa dan luar biasa terhadap keamanan nasional AS. Kebijakan itu mengizinkan pengenaan tarif atas barang dari negara mana pun yang menjual atau menyediakan minyak ke Kuba.
Dalam dokumen tersebut, pemerintah AS menuduh Havana melindungi “musuh-musuh berbahaya” serta menjalin kerja sama intelijen dengan Rusia dan Tiongkok. Perintah eksekutif itu juga menyinggung dugaan hubungan Kuba dengan kelompok seperti Hamas dan Hizbullah.
Tekanan AS datang di tengah memburuknya krisis energi di Kuba. Situasi itu kian terasa setelah AS menahan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro pada awal tahun ini, yang memutus salah satu sumber minyak utama bagi Havana. Venezuela sebelumnya memasok lebih dari sepertiga kebutuhan minyak Kuba hingga beberapa bulan terakhir.
Selain Venezuela, Meksiko—pemasok minyak utama Kuba pada 2025—menghentikan sementara sebagian pengiriman di bawah tekanan AS. Pemerintah Meksiko belum memastikan apakah penghentian tersebut bersifat permanen. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum belum memberikan penjelasan resmi terkait kebijakan itu.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, dalam percakapan telepon dengan Rodríguez pada awal pekan ini, memperingatkan bahwa upaya Washington menghambat pasokan energi “berisiko memperparah kondisi ekonomi dan kemanusiaan” di Kuba.
Di dalam negeri, Kuba menghadapi kelangkaan bahan bakar serius yang berdampak langsung pada pasokan listrik. Sejumlah wilayah mengalami pemadaman hingga 20 jam per hari, menurut pernyataan otoritas setempat.
Rodríguez menuduh AS berupaya memberlakukan blokade total terhadap pasokan bahan bakar Kuba. Ia menyebut situasi tersebut sebagai darurat internasional dan meminta dukungan komunitas global.
Kuba tercatat sebagai negara pertama di Belahan Barat yang menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok. Dukungan terbaru dari Beijing dan Moskwa kembali menempatkan Havana dalam dinamika geopolitik yang melibatkan ketegangan antara AS dan dua kekuatan besar tersebut.

0Komentar