Pemerintah Amerika Serikat menyalurkan hibah senilai US$2,49 juta atau sekitar Rp41,7 miliar untuk mendukung pengembangan sistem kota cerdas di Ibu Kota Nusantara (IKN). Bantuan melalui U.S. Trade and Development Agency (USTDA) itu difokuskan pada penyusunan kerangka teknis dan strategi implementasi smart city bagi ibu kota baru Indonesia.
Kesepakatan asistensi teknis tersebut ditandatangani pada Selasa (25/2/2026) di Kantor Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Program ini menjadi kelanjutan dukungan USTDA yang dimulai sejak 2024, ketika lembaga pemerintah AS tersebut lebih dulu mengucurkan hibah US$2 juta untuk desain awal infrastruktur kota pintar Nusantara.
Pemerintah Indonesia memposisikan Nusantara sebagai kota baru yang sejak awal dirancang berbasis teknologi digital dan prinsip keberlanjutan. Dukungan internasional, termasuk dari AS, dinilai penting untuk mempercepat penyusunan standar teknis, tata kelola data, serta model pembiayaan proyek digital berskala besar.
Kepala OIKN Basuki Hadimuljono mengatakan hibah ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan mitra global terhadap konsep pembangunan ibu kota baru.
“Visi kami jelas: Nusantara harus menjadi kota yang hijau, berkelanjutan, dan secara fundamental cerdas,” ujarnya di Nusantara, Kamis.
Melalui pendanaan tersebut, tim proyek akan menyusun sejumlah dokumen strategis, antara lain Smart City Enterprise Architecture, paket pengadaan siap implementasi (Procurement-Ready RFP Packages), model investasi dan pembiayaan, kerangka kerja berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), peta jalan peningkatan kapasitas, hingga tahapan implementasi. Seluruh dokumen ditujukan untuk memastikan pengembangan sistem kota cerdas berjalan terstruktur dan transparan.
Program ini melibatkan konsorsium internasional yang dipimpin Eficens Systems Inc, bersama Frost & Sullivan, ASECH Indonesia, Mirekel, serta PT Searce Technologies Indonesia yang menjadi mitra Google Cloud Platform.
Anggota Dewan Frost & Sullivan Amerika sekaligus direktur proyek, Subhranshu Sekhar Das, menilai Nusantara berpotensi melampaui konsep kota pintar konvensional.
“Nusantara dapat berevolusi menjadi Cognitive City. Agentic AI dan platform pengetahuan terfederasi akan memainkan peran penting dalam membentuk cara kota belajar, melakukan simulasi, dan terus mengoptimalkan tata kelola, infrastruktur, serta layanan publik,” katanya.
Hibah terbaru ini merupakan bagian dari rangkaian dukungan USTDA terhadap pembangunan Nusantara. Pada September 2024, lembaga tersebut juga mendanai pengembangan pusat komando terpadu yang melibatkan tujuh perusahaan teknologi asal AS, sebagai bagian dari upaya membangun fondasi sistem digital kota sejak tahap awal pembangunan fisik.

0Komentar