![]() |
| Sistem rudal jarak menengah Typhon milik Angkatan Darat AS tiba di Luzon Utara, Filipina, dalam rangka latihan Salaknib pada April 2024. | CAPT. RYAN DEBOOY/US ARMY |
Amerika Serikat berencana menempatkan sistem rudal canggih dan sistem tanpa awak tambahan di Filipina sebagai bagian dari upaya memperkuat pencegahan di Laut China Selatan. Rencana ini diumumkan kedua negara pada Selasa (17/2) dalam pernyataan bersama setelah Dialog Strategis Bilateral Filipina–AS ke-12 di Manila, sebagaimana dilaporkan Associated Press.
Pertemuan tingkat tinggi itu digelar pada Senin (16/2) dan dihadiri pejabat senior pertahanan serta diplomasi dari kedua negara. Dalam agenda tersebut, Manila dan Washington memaparkan rencana kerja sama pertahanan untuk 2026, termasuk latihan militer bersama, dukungan terhadap modernisasi angkatan bersenjata Filipina, serta komitmen untuk meningkatkan penempatan sistem rudal dan sistem tanpa awak milik AS di wilayah Filipina.
Sekutu mengecam aktivitas Beijing
Dalam pernyataan bersama, kedua sekutu menyebut adanya “aktivitas ilegal, koersif, agresif, dan menipu” oleh China di Laut China Selatan. Mereka menilai aktivitas itu berdampak pada stabilitas kawasan. Selain itu, keduanya juga kembali menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
Laut China Selatan selama ini menjadi jalur pelayaran strategis dengan nilai perdagangan triliunan dolar AS setiap tahun. Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Taiwan memiliki klaim tumpang tindih dengan China di perairan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, insiden antara kapal penjaga pantai Filipina dan China terjadi berulang kali, terutama di sekitar Second Thomas Shoal dan wilayah lain yang disengketakan.
Duta Besar Filipina untuk Washington, Jose Manuel Romualdez, mengatakan para pejabat membahas kemungkinan penempatan “peluncur rudal AS yang telah ditingkatkan” pada tahun ini. Ia menyebut sistem itu berpotensi dipertimbangkan untuk dibeli Filipina di masa mendatang.
“Ini adalah jenis sistem yang sangat canggih dan akan ditempatkan di sini dengan harapan bahwa, ke depannya, kami akan dapat memiliki sistem kami sendiri,” kata Romualdez kepada Associated Press.
Kekhawatiran China
Langkah ini menambah daftar kerja sama militer yang sudah berjalan. Pada April 2024, Angkatan Darat AS menempatkan sistem rudal jarak menengah Typhon di Luzon utara. Sistem berbasis darat itu mampu meluncurkan rudal Standard Missile-6 dan Tomahawk Land Attack Missiles dengan jangkauan lebih dari 1.000 mil, yang mencakup sebagian wilayah China. Setahun kemudian, peluncur rudal anti-kapal juga dipasang di Filipina.
Beijing berulang kali menyampaikan keberatan atas penempatan peralatan militer AS tersebut. Pemerintah China menilai sistem itu berisiko mengganggu stabilitas kawasan dan meminta agar dicabut.
Namun Presiden Ferdinand Marcos Jr. menolak tuntutan itu. Pada Januari 2025, ia menyatakan Filipina hanya akan mempertimbangkan pengembalian sistem Typhon jika China menghentikan apa yang ia sebut sebagai “perilaku agresif dan memaksa” di Laut Tiongkok Selatan.
Sejumlah analis keamanan, seperti dikutip Reuters, menilai pernyataan itu lebih sebagai pesan politik karena kecil kemungkinan Beijing mengurangi aktivitas maritimnya dalam waktu dekat.
Pencegahan, bukan provokasi
Romualdez menegaskan bahwa penempatan tambahan sistem rudal tersebut bukan ditujukan untuk memicu ketegangan baru.
“Ini murni untuk pencegahan,” ujarnya. “Setiap kali Tiongkok menunjukkan agresi apa pun, itu hanya memperkuat tekad kami untuk memiliki jenis-jenis ini.”
Di sisi lain, China terus meningkatkan patroli dan kehadiran maritimnya di wilayah yang diklaimnya hampir seluruhnya melalui garis sembilan putus (nine-dash line), klaim yang telah ditolak Mahkamah Arbitrase Permanen di Den Haag pada 2016. Putusan itu menyatakan klaim historis Beijing tidak memiliki dasar hukum, namun China menolak mengakuinya.
Kerja sama pertahanan Manila dan Washington sendiri mengacu pada perjanjian Mutual Defense Treaty 1951, yang memungkinkan kedua negara saling membantu jika salah satu diserang. Dalam beberapa tahun terakhir, akses pasukan AS ke pangkalan militer Filipina juga diperluas melalui Enhanced Defense Cooperation Agreement.
Saat ini, kedua negara menyatakan komitmennya untuk memperdalam koordinasi pertahanan, sembari menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas dan kebebasan navigasi di kawasan Indo-Pasifik.

0Komentar